16 Juli 2016
Dan aku jatuh cinta pada upayamu.
(KG)
1 April 2016.
Aku masih ingat hari itu, hari dimana tanpa ada pembukaan atau basa basi, kau mengutarakan maksudmu.
Tidak masuk akal pula sebenarnya kau berbicara padaku tanpa kata pengantar hari itu; untuk mengambil tanggung jawab ayahku untuk membimbingku. Kamu tidak mempertimbangkan resiko, akan ditolak.
Kau tahu, tak pernah kubayangkan sebelumnya, itu kamu.
Kita bukan teman karib. Kita tak bertukar cerita panjang. Kita juga barangkali tidak saling kenal seutuhnya. Aku yakin, kamu tak mengenalku seutuhnya. Begitu pula aku.
Ternyata itu kamu.
Seseorang yang berbicara apa adanya, tak membingkainya dengan kalimat indah. Kau utarakan begitu datar, pasti, tanpa kuharus menerka apa maksudmu. Karena kamu seperti itu, lugas.
1 Mei 2016
Aku pernah bermimpi, akan memiliki seseorang yang bisa kudengarkan setiap waktu kata-katanya. Tapi nyatanya, Allah terlalu baik. Ia menghadirkanmu untukku mendengarkan ceracauan ku yang ternyata lebih ekspresif untuk bercerita.
Aku pernah bermimpi akan memiliki seseorang yang kata-katanya bisa aku kutip setiap hari di laman tumblr ku. Tapi nyatanya, Allah terlalu baik. Aku bahkan tak bisa menuliskan dengan sempurna bagaimana kau menghargaiku sebagai perempuan, tanpa perlu memproduksi jutaan kata indah.
Kau harus tahu, darimu aku belajar, bahwa laki-laki yang baik tak pernah membuat perempuan yang ia cintai menunggu. Karena kamu, memilih mengungkapkannya ketika kamu benar-benar siap mempertanggungjawabkan rasa itu.
Kau juga harus tahu, saat kau ketuk pintu rumahku saat itu, aku merasa itu mimpi. Aku tak pernah membayangkan, ada seseorang yang datang ke rumahku bahkan saat aku tak ada di rumah. Dan kamu datang sendiri; dengan yakin meminta seseorang yang tak sempurna ini, untuk menjadi pendampingmu seumur hidup.
Darimu, aku belajar, bahwa keberanian laki-laki itu selalu menghasilkan minimal 50% pertimbangan perempuan, untuk berkata ‘iya’. Kamu, berhasil melunturkan segala keraguanku selama ini, atas laki-laki. Kamu juga yang akhirnya berhasil mematahkan skeptisme pribadiku dalam memandang makhluk bernama laki-laki.
Aku, tidak pernah mengalami trauma atas kisahku. Tapi, aku trauma melihat sekian banyak kisah laki-laki yang bisa seenak hati memberikan harapan dan meninggalkan perempuan begitu saja. Aku trauma melihat seorang laki-laki dengan mudahnya meninggalkan seorang perempuan atas alasan legal bernama ketidaksetujuan dari pihak keluarga.
Aku jarang bisa menghormati laki-laki. Karena bagiku (yang sering kejam ini), menghadapi laki-laki harus menggunakan asas praduga bersalah, sampai akhirnya menemukan bukti bahwa laki-laki itu baik. Aku hanya bisa tertawa mengenang momen itu.
Sampai pada akhirnya, setelah aku berbincang dengan orang tuaku dan guru ngajiku, aku harus begitu tegas saat memberikan respon padamu saat itu, “Kalau memang kamu serius, kita usahakan bersama-sama. Bukan aku saja, atau kamu saja. Dan aku tidak mau, jika ada ketidaksetujuan dari keluarga kita, aku atau kamu menggunakan alasan tersebut untuk menyudahinya. Kalaupun kita ingin menyudahi proses ini, maka itu keputusan dari kita sendiri, yang memang ingin menghentikan perjuangan kita. Tidak perlu berlindung di balik alasan keluarga.”
Aku memang kejam. Harus kuakui hal itu.
Lalu aku yang terus menerus mempertanyakan keseriusanmu, di hari-hari menjelang hari pernikahan kita. Dan kamu, yang dengan persisten dan sabar meyakinkanku, bahwa kamu yakin, dengan segala keputusanmu; tanpa ragu.
Darimu, aku semakin yakin bahwa Allah selalu menyiapkan rencana yang lebih indah dari apa yang aku rencanakan.
16 Juli 2016
Terima kasih, karena tidak membuatku menunggu.
Terima kasih, karena telah menjadi laki-laki yang hadir untuk membuktikan bahwa laki-laki baik di dunia ini tidak hanya Ayah. Ini berlebihan, haha.
Terima kasih telah (sabar) mengupayakan aku. Semoga kita selalu jadi partner sampai ke surga.
Semoga Allah mampukan kita, Mas.
Selamat 16 Juli.
Selamat bertemu untuk kita.
Selamat hari pernikahan untuk Bapak dan Mama.
Aku bahagia, bisa mencuri tanggal yang telah spesial sejak 26 tahun lalu, dan menjadikannya tanggal spesial untuk kita juga.
Sekali lagi, terima kasih, Mas. Maafkan aku yang (lebih) sering kekanak-kanak-an. Haha.
Kuta-Lombok, 21 Juli 2016
PS : Terima kasih karena tidak menuruti keinginanku ke Jogja. Lombok, gili trawangan, dan sate rembiga nya benar-benar membuatku senang bukan kepalaang :p


















