💕

★

JVL

Kiana Khansmith
Today's Document
Claire Keane
Stranger Things
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
I'd rather be in outer space 🛸
Keni

pixel skylines
noise dept.
we're not kids anymore.
Not today Justin
RMH
Misplaced Lens Cap
will byers stan first human second
YOU ARE THE REASON
wallacepolsom
Show & Tell

JBB: An Artblog!

seen from Germany

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Poland

seen from South Korea

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Brazil

seen from Australia

seen from Türkiye
seen from China
seen from Singapore
seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Italy
seen from Türkiye

seen from Singapore
seen from United States

seen from United Kingdom
@stuvword
💕
"Don't quit, because there's no exit way!" . Islam pun mengajarkan untuk menyelesaikan apa-apa yang sudah kita mulai sebelumnya, mengajarkan untuk bertanggungjawab atas amanah yang telah Allah bebankan. . Dan janji-Nya tidak ada beban yang diluar batas kesanggupan. 💪 . #islam #amanah #semangatLillah #janjiAllahitupasti
"Yes people constantly change, but promise don't." . Itulah kenapa orangtua kita, kakek-nenek kita, meski melihat pasangannya udah menua, gak semenarik saat muda, tapi hubungan mereka masih tetap langgeng dengan keromantisan yang sama seperti ketika pertama kali jumpa. . Bukan hanya karena cinta, tapi janji dan komitmen yang mengikat mereka. . Jadi, nanti pilihlah pasangan yang gak sekadar mengumbar cinta, tapi juga siap berkomitmen penuh. . #people #promise #foreverlove #nikahajadulu
"Hai Muhammad! Hiduplah sesukamu, tapi engkau pasti mati. Berbuatlah sekehendakmu, tapi engkau kan dimintai pertanggungjawaban. Cintailah siapapun yang kau dambakan, tapi kau pasti kan berpisah darinya." (Jibril, 'Alaihis Salaam)
Janji yang selalu kita baca tiap sholat . إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِين . "..... Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam." (QS. Al-An'am: 162) . Semoga tidak hanya sampai di ucapan, tapi juga amal perbuatan #berlombalombadalamkebaikan #ramadhangoals َ
"Laki-laki itu berapapun ukurnya, mau setua apapun, tetap gak bisa meninggalkan hobinya, tetap masih kayak anak kecil..." -Bude . . ...apalagi depan istrinya :3 (at Chibadak, Jawa Barat, Indonesia)
"Ini lho dek namanya pongpongan. Lucu tuh liat :D" [Menemukanmu] Mencarimu ibarat menerka-nerka bintang mana yang paling terang. Dia yang terdekat dengan bumi, kamu yang mungkin ada didekatku. Menggapaimu selalu kucoba dalam diam, menengadahkan tangan di sela waktu terjaga. Memperjuangkanmu dengan terus menjadi baik. Saling memperjuangkan harmoni impian. Hingga menemukanmu... Menemukanmu ibarat menjejak diatas pasir putih sambil mencari kerang yang tertatih. Namun, tetiba yang kutemukan mutiara biru dibalik jilatan ombak. Menemukanmu adalah perjalanan panjang yang nyatanya dekat. Seperti Siti Hajar berlari tujuh kali dari Shafa ke Marwa,namun semburat air ada di telapak Ismail. Sekarang... Telah menemukanmu tak terdefinisi oleh satu kata bahagia. Telah menemukanmu adalah jawaban dari-Nya atas doa-doa penantian. Kelak... Akan melepasmu dengan ikhlas adalah satu-satunya cara mengembalikan pinjaman anugerah terindah dunia. Dan nanti... Akan menemukanmu lagi di peristirahatan abadi. --yang akan selalu menemukanmu dimanapun kamu berada (at Pantai Mpurancak, Mlonggo - Jepara)
