Tanyakan lagi ke hati kecilmu
Semasa pandemi ini dan harus bekerja dengan screentime yang tinggi, kemudian ketika acara-acara offline berubah semuanya menjadi online, banyak kelas-kelas bermunculan. Saya menemukan banyak sekali fenomena, tapi saya ingin membahas salah satu aja yang menjadi diskusi di keluarga kami di pekan ini.
Ketika istri mendapati ada sebuah kelas yang dibuka dengan sebuah topik, dimana beberapa minggu atau bulan lalu istri mengikuti seminar tersebut dengan narasumber utamanya yang berasal dari luar negeri. Seminarnya internasional, saya ingat harganya mendekati satu juta rupiah untuk seminar tersebut. Dan, memang bagus banget.
Kemudian, istri mendapati ada sosok terkenal yang membuka kelas dengan tema tersebut di indonesia, dibawakan bukan oleh researchernya langsung. Bahkan, pokok-pokok materinya adalah hasil riset orang lain. Mungkin, yang membedakan adalah dikemas lebih islami dan dibawakan dengan bahasa indonesia. Harga kelasnya sekitar setengah jutaan.
Menarik, banget. Karena ini menjadi bahan diskusi yang seru di rumah tangga kami soal kapasitas ilmu, integritas, dan professionalitas.
Mulai pekan ini, saya akan mengikuti program kelas menulis bersama seorang penulis terkenal yang kita semua pasti mengenalnya kalau namanya disebut. Harga kelasnya di atas satu juta rupiah untuk learning hours sekitar 6 jam. Ini menjadi kaca cermin bagi saya untuk kemudian saya bahas sama istri.
“Menurutmu, kalau abis ikut kelas ini, kan jadi tahu materinya. Kalau kemudian bulan depan aku bikin kelas menulis, yang mungkin isinya akan sangat terinspirasi bahkan mungkin cenderung copy caranya dari kelas besok, menurutmu gimana?”tanyaku.
Istriku menjawab,”Aku tahu sih itu bukan suamiku banget.”
“Hahahaha”, aku tertawa saja.
“Nanti aja kalau mau buat program kelas menulis, kalau levelnya udah setara sama beliau dan bisa menyusun kurikulum dengan baik setelah melewati beberapa checkpoint di karir ini,” ujarnya.
————————————————————————
Di era semuanya menjadi online, mudah banget menyusun kelas, membuat kelas. Bahkan, kalau kamu bukan siapa-siapa pun, bisa membuat kelas semacam kelas sharing. Dan ini saya mendapati banyak sekali kelas yang saya track pematerinya, vendornya, dll. Saya tidak menemukan kesinambungan antara materi yang dibawakan dengan background pematerinya. Ga nyambung.
Ngomongin masalah psikologi, tapi background pematerinya anak elektro.
Ngomongin soal careerpath, tapi backgroundnya fisika murni.
Ngomongin soal financial planning, tapi backgroundnya anak pendidikan bahasa.
Saya dan istri, saling mengingatkan satu sama lain untuk hati-hati mengambil wilayah yang diluar kapasitas bidang kami. Ilmu yang tidak kami pelajari dengan lengkap, justru bisa berbahaya kalau kami yang menyampaikan. Karena, kami tidak bisa mempertanggungjawabkan statement-statement yang kemudian kami keluarkan dalam materi tersebut.
Sama halnya ketika temen-teman mau melakukan assesment psikologi, pastikan orang yang mengasses temen-temen adalah orang yang punya background dan kapabilitas untuk melakukan assesment. Kalau ngga ada, bisa fatal.
————————————————————————-
Belajar itu musti sabar, menelaahnya, mengimplementasikannya, fokus pada bidang tersebut. Jangan buru-buru ingin menjadi pemateri di mana-mana. Apalagi, di tengah kondisi saat ini. Pengakuan orang lain, achievement, label, itu seolah menjadi tolok ukur kesuksesan. Kita mengejar branding.
Padahal kalau pondasinya nggak kuat, branding itu bisa menjadi senjata makan tuan, seperti kasus financial planner J akhir-akhir ini.
Jangan buru-buru ingin berbagi ilmu yang baru kita pelajari sejam dua jam, apalagi menjualnya lagi dan seolah menjadikan diri kita sebagai seorang expert. Kita tidak akan menjadi ahli hanya dengan ikut seminar sekali :)
catatan keluarga kurniawangunadi