#meditation #buddhism #focusonthegood #entrepreneurship #100dollarstartup
seen from Brazil
seen from China
seen from China

seen from Brazil
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from Spain

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
#meditation #buddhism #focusonthegood #entrepreneurship #100dollarstartup
👍 LOVE THIS BOOK. I used to work with Startups and in hindsight I should have given them all a copy of this. #100pagerule #100dollarstartup #book #bookstagram #entrepreneur #startup #hustle #read https://www.instagram.com/p/BxX14sBJEWX/?igshid=537tuzp8imwh
Saatnya usaha kecil naik kelas. (part 2)
Berikut ini lanjutan dari cerita meraup rupiah dari model bisnis baru yang diciptakan oleh teknologi mobile. Bila sebelumnya cocok untuk usaha rumahan, kali ini saya coba menuliskan cerita bagaimana seorang supir taksi mampu berpenghasilan seperti karyawan kantoran setiap bulannya.
Bagi kamu yang tinggal di Jakarta (update: Gojek sudah tersedia di Bandung, Surabaya dan Bali) pasti pernah bahkan sering menggunakan moda transportasi seperti taksi dan ojek. Karena kegiatan mobile yang pesat permintaan kebutuhan transportasi ini pun meningkat. Pernahkah kamu melihat seorang supir taksi memiliki Smartphone dengan car holder di atas kemudinya dan mengaktifkan aplikasi mirip navigasi seperti Google Maps dan Waze? Ternyata itu benar, supir itu menggunakan smartphone bukan untuk gaya-gayaan mencari jalur tercepat namun sebuah generator penghasilan baru bagi dirinya. Adalah aplikasi-aplikasi seperti Grabtaxi dan Easytaxi yang mulai menggaet para supir taksi di Jakarta sejak tahun 2014 lalu untuk menawarkan sebuah peluang baru bagi si supir taksi. Salah satu perusahaan teknologi transportasi itu bahkan melakukan metode entry the market besar-besaran di Jakarta dengan membagi-bagikan smartphone gratis bagi supir-supir taksi. Begitu senangnya para supir diikuti dengan cerita mereka yang saat ini penghasilannya bisa naik berlipat-lipat.
Gambar: Aplikasi Grabtaxi. sumber: Google
Baca juga: http://tekno.liputan6.com/read/2136475/tanggapan-sopir-taksi-yang-pakai-aplikasi-grabtaxi
Saya pernah mendengar cerita langsung seorang supir taksi yang berencana menjual sebidang tanah warisan dari orang tuanya hanya untuk memborong banyak smartphone lalu untuk dijual kembali kepada teman-teman sesama supir taksi. Sistem referal yang ditawarkan perusahaan teknologi tersebut cukup menggiurkan bagi dia. Model bonus yang diberikan memberi semangat si supir taksi untuk terus online menggunakan aplikasi yang tertempel di kaca atas kemudinya. Bila dalam satu jalan besar si supir biasanya hanya bisa menarik satu penumpang, saat ini dia mampu menarik hingga 5 penumpang karena aplikasi ini mempermudah si supir mendapatkan penumpang yang sedang menunggu taksi kosong.
Tidak heran begitu besarnya valuasi atau nilai perusahaan ini yang Desember kemarin baru saja mendapat kucuran investasi dari Softbank sebesar Rp 3T! Begitu jelas value yang mereka berikan, skala bisnis yang mereka jalankan dan tentu saja pertumbuhan pengguna aplikasi tersebut baik si supir taksi yang menjadikannya sebuah usaha baru namun juga bagi pengguna taksi sendiri agar mereka tidak kesulitan mencari taksi dan tidak merasa ditipu karena perhitungan tarif taksi yang sudah ditetapkan oleh algoritma Grabtaxi.
Gojek, Platform bagi tukang ojek. Asli Indonesia
Nah yang terakhir ini mungkin sudah pernah dengar atau sudah jadi pengguna setia kamu ojek mania. Yup startup asli Indonesia ini sangat menyita perhatian khususnya dengan bertambah macetnya Jakarta dan peraturan dari Gubernur Ahok tentang pembatasan jalur bagi motor.
