Tingkat kebodohan bagi manusia pengidap 'penyakit' people pleaser akut sangatlah tidak bisa ditolerir lagi. Ada beberapa hal yang kini aku pikirkan saat aku lagi-lagi tidak bisa menolak ajakan dari Kak Jio, Jio Martin. Kami adalah kakak serta adik kelas yang pernah memiliki hubungan asmara di tahun pembelajaran sebelumnya. Walaupun aku tidak pernah menganggap hubungan itu lebih dari sebatas teman biasa, but he did.
Aku rasa jika Selena tahu kalau kami berdua terlibat obrolan bersama lagi, pasti dia akan berubah menjadi rubah merah raksasa.
Ketika jam pembelajaran telah usai, aku bergegas merapikan mejaku lalu pergi ke titik pertemuan. Mungkin dia hanya ingin mengobrol denganku untuk beberapa menit saja. Tapi yang jelas, aku tidak ingin dia membuang-buang waktu berhargaku lagi. Tidak akan pernah. Ditambah, aku juga sudah muak karena sering kali dijadikan sebagai bahan gosipan oleh para penggemar kapten tim bisbol sekolah yang terkenal itu.
“Hai, Na,” sapa Kak Jio ketika aku sudah sampai di depan perpustakaan sekolah. Bahkan aku tak sempat memeriksa Sena apakah dia sudah pulang atau belum.
“Hai, mau tanya apa, Kak? Aku lagi gak punya banyak waktu,” jawabku. Dia menyenderkan tubuhnya di tembok perpustakaan, menatap langit yang sudah mulai gelap karena tertutup awan mendung.
“Soal anak baru… kamu emang udah deket gitu ya sama dia?” tanyanya. Aku tidak merasa terkejut ketika dia menanyakan soal anak baru di kelasku. Kak Jio selalu saja begitu, enggan melihat aku berteman dengan siapapun kecuali dengan Selena.
Dan itulah sifat yang sangat aku takuti dari dirinya. Aku… cuma bisa pasrah. Tujuanku bersekolah bukan untuk meladeni lelaki itu terus-menerus. Ada impian ayah dan ibu yang harus aku raih.
“Eng-enggak terlalu. Kebetulan dia tetangga baru juga di komplek perumahanku. Ada apa memangnya?” tanya balikku sedikit gugup.
“Gak apa, sih. Cuma aku gak suka aja kamu deket sama cowok asing kayak gitu. Kamu kan gak tahu juga dia sebenernya cowok baik-baik atau malah sebaliknya.” Aku mulai menunduk, enggan menatapnya lagi. Ah, aku selalu membenci situasi pembicaraan seperti ini. Mulutku selalu saja terkunci tanpa alasan. Aku takut kalau ucapanku akan melukai dirinya, entah kenapa.
Angin berhembus melewati celah di antara kami berdua, membuat rambut panjangku sedikit acak-acakan. Aku masih diam, dia juga begitu. Sampai seorang murid lain keluar dari pintu perpustakaan, kami berdua pun menoleh lalu terkejut.
Mataku membulat sempurna ketika melihat Sena yang tiba-tiba muncul dari balik pintu perpustakaan. Sepertinya dia habis meminjam komik atau entah apalah itu. Yang jelas, suasana mendadak canggung setengah mati.
Apa dia mendengar apa yang kami bicarakan?
“Eh, sorry kalau ganggu. Bye, Ra,” pamitnya lalu berjalan pergi meninggalkan kami. Aku juga ikut pamit kepada Kak Jio. Obrolan kami tidak pernah selesai dengan sempurna. Selalu begitu karena aku memang tidak bisa mengakhirinya dengan kejelasan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Aku menghentikan langkahku ketika suara panggilan itu terdengar. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Sekarang aku malah memikirkan bagaimana caranya aku akan pulang. Masalahnya, Kak Bumi mendadak tidak bisa menjemputku sore ini.
“Ada apa?” tanyaku sambil membalikkan badan kepada seseorang yang baru saja memanggilku. Sudah pasti itu Kara.
“Ma-maaf,” jawabnya. Dia kenapa?