[Sang Penggenggam Bara Api]
Dia dikenal karena hijab lebar membungkus auratnya
Bukan untuk hiasan pelapis tubuh
Apalagi sebagai busana ketenaran
Tapi, semata-mata wujud ketaatan dan pengharapan penuh pada ridho-Nya
Sekarang orang bilang baju kurung itu sulit diterima
Karena menghambat kelincahan gerak gerik tubuh
Tapi, dia berbeda,
Dia tetap bersandar pada prinsip kemahakuasaan-Nya
Bahwa ada yang akan memampukannya
Untuk selalu berdansa anggun dalam rotasi kesibukan dunia
Dia disebut-sebut di antara kumpulan jamaah
Atas dasar perlekatan akhlakul karimah pada dirinya
Tapi, sedikitpun tidak membuatnya memendam riya
Sebaliknya, semakin tersungkur dan tertunduk di hadapan Rabbnya
Dia dikagumi sebab ketajaman dan kecemerlangan pemikirannya
Menimpali isu-isu kontemporer yang sedang menggurita
Menanggapi atas dasar nash-nash sahih
Berdiri tegak menyerukan al-Haq
Meski saat ini semakin sulit beramar ma'ruf nahi munkar
Karena tidak ada lagi perisai yang menjaga ketakwaan
Dia tetap tidak terjamah kezaliman peradaban
Masih bertahan untuk bersegera menghapus duka ummat akhir zaman
Maka, sosoknya seolah bermekaran di tengah gurun Fir'aun
Air mukanya merah padam diantara seribu wajah kemunafikan
Dia tampil di barisan depan saat suara pemersatu dikobarkan
Meski kenyataannya tangan kekuasaan seringkali membuatnya bungkam
Dia sungguh tidak peduli bila harus hidup dalam keterasingan
Karena baginya Allah selalu menemani perjalanan dakwahnya
Dia yakin akan nikmat Jannah selepas berlelah-lelah mengejar ridho Ilahi Rabbi
Dialah Muslimah Sang Penggenggam Bara Islam
Perempuan itu menangis lama sekali, hampir sepertiga malam. Matanya sembab, merah, dan seperti tiada lagi air tersisa di sana. Detik melambat. Malam jadi terasa begitu panjang.
Dan perempuan itu terus menangis. Membicarakan apa saja yang memenuhi kepalanya. Menumpahkan semua keluh, kesah, dan sedikit sumpah serapah—entah pada siapa. Mempertanyakan segala pertanyaan yang menusuk-nusuk batinnya silih berganti pada lubang luka yang sama. Semuanya dilakukan dengan tersedan, napasnya terdengar semakin payah.
Aku memilih berbaring pada jarak tertentu, membiarkan perempuan itu memeluk dirinya sendiri. Tak ada kata, atau bujuk rayu apa pun yang bisa menghentikan tangisnya. Tak ada humor yang bisa membuatnya tertawa, atau sekadar menyunggingkan senyum di ujung bibirnya. Tak ada raba yang sanggup menenangkannya.
Jadilah aku pecundang yang hanya bisa menunggu. Mengawasi perempuan itu dengan perasaan cemas dan takut. Menanti dirinya kehilangan daya. Membujuk sisa-sisa malam untuk segera menelan tubuhnya yang lunglai, membawanya jauh dari pusat kesadaran untuk sejenak menepi dan beristirahat. Sehingga ketika gema azan hadir bersahutan, ia bisa cepat-cepat bangun, membasuh tubuhnya, bersujud, untuk kemudian melanjutkan tangisnya.
Kekasih, perempuan itu adalah ibumu. Dan peristiwa yang baru saja kuceritakan telah terjadi berkali-kali serupa déjà vu yang enggan pergi. Menjadikanku lelaki paling tak berguna di dunia.
Bagaimana meredakan tangis seorang perempuan karena rindu yang begitu dalam adalah pertanyaan yang tak kutemukan jawabnya. Atau, jika ini adalah ujian, ini ujian yang aku tak pernah lulus.
