Dunia ini penuh dengan rasio. Hitung-hitungan rahasia yang jika ditelusuri konon bisa menjelaskan hal apapun yang ada di muka bumi dan luar angkasa. Saya tidak pintar matematika. Ya, tentu, kalau sederhana saja seperti menghitung keliling dan luas lingkaran, saya masih bisa. Itu sudah dipelajari waktu kita kelas empat SD. Sisanya, saya percaya; namun sampai sekarang tidak juga mengerti bagaimana sebuah garis melengkung seperti rumah siput dan serentetan angka yang tidak putus-putus bisa mendatangkan segala jenis jawaban atas pertanyaan hidup manusia, sampai bisa menggantikan Tuhan bagi mereka yang merasa dirinya terlampau cerdas.
Ketika saya masih muda, seseorang pernah membisikkan saya sebuah rahasia penting di sela-sela jam pelajaran kosong:
Semua manusia hidup dengan membawa sebuah lingkaran.
Konon, pada awalnya, garis tengah lingkaran itu kecil saja, dua puluh sentimeter kira-kira. Seiring bertambahnya usia, lingkaran itu bisa bertambah besar atau malah menciut. Tidak ada yang tahu penyebabnya kecuali si pemilik sendiri. Oh, dan katanya, tidak semua lingkaran bisa terlihat. Kebanyakan baru bisa benar-benar terlihat setelah nyawa pemiliknya tercabut.
Entah mengapa saya tidak terkejut, saya merasa hal yang baru ia bisikkan itu sudah lazim. Seperti sudah saya ketahui sebelumnya. Seperti suatu topik yang biasa diperbincangkan semua orang — obrolan basa-basi ketika terjebak macet pulang kantor di dalam bis kota, ketika duduk-duduk di depan gerbang sembari menunggu bel anak-anak pulang sekolah, ketika tidak sengaja bertemu teman SMA saat belanja bulanan di supermarket.
Saya ingat, setelah tuntas bercerita, orang yang membisikkan saya rahasia tersebut lalu bertanya,
“Ngomong-ngomong, sebesar apa lingkaranmu?”
“Aku tidak tahu, kayaknya tidak banyak bertambah besar semenjak aku lahir.”
Minggu lalu, tetangga saya meninggal dunia. Beliau seorang ibu rumah tangga yang pada akhirnya pergi pada usia delapan puluh dua tahun. Saya tidak yakin apakah orang-orang lain, para kerabat dan tamu pelawat, bisa melihat lingkaran milik si almarhum Ibu Tetangga. Saya duduk dengan sopan di ruang tengah, hanya memperhatikan mereka menangis, bersalam-salaman, berdoa.
Ternyata, lingkaran milik Ibu Tetangga itu besar sekali. Garis tengahnya mungkin hampir dua meter! Saya menemukannya di taman yang terletak di tengah-tengah rumah keluarga tersebut. Rumah mereka berbentuk seperti gedung sekolah; taman besar dengan kolam beserta air terjun buatan, dibingkai oleh ruangan-ruangan di sekelilingnya. Tidak seperti dugaan saya, lingkaran itu terlihat biasa saja. Tidak bercahaya seperti di film-film religi — tunggu, saya baru ingat bahwa film-film dokumenter-sejarah-campur drama religi yang sudah pernah saya tonton sepertinya tidak ada yang pernah membahas perihal lingkaran-lingkaran — persetan dengan bulat-bulat tidak jelas itu, mungkin begitu kata sutradaranya.
Lingkaran itu tampak datar dan warnanya abu-abu, tidak cerah ataupun mengilap tertimpa sinar matahari siang. Tetes-tetes dari air terjun bohongan yang tepercik dan jatuh ke atas lingkaran itu pun terlihat langsung meyerap dan menghilang tanpa bekas. Aneh. Sambil menunggu ibu saya sendiri selesai bercengkrama dengan para tetangga lain, saya terus memandangi lingkaran si Ibu Tetangga yang masih tergeletak di tengah-tengah taman. Tidak ada yang berubah. Setelah hampir lebih dari setengah jam, saya pun kemudian menarik kesimpulan bahwa ketika seseorang meninggal, lingkarannya akan berhenti bertumbuh. Saya rasa, alasan logis lainnya juga karena lingkaran itu tidak akan muat masuk ke liang kubur manusia pada umumnya. Nanti bisa penyok, dan malah jadi berbentuk oval, dong.
Lingkaran kedua milik si Ibu Tetangga saya temukan di dekat dapur. Kali ini ukurannya lebih kecil, nampaknya sekitar tiga puluh sentimeter. Benda itu masih sama; datar dan keabu-abuan, namun melayang, berkedip-kedip seperti lampu neon hampir mati. Saya berhenti selama beberapa detik, lalu melanjutkan mencuci gelas dan piring kotor saya di bak cuci. Setelah saya selesai, lingkaran itu masih tetap di sana. Bergantung dengan ringan seperti sarang laba-laba.
Sepulangnya dari rumah Ibu Tetangga, banyak pertanyaan masih tinggal di benak saya.
Dari apa lingkaran itu terbuat? Cahaya? Asap? Api, seperti setan? Apakah benar lingkaran itu berhenti bertumbuh ketika tuannya meninggal? Saya juga tidak yakin apakah benar bahwa peran yang dijalankan di sini adalah manusia sebagai tuan dan lingkaran sebagai peliharaannya. Bisa saja terbalik, bukan? Kita jadi seperti budak dari sebuah bentuk geometris yang melayang-layang tanpa tujuan di sembarang tempat. Dan jangan-jangan, lingkaran kedua yang ada di dapur tadi juga bukan milik Ibu Tetangga. Eh, dari mana juga saya tahu bahwa lingkaran yang ada di taman pun bukan milik orang lain? Tamu-tamu yang datang tidak ada yang terlihat mempunyai lingkaran, sih. Bahkan bisa jadi lingkaran itu milik saya.
Apakah orang-orang benar-benar melihat dan membicarakannya? Apakah mereka masih membahasnya ketika tengah terjebak macet pulang kantor di dalam bis kota, ketika duduk-duduk di depan gerbang sembari menunggu bel anak-anak pulang sekolah, ketika tidak sengaja bertemu teman SMA saat belanja bulanan di supermarket?
Hanya satu hal yang membuat saya terjaga sampai pagi.
Saya takut, pada saatnya nanti, saya pergi hanya dengan sebuah titik di tengah dahi. Yang akan hilang seketika saat kulit saya basah diseka air bunga. Dan tidak ada seorang pun yang ingat, atau sekedar menyaksikan bahwa saya sungguh-sungguh memilikinya!
Kemudian jasad saya berusaha berteriak pada setiap orang yang datang dan menatap dengan pandangan aneh; saya manusia normal, sumpah! Saya juga punya lingkaran seperti semua orang lainnya!
Tapi tentu saja tidak bisa, pastinya saya sudah membisu pada saat itu.
Saya belum bisa menghapusnya dari pikiran sampai saat ini.
Cerita ini masih sepenuhnya fiktif, btw.