“Untuk yang tadi. Kak Jio… gak bermaksud buat ngomongin kamu kayak gitu,” jelasnya. Oh, soal itu ternyata. Aku memang tidak sengaja mendengar obrolan mereka saat aku sedang sibuk memilih buku komik mana yang akan aku pinjam. Tapi aku tidak masalah dengan hal itu. Aku juga tak menduga kalau lelaki ketus yang aku temui pagi tadi ternyata dekat dengan Kara.
Aku terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyumanku. Kara malah menunduk. Tanganku hendak meraih dagunya namun kuurungkan. Aku tahu kalau Kara memang tidak terlalu suka dengan sentuhan.
“Di bawah gak ada apa-apa, Ra,” ucapku. Dia pun kembali mengangkat kepalanya.
“Lihat, aku habis pinjam buku komik dari perpustakaan. Ternyata di sana lengkap juga ya koleksi bukunya!” Aku berseru hendak mencairkan suasana sambil memperlihatkan hasil pinjamanku. Kara tersenyum. Walaupun senyumannya tipis tapi hatiku lega ketika melihatnya seperti itu.
Dia lebih pantas memamerkan senyumannya ketimbang menunduk untuk menutupi semuanya.
“Koleksi di perpustakaan sekolah memang lengkap. Oh ya, kamu pulang dijemput sama siapa sekarang?” tanya dia.
“Aku? Gak tahu, Kak Bumi bilang dia gak bisa jemput,” jawabku sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal.
“Aku juga kebetulan gak dijemput sama ibu hari ini. Mau pulang bareng?” ajaknya. Tanpa basa-basi lagi aku langsung menerima tawaran itu. Kami pun berlari menuju halte yang tak jauh dari gerbang sekolah, menembus hujan dan juga aroma tanah basah yang mulai menyeruak.
“Bisnya udah dateng!” seru Kara. Aku mengangguk dan kemudian, kami berdua pun bergegas masuk ke dalam bis. Hujan semakin deras membasahi jalanan. Rasanya jarang sekali aku merasakan hujan sederas ini di Fukuoka.
Kini kami duduk bersebelahan. Di dalam bis tidak terlalu banyak orang. Hanya ada kami, satu murid lainnya, dan juga pria tua yang duduk tak jauh dari kami.
Aku mengeringkan rambutku yang sedikit basah karena air hujan menggunakan jaket yang aku bawa di dalam tas. Kara tampak memperhatikanku sedari tadi. Yah, dia memang payah dalam memperhatikan seseorang secara diam-diam.
“Nih, keringin juga rambut kamu,” ucapku sambil menjatuhkan jaket itu di atas kepalanya.
Selagi dia mengeringkan rambutnya, aku memandang ke arah jendela bis. Melihat lampu-lampu kendaraan yang sudah mulai menyala karena langit terlalu gelap untuk sore hari ini.
Kupikir, hari pertama sekolahku kali ini tidak terlalu buruk. Aku bahagia.
“Selain suka baca buku pelajaran, kamu suka baca buku apa lagi, Ra?” tanyaku.
“Novel… komik juga suka. Sebenernya buku apa aja juga aku baca, sih. Cuma emang seringnya baca buku pelajaran,” jawabnya.
“Pasti di sini banyak isinya ya?” tanyaku lagi sambil menunjuk keningnya. Dia langsung menggeleng tidak setuju.
“Otakku isinya cuma pelajaran aja. Gak sebanyak isi yang ada di kepala kamu,” sahutnya. Aku terkekeh lalu menanyakan pertanyaan selanjutnya. Bis terus berjalan pelan menyusuri jalanan. Setidaknya di waktu yang tidak terlalu banyak ini, aku harus bisa mengenal Kara sedikit demi sedikit.
“Kara aku—” Tubuhku membeku ketika tak sengaja telah memergoki Kara yang sedang merapikan rambutku diam-diam. Dia mungkin hanya menyalakan tombol refleksnya, namun hal itu sangatlah mudah membuat pipiku berubah menjadi merah padam.
Aduh... apa-apaan sih dia ini....