Kekasih…
Barangkali kehadiranmu, dan hanya kehadiranmu yang bisa menyembuhkan lukanya.
***
Pertanyaan Tentang Kedatangan adalah sebuah memoar penantian. Dipersembahkan untuk kita yang pernah, sedang, dan kelak akan diserang berbagai pertanyaan dalam hidup. Pertanyaan-pertanyaan yang pada titik tertentu membuat kita merasa ingin menarik diri dari pergaulan, mengasingkan diri sejauh mungkin.
Bagi saya, buku ke-6 ini spesial karena saya berhasil merayu istri saya Vidia Nuarista untuk ikut menumpahkan perasaannya.
Buku ini bisa dipesan melalui Lampudjalan pada tanggal 5 April 2017. Pemesanan bisa dilakukan via Whatsapp 08119923400 atau Official LINE @Lampudjalan (jangan lupa pakai @).
Semoga, buku ini bisa jadi pengingat untuk terus berbaik sangka kepada Allah. Dan bersyukur atas segala ketetapan-Nya. :)
[Bukan Angan-angan]
Aku belum pernah seberharap seperti saat ini...
Lebih dari harapan ingin segera menyelesaikan studiku
Bahkan lebih dari semenanti kehadiranmu sebagai teman hidupku
Melebihi apapun...
Melebihi siapapun...
Aku belum pernah seberharap seperti saat ini...
Tentang nafas kehidupan baru yang menggelitik rahimku
Tentang kehadiran si kecil yang akan melengkapi harmoni rumah tangga kita
Aku sungguh ingin merasakan detak nadinya yang seirama dengan milikku
Atau ingin sekali mencicip asam manis, pahit getir, senang susah masa-masa itu, bersamamu
Ah, mungkin aku terlalu berlebihan, tapi rasanya aku mulai memiliki naluri para ibu
Aku belum pernah seberharap seperti saat ini...
Karenanya, ini bukan angan-angan belaka
Tapi, pengharapan penuh kepada Rabb Yang Maha Meniupkan ruh
Dan akan ada misi terstruktur untuk menggapai visi yang mulia itu, melahirkan generasi pejuang agama Allah (sesuai yang di CVmu)
Maka bantu aku...
Bantu aku mengajakmu untuk berlelah-lelah dalam ikhtiar kita
Bantu aku mengikutkanmu dalam sujud panjang ini dengan tawakkal Illallah
Yuk, bisikkan harapan kita pada setiap penghujung malam agar ia melesat bak anak panah. Sesuai janji-Nya, tidak ada harapan yang tidak terwujudkan
Songsong waktu dengan ibadah di saat fajar karena keutamaannya mengalahkan dunia dan seisinya
Mulailah pagi hari kita dengan empat rakaat untuk mengetuk pintu rezeki. Karena anak juga bagian dari titipan rezeki-Nya
Jadikan setiap langkah berteman tasbih, tahlil, dan tahmid
Dan sempurnakan dengan cahaya ilmu
Sebagai bentuk mengharap ridha-Nya, i'tikad baik untuk memantaskan diri kita sebagai ayah dan bunda
Biidznillah, semoga Allah segera hadirkan sosoknya di waktu terbaik :)
--dari calon orangtuamu yang menantimu dalam ketaatan Jum'at barakah, waktu mustajabnya doa. Diselesaikan ba'da isya, 16 Maret 2016
Bukan Ali dan Fatimah (bag. 2)
"Itu gimana ceritanya? Kok bisa tiba-tiba udah nyebar undangan aja?"
Pada postingan sebelumnya saya baru sadar belum jawab pertanyaan diatas haha. Oke jadi kalau setiap ada pertanyaan itu muncul, jawaban saya, "Yaa gitu deh, melalui serangkaian panjang proses ta'aruf dan setumpuk perjuangan :')"
Lantas, kalau jawaban saya demikian, pertanyaan dari teman-teman saya akan berlanjut, "Wah... Gimana prosesnya? Ceritain dong!"
Emm gimana yah cerita gak yah-_-
