[BONUS] Saya, Laut, dan Perjalanan
Gelombang tinggi berkekuatan dahsyat menjelang pasang
Foto ala-ala di pantai Jung Wook
Muhammad Rais Syam
15515061 / Teknik Kelautan ITB 2015
Tulisan ini didedikasikan untuk memenuhi tugas UAS mata kuliah OS3204 Oseanografi Indonesia oleh Dr.rer.nat. Mutiara Rachmat Putri.
Fyi (for your information) makna implisit dari kata bonus tsb sebenarnya sebagai tambahan tugas blog demi mendongkrak nilai Oseanografi Indonesia (OSIN) yang hampir mencapai nilai A hehe. Eitss, selain demi nilai, saya ingin berterima kasih kepada Bu Mutiara selaku dosen OSIN karena dengan adanya tugas ini menjadikan motivasi menulisku menjadi lebih berkobar.
Sebelumnya saya meminta maaf dikarenakan baru mengetahui info tambahan tugas dari teman dekat saya Fayed malam ini dan berhubung ada urusan mendadak pada malam itu juga, saya dapat menyelesaikannya pada Sabtu, 27 Mei 2017 pukul 21.00 WIB (± 90 menit) tentunya dengan segala kekurangannya. InsyaAllah tulisan ini akan disunting kembali maksimal 3 hari ke depan (30 Mei 2017).
Di post sebelumnya, saya bercerita mengenai perjalanan saat berada di Phuket, Thailand yang notabenenya berada di luar wilayah Indonesia.Kenapa begitu? Anti-Nasionalisme kah? Atau biar dibilang gaul dan keren? Bukan, sama sekali saya tidak bermaksud akan hal itu. Tetapi, karena memang pengalaman dan memoriku tentang laut Indonesia kurang berkesan. Alasan dibalik semua ini ialah kebetulan saya sering main ke pantai di sekitar tanah kelahiranku, Medan. Pantai di sekitar Medan berdekatan dengan Selat Malaka yang setiap harinya menjadi jalur bagi kapal-kapal raksasa untuk bongkar muatan dan tidak langsung berpapasan dengan laut lepas. Hal inilah yang menyebabkan pantai di bagian barat Medan tampak begitu kotor dengan warna air yang kecoklatan.
Alhamdulillah baru beberapa hari ini, saya mendapatkan pengalaman yang sangat berkesan mengenai kekuatan dan pesona keindahan Laut Indonesia. Ya, perjalanan ini masih bersama dengan keluarga saya di kampus yaitu Ankara (Teknik Kelautan 2015). Pada tanggal 18 Mei 2017 – 22 Mei 2017, kami ber-16 mengisi liburan semester 4 dengan pergi ke Jogjakarta menggunakan kereta api. Ke-15 orang itu ialah Ical, Fayed, Tata, Pandu, Anit, Dewinta, Hilmi, Alyaris, Alyadi, Aan, Aldo, Surya, Fava, David dan Agil. Intinya kami ingin lari sejenak dari segala kehectican dan kechaosan semester 4 yang fana haha.
Kami ber-16 menginap di guest house daerah Pugeran Timur dan menyewa mobil untuk 4 hari ke depan. Disana, kami dipandu Hilmi, teman kami yang memang orang asli Jogja dan tak lupa pula dengan itinerary yang telah kami persiapkan. Singkat cerita, pada hari ketiga di Jogja, Minggu, 21 Mei 2017 kami sepakat untuk pergi ke salah satu pantai selatan Jawa yang terkenal dengan keganasan dan Nyi Roro Kidulnya itu. Perjalanan membutuhkan 2,5 jam perjalanan dari lokasi guest house kami.
Sesampainya di sana, saya langsung tertegun melihat keindahan panorama yang disajikan. Suara gemiricik ombak yang merdu, pasir putih bening, warna biru yang adem dan ketenangan yang disajikan begitu nikmat. ”Wediombo” ialah pantai yang kami kunjungi. Wediombo yang berarti tanah atau pasir yang luas, malah didominasi oleh gugusan bebatuan yang menghiasi sebagian besar hamparan pantai. Namun, disinilah saya melihat keunikan dan daya tarik pantai ini dengan penampakan bebatuan karangnya. Disana, kami banyak menghabiskan waktu dengan bermain air, foto ala-ala demi menunggu sunset tiba. Sungguh menyenangkan berada di sana *happyface*.
Paragraf di atas mungkin memperlihatkan pengamatan saya sebagai masyarakat awam. Namun, izinkan saya berbagi ilmu serta memberikan perspektif sebagai mahasiswa Teknik Kelautan ITB yang pastinya mendapat kesempatan lebih untuk mempelajari dan mendalami ilmu laut itu sendiri terlebih lagi laut di wilayah Indonesia.
Berikut di bawah ini merupakan beberapa fakta-fakta menarik mengenai kondisi Pantai Selatan Jawa :
Pesisir Selatan atau Laut Selatan Jawa yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Berpotensi terjadinya bencana gelombang tsunami seperti di Pangandaran Jawa Barat tahun 2006
Karakter ombak laut di pesisir selatan Pulau Jawa umumnya berenergi tinggi dengan ombak besar. Ini karena pantai berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Pasang surut di Pantai Selatan adalah Tipe Mixed Semidiurnal, atau cenderung semidiurnal di mana dalam sehari terjadi dua kali pasang dua kali surut dengan waktu yang berbeda.
Arus yang terbentuk sangat unik, dari arus sepanjang pantai yang kecepatannya sangat tinggi sampai dengan rip current yang mampu menenggelamkan orang yang berada di sana.
Dari beberapa fakta di atas, dapat diketahui bahwa banyaknya korban yang terseret ke tengah laut di Pantai Selatan Jawa oleh masyarakat umum selalu dikaitkan dengan legenda Nyai Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan). Namun bagi para ilmuwan ahli Teknik Kelautan (Ocean Engineering) dan Ahli Kelautan (Oceanography), fenomena tersebut — dipandang dari sudut kacamata keilmuan — ternyata ada hubungannya dengan yang disebut sebagai arus balik/arus seret(Rip Current).
Rip Current adalah arus balik yang terbentuk akibat arus datang tegak lurus garis pantai dan menemui garis pantai yang melengkung. Arus ini dapat menyeret seseorang yang sedang berenang ke tengah laut. Jika anda terjebak dalam arus ini usahakan tetap tenang dan jangan berenang melawan arus. Ikuti saja arus tersebut dan ketika sudah melemah segera berenang ke pinggir pantai dengan jalan memutar. TAMAT.
http://klikgeografi.blogspot.co.id/2015/06/longshore-current-dan-rip-current.html
http://coastalenvironment.blogspot.co.id/2011/01/karakteristik-kondisi-oseanografi-dan.html
http://jogjapedia.net/wisata-pantai/pantai-wediombo-eksotisme-pantai-berbatu-karang-dan-pasir-putih/