“Ra-rambut kamu acak-acakan!” serunya karena enggan aku salah paham.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Berharap pipi merahku tidak terlihat oleh Kara. Dia pasti akan mentertawaiku. Tapi usapan itu benar-benar membuat hatiku tersentuh.
Setelah beberapa menit di dalam bis, kami pun sampai di halte pemberhentian. Hujan masih menemani kami, jatuhannya juga masih sama riuhnya seperti beberapa menit yang lalu.
“Seharusnya sehabis turun begini, kita cuma tinggal jalan sebentar habis itu sampai deh ke rumah. Cuma hujannya… makin besar. Gak mungkin kalau kita hujan-hujanan,” ucap Kara dengan raut wajah bingung. Aku juga malah ikut berpikir bagaimana caranya kami pulang dalam keadaan kering. Kami berdua tidak membawa payung. Tentunya aku juga enggan bermain dengan sang hujan untuk saat ini.
“Kita tunggu aja sebentar di sini, siapa tahu hujannya berhenti,” usulku. Dia mengangguk setuju lalu kami pun duduk di kursi halte pemberhentian.
Angin menerpa tubuh kami yang malang karena tak tahu harus pulang dengan cara apa selain menunggu jatuhan air reda dengan sendirinya. Aku baru menyadari kalau di halte ini bukan hanya ada kami berdua saja. Ternyata pria tua yang tadi satu bis dengan kami ikut turun di halte yang sama. Aku terdiam sambil memperhatikannya. Entah kenapa gerak-geriknya sedikit mencurigakan.
Sampai hal lain membuatku mengalihkan pandangan, pria itu pun mendadak hilang entah kemana. Lampu-lampu indah tiba-tiba menyala dari gerbang rumah yang ada seberang jalan. Lampu itu seperti sedang menunjukkan dari mana aliran listrik yang dia dapatkan untuk bersinar. Jalanan tampak sepi hingga kami bisa melihat kemunculan rumah yang amat tiba-tiba tersebut.
Oh, aku rasa itu bukan rumah biasa, itu rumah yang sudah disulap sedemikian rupa menjadi sebuah kedai ramen yang unik. Aku dan Kara tertegun untuk beberapa saat.
“Itu kedai ramen?” tanyaku memastikan.
“Not sure… selama aku pulang lewat halte ini, perasaan aku belum pernah lihat kedai ramen itu. Tapi mungkin aku aja yang enggak merhatiin,” jawab Kara. Padahal kedainya tampak mencolok dibandingkan dengan rumah-rumah yang ada di sebelahnya.
“Shichifukujin Ramen. Artinya apa?” tanya dia setelah membaca tulisan yang terukir di gerbang kayu kedai ramen tersebut.
“Itu… nama dewa keberuntungan di Jepang. Wah, ini pertama kalinya aku lihat kedai ramen seautentik itu di sini,” jawabku dan Kara hanya ber-oh ria saja.
“Makan dulu yuk di sana? Aku traktir. Kalau cuma duduk-duduk di sini nanti malah masuk angin,” ajakku. Kara seperti tidak yakin dengan ajakan tersebut.
“Emangnya itu beneran kedai ramen? Gimana kalau…,” jedanya sambil menarik lengan seragamku agar telingaku bisa sejajar dengan mulutnya. Kara pun berbisik kepadaku, melanjutkan kata yang sempat terjeda.
“Kata ibu, kalau hari udah sore menuju malam kayak begini, jin dan iblis mulai pada berkeliaran dari tempat persembunyiannya. Mereka suka menyamar. Nah, gimana kalau kedai ramen itu salah satu bentuk tipu daya mereka? Gimana kalau kita masuk nanti, kita malah diculik sama mereka? Emangnya kamu gak sadar kalau kedai ramen itu kelihatannya sedikit aneh?” Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawaku. Namun usahaku gagal, aku tertawa ketika mendengar pikiran yang Kara lontarkan. Gadis itu sepertinya terlalu banyak mendengarkan tahayul yang ibunya ceritakan.
“Kamu tuh kalau ngomong jangan suka ngawur. Mana ada iblis yang mau cosplay jadi pemilik kedai ramen?” sahutku sambil memukul pelan kepalanya menggunakan buku komik yang sedari tadi aku bawa.