Jujur walaupun saya bosan dengar pertanyaan yang sama setiap bertemu mereka, tapi entah kenapa saya gak pernah merasa bosan buat bercerita mungkin karena kisahnya begitu indah kali yaa :3 dan saya juga senang banget kalau bisa berbagi pengalaman plus selipan ilmu :)
Back to story... Intinya adalah ada seorang ikhwan (yang sekarang menjadi suami saya hehe) bertanya kepada saya melalui 'beberapa' perantara perihal mengajak ta'aruf. Katanya sih ya, ini masih katanya loh, dia ada ketertarikan gitu ke saya *haraptahanbapernya
Terus gimana respon saya? Ya shocklah!!! Udah berusaha menyugesti diri, 'Tenang yu tenang. Jangan panik!' tapi, tetep aja panik. Antara shock, seneng, bingung, sedih, terharu, cemas, berasa mimpi, nano nano deh. Semua emosi jadi satu. Ya bayangin aja, yang udah disuka dari lama, agak diharapin, tapi gak menunggu-nunggu juga, eh tiba-tiba ngajak nikah. Gimana gak bikin stress coba??? Wkwkwk
Selanjutnya apa yang saya lakukan? Untuk beberapa saat hanya terpaku menatap layar smartphone *hening. Sampai sadar harus bergerak akhirnya pertama-tama menghubungi orangtua, menekan-nekan layar sambil gemetaran, menebak-nebak 'apa respon orangtua ya?'
Hayo, apa coba?
'Wah... Selamat ya, Nak! Yaudah terima aja, nikah sana!'
Ya enggaklah! Jangan mimpi! Haha :'D mereka komen ini itu dulu bilang gak setuju dengan beribu alasan :'( sampai akhirnya saya memutuskan pekan ini harus pulang ke rumah, lebih enak musyawarahnya tatap muka (niatnya mau pasang wajah memelas biar disetujuin)
Singkat cerita, setujulah mereka hingga sampailah kita di pelaminan eh salah sampailah kita di perpisahan T.T ternyata belum waktunya kita menjadi pasangan dunia akhirat
Kenapa yaa kira-kira? Rahasia... Nanti judul diatas gak kebahas kalau diceritain semua sekarang hehe
Gantian ah sekarang saya yang nanya, mau mengajak pembaca buat berpikir. Coba jawab pertanyaan ini dengan cepat ya, maksimal satu detik
Siap?
Mari mulai!
Mencintai atau dicintai?
Memberi atau menerima?
Menjadi baik atau mendapatkan yang baik?
Mengajarkan atau diajarkan?
Mengagumi atau dikagumi?
Shalihah atau shalih?
Membahagiakan atau dibahagiakan?
Cantik atau ganteng?
Aku atau kamu?
Good job! Keep your answers :)
Terus maksudnya apa sih?
Nah, dari kesembilan pertanyaan diatas para pembaca bisa tau, 'apa orientasi pernikahan saat ini?'
Hah, gimana tuh? Ya, para pembaca bisa tau wedding goals yang ingin dituju saat ini
Antara obsesi atau ekspektasi
Obsesi artinya visi pernikahan yang sekarang ada di benak pembaca berpihak pada diri sendiri
Sementara ekspektasi kebalikannya visi menikah berfokus pada si calon pasangan
Contoh, pilih mencintai atau dicintai? Kalau jawabannya mencintai artinya berfokus pada diri sendiri. Apapun yang terjadi akan selalu mencintai (dalam hal kehidupan berumah tangga). Nah ini sifatnya obsesi
Sebaliknya, kalau jawabannya dicintai artinya hanya berupa harapan (ekspektasi) dan belum ada obsesi untuk mencintai di dalamnya
Contoh lain, pada pertanyaan menjadi baik atau mendapatkan yang baik, mungkin pembaca sudah bisa menebak arah arti pertanyaan tersebut. Ya, kalau jawaban menjadi baik artinya akan ada sebuah langkah atau bahkan visi besar untuk mewujudkan obsesi menjadi baik