Baca: http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150127144320-185-27697/aplikasi-go-jek-diapresiasi-gubernur-jakarta/
Gojek pun memiliki cerita menggembirakan lainnya bagi tukang ojek. Sama seperti Grabtaxi bagaimana sang abang ojek juga turut "naik kelas" memanfaatkan teknologi mobile untuk meraup rejeki untuk bukan lagi membeli sembako namun bisa menciptakan usaha lain bagi dirinya dan orang lain. Untuk Gojek saya punya pengalaman pribadi. Dari dulu saya adalah pengguna setia ojek hingga saat ini saya sering berkunjung ke Jakarta untuk urusan bisnis, saya selalu setia naik ojek untuk bertemu client. Tapi bedanya dulu sebelum ada Gojek, saya harus mencari restroom untuk sekedar mengelap wajah dan merapikan rambut serta baju. Gojek hadir dengan level yang lebih tinggi, sang tukang ojek akan memberikan kita masker dan penutup kepala yang serba baru. Untuk tarif pun kita tak perlu takut lagi untuk tawar menawar atau taku ditembak lebih mahal dengan alasan "macet bosss". Sama seperti Grabtaxi, Gojek sudah memiliki algoritma perhitungan biaya berdasarkan jauh dan dekatnya jarak yang ditempuh.
Update 15 Juni 2015
Gojek sedang dibicarakan di mana-mana saat ini disamping kontroversi penolakan dari tukang ojek konvensional ternyata begitu banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari Gojek. Banyak cerita dari pengguna Gojek yang mendengar langsung curhatan si Abang Gojek, mulai dari pengalaman ngantri Restoran mahal di Mall, hampir dikeroyok sama geng Ojek konvensional hingga mampu membuka usaha lain dari modal yang didapat menjadi Gojek Driver.
salah satu cerita dari rekan di Milis
Bahagia rasanya melihat dan mendengar langsung cerita abang-abang Gojek ini, terlebih pernah saya naik Gojek yang supirnya ternyata adalah karyawan swasta menyambi menjadi Tukang Gojek di jam pulang kantor. Kebetulan kantor tempat dia bekerja di kawasan Kuningan yang pasti di jam-jam sibuk orderan Ojek laris manis. Salut!
Part 1: http://putradwiaditya.tumblr.com/post/110617379485/saatnya-usaha-kecil-naik-kelas-part-1
Pada akhirnya semua bisnis digital akan menjadi besar bila mampu menghadirkan peluang baru bagi pengguna untuk juga menciptakan usaha. Produk inilah yang disebut dengan Platform, yang saat ini menjadi bisnis model paling dicari investor dan sudah teruji skala bisnisnya. Platform as a service menjadi model bisnis terkini dan masa depan. Mungkin pada kesempatan berikutnya saya akan menulis tentang Platform Economics.
- Adit -
[email protected] | twitter: @_Diit
Saatnya usaha kecil naik kelas. (part 1)
Orderan wallsticker kembali menumpuk saat saya menulis ini, puji Tuhan di tengah badai cuaca di Bandung dan Jakarta order tetap mengalir. Ya selain membangun startup saya di bidang teknologi advertising, saya pun merintis usaha kecil-kecilan tetap berbasis media sosial bersama dengan istri. Belum genap 1 tahun kami menjalani ini, berawal dari hanya 5 pesanan sticker berujung pada banyak pelajaran yang diambil bagi kami berdua yang tidak berlatar belakang bisnis sama sekali.
Sejak kemarin Jakarta kembali dilanda banjir besar, saya mungkin beruntung salah satu yang telah meninggalkan kota itu sejak persisnya satu tahun yang lalu. Adalah pilihan yang gampang-gampang susah untuk meninggalkan Jakarta namun saya lebih memilih untuk "hidup" ketimbang untuk "melupakan hidup" dengan tinggal di Bandung meskipun saya masih harus tetap rutin bolak-balik ke Jakarta sekitar 3-5 kali dalam satu bulan. Jakarta mau tidak mau tetap menjadi kiblat dan ibarat tempat penggilingan padi menjadi beras lalu dipasarkan kepada tengkulak. Semua usaha baik usaha skala besar maupun skala rumahan pasti akan terkena imbas akan banjir yang melanda. Dulu sekitar 3-4 tahun yang lalu saat saya masih bekerja kantoran, selalu ingat saat minggu-minggu menjelang Imlek pasti selalu ada pengumuman resmi dari kantor bahwa kegiatan perkantoran diliburkan. Maklum saja kantor saya dulu persisnya di Plaza Permata Jl. MH Thamrin yang kalau sudah tergenang hilanglah sudah wajah eksekutif yang terlintas.
Sejenak kita melupakan banjir - maaf saya tidak kebanjiran (lagi) -, bila kita terus mengikuti perkembangan media online dan kegiatan di dalamnya akan ditemukan begitu banyak generator-generator baru pencetak uang. Instagram salah satunya.