Belajar Agama Saja Tidak Cukup
Sudah lama sebenarnya gua “gatel” sama topik ini hehehe
Setelah benar-benar gua merenung kenapa masih jomblo di akhir tahun 2016 (wkwkwkwk boong deh), gua terlalu mikirin “kenapa, ya, ada saja mereka yang merasa sudah cukup dalam mempelajari apa-apa yang berhubungan dengan identitas agama mereka hanya karena status mereka telah berubah mengikuti jenjang pendidikan mereka?”
Kalau dipikir-pikir, ngapain juga ya gua belaga mikirin banget hal-hal yang gak ada sangkut-pautnya sama gua? Iya gak, sih? Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ya emang apa salahnya gua mikirin? Toh mikirnya juga pake otak yang ada di kepala gua.
Gini loh, Abang, Kakak, Ibu, dan Bapak yang saya cintai.. Saya mau ambil contoh dari penemu Gaya Gravitasi yang sudah terkenal banget dari zaman sebelum saya lahir. Siapa, tuh, penemu Gaya Gravitasi? Yap, Bapak Isaac Newton. Bapak ini kenapa bisa sampai disebut sebagai Penemu Gaya Gravitasi? Hayoooo ada yang tau tidak?
Hanya karena sebuah peristiwa apel yang jatuh ke bawah dari atas pohon yang menurut sebagian atau mungkin banyak dari kita adalah suatu hal yang tidak penting untuk dipikirkan benar-benar, tapi justru hal ini lah yang mendorong seorang Isaac Newton untuk memikirkan/memperhatikan/menganalisa lebih jauh. Sehingga muncullah apa yang selama ini kita temui dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Benar begitu, bukan? Dengan pemikiran yang menurut sebagian orang adalah sesuatu yang tidak begitu penting (karena pada dasarnya, sebagian manusia hanya lebih mementingkan urusan pribadinya saja. Ini menurut saya loh ya. Kita semua terbebas dalam berargumentasi) maka sangat wajar ketika saya berusaha untuk membahas apa yang ingin saya bahas, tidak sedikit dari kita menganggap “buat apaan sih dipikirin?!” hehehe
Gua bukan lah seorang murid teladan yang biasa digandrungi oleh “rakyat sekolah”. Gua juga bukan lah mahasiswi berprestasi di prodi gua. Akan tetapi, sikap kritis yang telah mendarah daging (wkwkwkw lebay ye bahasanya) dalam diri gua adalah satu hal dari sekian hal yang dibenci oleh mereka yang tidak satu argumen dengan gua. Dan gua anggap bahwa hal tersebut adalah wajar. Mengapa? Karena Tuhan menciptakan makhluk-Nya bermacam-macam. Entah itu dari sisi fisik, akal, dan lain sebagainya.
Mungkin benar apa yang telah orang tua saya putuskan mengenai pelarangan untuk tinggal sendiri a.k.a ngekos 🤔 Salah satu alasan tersirat dari beribu alasan yang disampaikan adalah pergaulan. Berdasarkan pandangan Piaget mengenai perkembangan kognitif pada masa remaja, ia mengatakan bahwa remaja mulai berpikir lebih abstrak, idealis, dan logis. Ketika pemikiran ini tidak “ditamengi” dengan dasar agama yang kuat, maka secara tidak langsung mereka akan kerap kali berpikir melebihi akal manusia pada umumnya (bukan dalam artian cerdas seperti Albert Einstein (yg umum diketahui oleh masyarakat luas ya). Karena pada dasarnya, akal manusia itu terbatas ketika memikirkan yang berkaitan dengan Tuhan (entah itu dalam hal penciptaan maupun keberadaan mengenai ada-tidaknya Tuhan) yang menyebabkan akal tersebut melahirkan pemikiran-pemikiran mengikuti logikanya sendiri.
Terlebih ketika sekedar pembahasan hal-hal sederhana yang mengatasnamakan “Menurut logika saya...” atau “Logikanya seperti ini...” yang mana antara logika dengan pembahasan yang ia sertakan tidak ada kesesuaian. Namun sikap “sombong” dan/atau “angkuh” yang telah tertanam dalam dirinya menyebabkan segala hal yang ia katakan, yang ia pikirkan adalah benar. Padahal, apa pun yang kita pikirkan, putuskan, dan lain sebagainya harus lah berdasarkan kitab suci yang telah Tuhan turunkan kepada utusan-Nya. Ketika tidak mampu, maka di situ ada sunnah-sunnahnya.
Saat hati, jiwa, pikiran, jantung, usus (hehehe bercanda sedikit gapapa ya) jauh dari kedua itu, maka orang tersebut tidak dapat disebut sebagai orang yang hebat (meskipun ilmu pengetahuan yang dimiliki telah meluber).
Satu hari jauh dari siraman rohani saja terasa begitu hampa dan ketika melakukan apa pun itu terasa ada yang kurang. Apalagi ketika hati sudah tidak lagi merasakan tersebut, dapat dipastikan petunjuk dari Tuhan telah tertutup untuk kita. Tinggal kembali kepada diri kita masing-masing, akan kah kita kembali pada Tuhannya atau tidak 😔
Hal ini tidak hanya berlaku dalam agama saya, dalam agama lain pun keimanan merupakan sesuatu yang wajib. Tidak hanya mengaku beriman, tetapi pengaplikasiannya pun juga harus diterapkan pada diri masing-masing :)
Jadi, jangan merasa cukup dalam mempelajari agamanya. Ketika diri ini merasa cukup dan hati sudah enggan untuk mempelajarinya, maka diri itu sangat lah sombong...
PS : Sebenernya gua jadi bingung ini bahas apa. Konsentrasi saya akan susah diajak balikan lagi ketika tangan dan pikiran tidak mau kerja sama 100% dalam menuangkan apa yang sering saya pikirkan hehehe