Sementara ekspektasi ingin mendapatkan yang baik, langkah pencapaiannya tidak bisa ditunaikan secara langsung
Eits, tahan dulu komennya hehe
Nah, terus mana yang tepat? Keduanya tepat hanya saja sebuah ekspektasi harus pada porsinya, tau tempatnya, atau bahasa alusnya mah 'tau diri lah!' haha
Kenapa gak dari sekarang kita pasang target buat diri sendiri aja? Kenapa gak kita berobsesi menjadi pribadi yang baik, shalih/shalihah, sehingga urusan siapa jodohnya biar tangan Allah yang bekerja? (sambil tentunya berharap dibersamakan dengan yang baik)
Boleh-boleh saja memiliki ekspektasi tinggi ingin jodohnya begini lah begitu lah, tapi sudah berkaca pada diri sendiri belum? Apakah kriteria tersebut sudah ada pada diri kita? Kita perlu berhati-hati lho pada ekspektasi, ketika memasang standar jodoh yang terlalu tinggi, tapi tidak dilandasi oleh perbaikan standar diri sendiri. Akhirnya yang terjadi malah berangan-angan semu
Ibarat sedang bercermin. Kalau kita bercermin pada cermin yang permukaannya rata, halus, pinggirannya terdapat ukiran indah, apa yang terjadi? Apa yang kita rasakan? Tentunya bayangan yang dihasilkan juga akan nampak indah, bukan? (terlepas dari keindahan wajah kita wkwk)
Sebaliknya, coba bercermin dengan cermin yang retak sana-sini, sudah hancur ukiran disekelilingnya, apa yang terjadi? Betul sekali, bayangan kita bersifat semu, tegak, dan retak
Jodoh juga sama. Nanti siapapun jodohnya itu pasti persis dengan diri kita (kecuali dari segi jenis kelamin ya hehe). Nah, tersebab jodoh adalah cerminan pribadi, maka fokus saja dengan perbaikan cermin milik sendiri agar nanti di saat yang tepat kita memiliki bayangan yang sama baiknya dengan kita
Sebelumnya, cerita saya diatas sebagai ilustrasi singkat proses untuk melangkah menjadi pengantin muda itu tidaklah mudah
Karena kami bukanlah Ali dan Fatimah yang dididik dengan metode pengajaran Rasulullah Muhammad SAW. ataupun paman beliau (Abu Thalib)
Kami hanya segelintir orang yang berusaha mengikuti jejak mereka. Tentang berproses menjadi baik, terus menerus memoles cermin hati
Maka, wajar bila sosok Ali meski dengan minusnya harta mendamba Fatimah karena memang Ali merupakan sosok yang kaya hatinya. Wajar pula seorang Fatimah malah menanti kedatangan Ali yang biasa-biasa saja karena bukan harta yang dilihatnya, tapi hati dan kesungguhan nyata sebagai pejuang agama Allah
Namun, kami masih tetap bukan Ali dan Fatimah. Maka, dahulu harap-harap cemas penantian kami akan sosok pasangan hidup tidak berstandar seperti Ali maupun Fatimah. Hanya saja, harapan akan mendapatkan yang sepadan, sama-sama sedang meniti jalan perbaikan layaknya Ali dan Fatimah
Kami bukan Ali dan Fatimah. Hanya saja dahulu, saat ini, hingga nanti terus berusaha meniru, meniru menjadi sebaik Ali dan Fatimah
Maka dimanapun para pembaca sekalian yang juga sedang menanti sosok Ali yang lama diidam-idamkan, percayalah, tidak perlu risau akan kehadirannya. Karena bila tidak dengan Ali yang diinginkan, yakinlah dia adalah Ali yang Allah pilihkan menjadi pasangan terbaik bagi dunia akhirat kita :)
Wallahu’alam bisshowwab[]
Dalam sebuah hubungan, terkadang jarak diperlukan Agar saat bertemu kembali, bisa saling bertanya "Siapa yang hari ini merasa paling rindu?" Atau saling bertaruh, yang bilang rindu duluan, dia yang menang :D . . . Pada akhirnya sebab jaraklah kita selalu ingin pulang ke rumah #bertemuberpisahkarenaAllah
