Mari Kita Namakan "Pertemuan"
Senin kemarin aku kembali datang bertemu dokter Anne. Sebenarnya jadwal untuk ke psikiater adalah Sabtu besok. Tapi karena satu obatku hilang entah di mana dia, akhirnya aku datang di hari Senin. Di hari itu sebenarnya aku mau merenung, tapi sayangnya uangku ga cukup dan kalau merenung duduk sendiri apesnya suka didatangin yang minta sumbangan.
Hari itu ramai, tetapi nggak semenyebalkan kalau harus konseling di hari Sabtu. Urutan ke delapan namaku dipanggil. Sebenarnya hari itu aku bertemu temanku, aku juga ingiiin sekali memberikan pendapatku tapi beliau buru-buru karena harus mengantar "seseorang" dan kesalnya pas sebelum berangkat aku harus bersihij pup kucing dan disalahin karena membuat dompet suami kecuci. Jujur aku udah capek disalahin hiks.
"Gimana perjalanan ke Bali dua minggu lalu?"
Aku bercerita kalau, biasanya aku akan tertekan kalau ada di keramaian. Ada di antara orang yang vokal atau aktif. Kenangan di masa itu masih ada dengan begitu jelas. Di Bali, aku juga hanya sebentar. Pekerjaan sebagai ghost writer yang nyatanya mengantung.
"Hm di Bali perjalanan pergi aku bilang ke diriku kalau 'Allah ada di dekatku jadi aku ga perlu khawatir' itu yang membuat diriku tenang dok. Aku juga ga ekspektasi tinggi, aku di hotel aja pun ga apa-apa karena saat itu uangku pas banget untuk pulang dari bandara ke rumah. Tapi ternyata afirmasi kalau aku percaya sama ketentuan Allah luar biasa banget. Aku dibayarin semuanya, aku juga nggak memaksa diriku untuk berbicara dan aktif. Semua itu di luar kendaliku. Jujur aku merasa nyaman, aku diam, senyum, jawab dengan malu-malu. Karena aku hanya bisa mengendalikan diriku. Dan aku jadi tahu pekerjaan ini belum tahu akan dibayar berapa,"
Dokter duduk termenung, aku juga kaget sama diriku. Loh kok aku jadi bijak begini. Kadang aku suka bete dan marah-marah tapi sekarang lebih ke "setelah ini aku harus gimana? Apakah perasaanku valid? Kalau aku marah apakah selesai? Kenapa kamu berpikir negatif yang nyatanya belum terjadi"
"Dok, nggak salah kan aku suka Kpop?"
Aku suka NewJeans. Semua lagunya. Aku membuat diriku senang, hal yang paling aku ga suka, bersihin rumah, masak, nyuci, bersihin pup kucing, semua kulalui dengan dengar lagu NewJeans. Saat suami ga mau anterin jalan-jalan yaudah aku sendiri jalan. Saat suami ketemu teman atau perjalanan dinas ke luar kota selama berhari-hari, yaudah aku juga bisa sendiri jalan-jalan. Aku bisa bahagia dengan caraku. Salah satunya ngefans sama NewJeans.
Dokter tertawa dan beliau membuatku berkaca-kaca karena aku diapresiasi
"Perkembangan yang sangat bagus loh inii. Saya senang dengarnya. Kamu nggak fokus ke masalah lagi tapi udah tau copingnya gimana"
Aku ga pernah menyadari ini adalah apresiasi. Tapi kenapa orang lain menyebut ini apresiasi.... Dokter adalah orang pertama yang berkata seperti itu. Rasanya kali itu aku mau nangis
"Suci, kamu harus sering-sering apresiasi dirimu. Puk-puk dirimu. Sambil berkata, kamu sudah berjalan begitu jauh dan berhasil melaluinya"
Jujur hari itu berat banget. Merasa kenapa aku disalahin terus kenapa aku ga diperhatiin, kenapa dan kenapa. Tapi kata dokter aku memiliki kemajuan! Aku masih tetap minum obat meskipun dokter bilang aku boleh hapus satu obatku.
Aku sudah berjalan sejauh ini, rasanya aku ingin segera bertemu kembali dengan diriku yang baru. Meskipun rasanya jujur aku merasa menjadi beban karena satu dan lain hal yang sama Allah belum dikasih jalan keluarnya. Tapi raut wajah dan perkataan dokter Senin lalu jadi membekas banget. Itu yang membuatku tersenyum dan lupa bagaimana aku yang bertanya mengapa aku menapaki jalan seperti ini ya?
Mungkin jawaban dari pertanyaan itu nanti akan dijawab