Tak lama kemudian, munculah seekor kucing berwarna putih bersih dari celah gerbang pintu kedai ramen yang sedikit terbuka. Kucing itu terlihat manis dengan pita hitam yang mengalung di lehernya.
Dia menatap kami dengan pupil besarnya. Dari kejauhan, matanya terlihat sangat hitam dan juga berkilauan. Aku refleks memundurkan langkahku—mendadak mengurungkan niatku untuk mengajak Kara agar mampir makan di sana terlebih dahulu sampai hujan benar-benar reda.
“Eh, ternyata ada kucingnya! Kalau gitu ayo kita mampir ke sana dulu!” serunya yang langsung menarik tanganku lalu kami pun menyebrang bersama. Aku dengan cepat menudungi kepalanya dengan jaket yang aku bawa.
Dan begitulah akhirnya kami masuk ke dalam perangkap kedai ramen misterius itu. Aku berharap, kucing putih yang menjaga tempat tersebut tidak akan menggigit hanya karena aku memiliki wangi tubuh daun eucalyptus.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Derit gerbang terdengar ketika aku dan Sena mulai masuk ke dalam area kedai ramen tersebut. Tempat ini sepertinya bukanlah sekedar kedai ramen biasa. Setelah masuk ke dalam gerbang, aku dan Sena langsung disuguhi oleh pemandangan pekarangan depan yang banyak ditumbuhi oleh tanaman hijau.
Pun juga ada kolam ikan koi, dan banyak sekali kerajinan keramik serta kristal yang terpajang. Tidak lupa kehadiran maneki-neko di atas meja penghubung antara penjual dan pembeli sebagai sumber rezeki bagi pemiliknya. Aku tahu persis tentang pajangan berbentuk kucing yang sedang melambai-lambai itu.
“Ini beneran kedai ramen, kan?” tanyaku memastikan kembali, namun Sena malah sibuk tertegun dengan objek-objek yang baru saja dilihatnya.
Sampai seorang wanita menyambut kedatangan kami, suasana mendadak berubah. Aku pun bersembunyi dibalik tubuh tinggi wakil murid kelasku itu. Wanita tersebut muncul dari balik kepulan asap yang membumbung—dia kemudian menyapa kami dengan ramah. Sena pun membungkuk sambil menyapa wanita itu kembali dengan senyumannya.
“Wah, kenapa kalian malah berdiri di situ? Kemari! Nanti seragam kalian basah.”
“Silahkan, silahkan. Duduk dulu, menu makanan dan minumannya ada di situ. Kalian bisa mulai memesan kapan saja,” titahnya mengarahkan kami kepada tempat duduk yang langsung berhadapan dengan dapur—layaknya kedai ramen pada umumnya.
Sejujurnya, menurutku kedai ramen ini lebih pantas disebut sebagai restoran unik ketimbang kedai ramen biasa.
“Kalian pembeli pertama yang datang kemari semenjak kedai ini tutup dua tahun lamanya. Aku benar-benar mendapatkan sebuah keberuntungan,” ucapnya. Dia tampak sibuk menyeduhkan teh hijau untuk kami minum secara gratis.
“Tempat ini unik,” celetukku sambil memandang sekitar. Wanita itu tersenyum lalu tertawa kecil.
“Pasti kucingku yang menarik perhatian kalian ya? Apa aku benar?” tanya dia. Aku langsung meng-iyakannya karena memang, kucing putih berpita hitam itulah yang menarik perhatianku. Sekarang kucing tersebut terlihat sudah masuk ke dalam bangunan kedai.
“Apa kalian percaya kalau kucing itu pembawa keberuntungan?” tanya wanita penjaga kedai tiba-tiba. Dengan cepat aku mengangguk. Tentu saja aku percaya.
“Bagaimana denganmu, Nak?” tanya wanita tersebut kepada Sena, laki-laki itu malah menyibukkan dirinya dengan kertas menu agar tidak terlibat di dalam topik pembicaraan tentang makhluk berbulu ini.
“Sen, gak sopan tahu!” bisikku sambil menyikut tubuhnya.
