Terlalu Cenderung Kepada Pasangan
Selama perjalanan pernikahan saya dan suami yang baru 1 tahun ini, saya melihat sepanjang perjalanan mempunyai tema tema yang memberi pelajaran bagi saya. Tema pertama adalah tentang beradaptasi, bagaimana saya beradaptasi dengan suami, dengan peran sebagai istri. Tema pertama ini punya satu tantangan tersendiri yang membuat saya belajar.
Tema kedua, mungkin di pertengahan tahun kemarin, saya belajar bagaimana tetap menghargai diri, tetap melihat ke dalam diri meskipun sudah berperan sebagai istri. Belajar untuk memberi waktu untuk berbincang dengan diri sendiri.
Tema ketiga, baru saya pelajari kemarin, sepulang dari acara muhsinin club. Di bulan ramadhan kedua setelah menikah ini, saya merasa kehilangan semangat untuk tilawah, untuk mendengarkan kajian, bahkan untuk berdoa.
Saya ingat sebelumnya saya punya periode di mana saya sering curhat dalam doa kepada Allah. Saya ingat sebelumnya saya punya periode di mana saya sangat semangat mendengarkan kajian tafsir. Namun setelah menikah itu agak berkurang. Saya tidak menyalahkan suami saya, karena saya tahu kuncinya ada di diri saya sendiri.
Saya mencoba merenung, apa yang berubah pada diri saya setelah menikah. Dan saya menemukan sepertinya, itu karena rasa cinta kepada pasangan yang mulai menyaingi rasa cinta kepada Allah. Sebelumnya, pada periode saya penuh semangat berdoa dan mengikuti kajian, saya hidup sendiri. Di mana saya bergantung pada diri saya sendiri. Dalam kondisi sendiri itu, secara otomatis saya mencari kekuatan yang lebih besar, sehingga lebih mendekat kepada Allah.
Setelah menikah, mungkin ujiannya di sini. Saya punya suami yang saya bisa bergantung kepadanya. Saya punya suami yang memberikan cinta dan rasa aman setiap hari. Sehingga saya mulai terlupa untuk bergantung kepada Allah.
Jadi, tema ketiga yang saya pelajari, rasa-rasanya tentang, jangan terlalu cenderung kepada pasangan. Apalagi sampai menyaingi bergantung kita pada Allah. Saya mempelajarinya selama acara muhsinin club kemarin. Dari ceramah ceramah ustadz bahtiar nasir, ustadz lukmanul hakim. Juga dari cerita seorang ibu sesama member muhsinin club single parent ditinggal meninggal suaminya. Saya selalu berpikir itu pasti hal yang berat. Tapi dia bercerita dengan wajah ringan, semua dilaluinya sampai sekarang karena kasih sayang dari Allah. Jadi, ternyata selama ada Allah semua bisa dilalui.
Dampaknya, ketika saya terlalu cenderung kepada pasangan, saya melihat diri saya berharap pada manusia dan mudah uring-uringan saat suami tidak sesuai yang saya inginkan. Hal sepele misalnya, suami pulang telat karena berbincang dengan bapak-bapak muhsinin club, bisa membuat saya sangat marah. Saya sadar, beberapa kali saya uring-uringan seperti itu. Terutama selama hamil (apa memang efek hormon ya?). Saya tidak bisa berpikir lebih rasional, saya terlalu terlarut dengan emosi saya. Ini sebenarnya terasa melelahkan, oleh diri saya sendiri, apalagi oleh suami saya.
Selepas agenda muhsinin club kemarin, saya mencoba merenungkan beberapa hal untuk mengatasinya. Salah satunya memberi porsi berdoa untuk kembali curhat kepada Allah, mengikuti kajian, dan meningkatkan interaksi dengan quran (terutama yang sifatnya tadabbur).











