Liburan : Menatap Mata Penuh Cinta
✨ Kadang, yang membuat perjalanan terasa hambar bukanlah jarak yang jauh atau biaya yang besar, melainkan mata kita yang terlalu sibuk menatap layar, hingga lupa melihat wajah orang-orang di sekitar.
Sebagai manusia yang hidup di zaman sekarang, di era di mana teknologi semakin menggila dan ponsel canggih jadi sahabat setia, melakukan sebuah liburan tanpa gawai rasanya hampir mustahil. Jujur saja, kita terlalu bergantung padanya untuk komunikasi, untuk hiburan, untuk momen, dokumentasi, bahkan untuk sekadar menunjukkan arah jalan agar tak tersesat.
Tapi, pernah terbayang olehku, bagaimana rasanya jika suatu hari aku benar-benar berlibur tanpa harus sibuk membuka benda kotak bercahaya itu. Perjalanan sederhana, jarak yang tidak terlalu jauh, tapi ditemani orang-orang terkasih. Duduk bersama, bercengkrama, tertawa lepas tanpa jeda notifikasi. Rasanya seperti kembali ke masa lalu, di mana kebersamaan begitu jujur tanpa harus disaksikan layar. Bisa juga untuk perjalanan jauh, keluar negeri misal.
Dan mungkin, agar momen tetap bisa terabadikan, aku akan menyewa seorang fotografer perjalanan. Biarkan dia yang memotret potret kebersamaan itu potret jujur yang penuh harmoni, yang menangkap canda, tawa, bahkan haru yang mungkin hadir begitu saja. Foto-foto yang tak dibuat-buat, yang lahir dari momen nyata, bukan dari arahan "ayo senyum dulu, ayo gaya bebas, ayo gaya bahagia aaa".
Sebab, barangkali kita sering lupa betapa berharganya memandang wajah orang terkasih. Di tengah rutinitas, kita jarang benar-benar memperhatikan mata mereka yang berbinar, garis senyum yang tulus, atau bahkan aura kebahagiaan yang terpancar saat sedang bersama. Liburan tanpa layar bisa memberi ruang untuk itu: menikmati wajah-wajah yang kita sayangi, tanpa gangguan, tanpa terburu-buru, seolah waktu berhenti sebentar agar kita bisa meresapi hangatnya kebersamaan.
Bayangkan betapa indahnya, sebuah liburan yang tidak dihabiskan dengan menunduk menatap layar bercahaya, melainkan dengan menatap wajah orang yang kita cinta. Karena sejatinya, perjalanan bukan hanya tentang tempat yang kita tuju, tapi tentang siapa yang berjalan bersama kita.
( Walau POV ku aku adalah orang yang payah untuk bercengkrama dan bercerita, tapi setidaknya fokus untuk mendengar tanpa membuka gawai adalah adab yang sulit sekali terealisasi saat ini. )
Dan tetap, aku tak bisa menutup mata, gawai memang penting. Untuk berkabar, untuk berjaga-jaga jika tersesat, untuk hal-hal darurat yang memang tak bisa digantikan. Namun, seandainya aku diberi kesempatan memilih, aku ingin sesekali benar-benar menikmati perjalanan yang bebas dari distraksi layar kecil itu.
✨ Karena kelak, yang akan membekas bukanlah berapa banyak foto di galeri hp, tapi berapa dalam kenangan yang tertanam di hati. Dan bukankah kenangan paling indah tercipta dari wajah-wajah bahagia yang kita pandang dengan penuh cinta, bukan dari cahaya layar yang dingin dan fana?