“Eh, aku? Aku gak terlalu suka kucing,” sahutnya. Kasar sekali susunan kalimatnya itu. Dasar tidak berperikekucingan.
Wanita penjaga kedai terkekeh lalu pergi ke arah dapur—mulai menyiapkan pesanan kami. Selagi menunggu pesanan kami siap, aku menyesap teh hijau yang ada di hadapanku dengan tenang.
“Lebih enak daripada kopi, kan?” tanya Sena. Aku mengangguk mengakuinya.
“Tapi kopi masih jadi yang terbaik,” jawabku.
“Dasar maniak kopi,” gumamnya. Apa dia bilang?
Aku kembali menikmati teh hijauku sambil mendengarkan jatuhan air hujan yang menghantam genteng rumah jadul ini. Tapi tiba-tiba, hal yang tak terduga lainnya terjadi.
Seluruh lampu mendadak padam tak bersisa. Jalanan juga terlihat menjadi semakin gelap karena lampu jalan ikut padam bersama tegangan listrik lainnya. Aku dengan spontan langsung mencengkeram lengan Sena karena merasa takut.
“Astaga, sayang! Listriknya padam! Tolong nyalakan lilin!” teriak wanita penjaga kedai dari dalam dapurnya. Ternyata ini hanyalah pemadaman listrik biasa. Aku rasa petir telah menyambar sesuatu yang amat penting hingga seluruh listrik padam begitu saja.
“Ra, gak apa-apa. Baju seragamku nanti bisa kusut kalau kamu cengkram terus begitu,” ucap Sena dan aku pun langsung melepas cengkraman tersebut. Sore kian larut dan kami malah terjebak di sini. Aku mendadak pasrah karena tidak tahu harus berbuat apalagi selain menunggu pesanan ramen kami datang. Aku rasa sekarang ibu tengah mencemaskan anak gadisnya tak kunjung pulang di tengah situasi seperti ini.
Beberapa lilin mulai dinyalakan dan kedai kembali tampak terang dan indah. Pria yang ternyata suami dari wanita penjaga kedai terlihat sabar menyalakan lilin-lilin di sudut rumah yang terasa gelap. Dia juga tak segan menawari kami agar masuk ke dalam rumahnya saja terlebih dahulu daripada harus makan di teras luarnya begini. Tapi aku dan Sena menolaknya dengan halus. Kami hanya ingin makan ramen tersebut lalu pulang cepat-cepat.
“Kayaknya aku harus telepon Aunt Lily buat ngejemput kita di sini,” ucap Sena ketika pesanan kami sudah sampai.
“Enggak ngerepotin emangnya?” tanyaku.
“Enggak kok. Kebetulan dia emang mau mampir ke rumahku. Kamu makan duluan aja, aku mau telepon aunty dulu,” jawabnya. Aku mengangguk lalu mulai menyantap ramen panas itu. Tidak ada waktu untuk mendeskripsikan bagaimana rasa ramen ini secara langsung kepada si pemilik, yang jelas, rasanya enak dan bisa membuat tubuhku kembali hangat. Mungkin aku akan datang lagi agar bisa menikmati ramen ini dengan santai dan tidak terburu-buru.
“Ini, ada tambahan yakitori untuk kalian berdua. Terima kasih sudah berkunjung ke sini,” ucap wanita penjaga kedai sambil memberikan kami masing-masing sebuah kantong plastik yang berisikan dua tusuk yakitori ketika aku dan Sena sudah selesai menyantap semangkuk ramen yang lezat buatannya.
“Terima kasih,” sahut Sena lalu diikuti olehku. Kami pun pamit karena mobil milik tante Sena sudah menunggu di depan gerbang.
“Tunggu!” panggil wanita penjaga kedai.
Kami membalikkan badan lalu dia mengucapkan sesuatu yang aku tidak mengerti. Sepertinya dia tengah menyampaikan sesuatu kepada Sena.
“Ayo, Ra. Kita pulang,” ucap Sena.
“Tadi ibu itu bilang apa?” tanyaku penasaran.
“Dia bilang, aku ini ganteng banget,” sahutnya sambil tersenyum jahil.