Puisi Ini Milikmu
Inginnya aku bersaksi bahwa puisi ini milikmu,
Mengakui semua tulisanku bercerita tentangmu
Namun, aku terlalu sangsi
Menyadari wajah rembulan masih malu-malu melirik dari balik punggung mentari
Aku juga selalu ragu
Membuatku terjebak di antara harapan dan terkaan semu
Apalah daya tak mampu menggariskan hidup kita
Membuatku berdosa jika tanpa sengaja mengutuk Pencipta
Aku pun penuh kepura-puraan
Hari ini mendamba, esok lusa boleh jadi tak bersisa rasa
Meski membuncah dada jika kau memanggil nama
Namun, terkadang aku tak suka suara-suaramu
Siapalah aku tak kuasa menggenggam hati
Maka pasrah sudah kepada Dia yang jiwaku berada di jemari-Nya
Sayang, tak bisa kupungkiri
Puisi ini tetap milikmu
Karena dia tercipta saat sedikit bernostalgia cerita kita
Tulisanku juga tentangmu
Meski belum saatnya tersampaikan
Kelak ada waktu yang dipilihkan
Untukmu membacanya
Jika tidak denganmu
Maka cukup tersimpan rapi
Sebagai memori cinta yang mewangi
Diselesaikan ba'da isya
27 Februari 2016 | 20.33
Dusta jika aku berkata tidak pernah menuntut Pencipta
Intermezzo dulu. Salah satu bukti perasaan yang terpendam. Ternyata udah satu tahun berlalu, menyukainya diam-diam :')
Mencintai menulis karena jatuh hati pada kalam-Nya Semoga koleksi tulisannya bisa bertambah terus yaaa ;)
Bukan Ali dan Fatimah
Tulisan ini dibuat untuk sedikit menjawab rasa penasaran beberapa teman tentang kisah hidup saya, tentang awal mula cerita saya dan dia. Nah, biasanya nih pertanyaan klasik yang pertama kali muncul adalah
“Itu gimana awalnya? Kok bisa tiba-tiba udah nyebar undangan aja?”
And then, ya saya sih senyum-senyum aja setiap kali ditanya kayak gitu, udah biasa, karena pertanyaannya klasik jadi jawaban saya juga sangat klasik hehe.
Mulailah saya bercerita tentang perjalanan kami untuk meraih pernikahan impian eaaa. Tapi, mohon maaf disini saya belum bisa cerita dari awal hingga akhir karena perjalanannya sangat panjang, penuh lika kiri dan liku kanan.
Insya Allah nanti ceritanya akan berwujud potongan-potongan saja dan silakan pembaca yang merakit puzzlenya sendiri, jadi stay tune di postingan-postingan selanjutnya :D Oke karena yang ingin saya tekankan disini lebih mengarah kepada judul diatas.
Tentang kami yang tidak hidup di jaman Rasulullah seperti layaknya Ali dan Fatimah, juga tentang kami yang memang belum selevel dengan keimanannya Ali dan Fatimah, namun ada cerita tentang kami yang diam-diam saling berusaha menjadi baik, menutup rapat kisah hati, sampai saya yang mengikuti jejaknya Fatimah berujar,
“Mas, dulu adek menyukai seseorang, saking sukanya sampai sudah ikhlas kalau dia berjodoh dengan oranglain.”
“Oh iya? Yaudah sih dek sekarang kan sudah ada Mas.”
“Tapi, adek gak jadi mengikhlaskannya karena sekarang orang itu ada di hadapan adek, sedang menatap lekat mata adek, sambil terlihat agak bete hehe. Iya... orang itu Mas yang adek suka, adek kagumi dari dulu bahkan sebelum kita benar-benar bertemu.”
Dan si Mas pun speechless, tersenyum lebar :)
bersambung...
Comin'
Finally, i get my account back! Welcome! :)
Read more: http://sayingimages.com/kindness-quotes/