“And I'd give up forever to touch you, 'cause I know that you feel me somehow.
you're the closest to heaven that I'll ever be, and I don't wanna go home right
Entah sudah kesekian kalinya mencoba memahami benar arti dari kata ‘menyerah’. Dalam kamus besar bahasa indonesia menyerah itu berarti tidak mampu berbuat apa-apa, menurut saja (pada kehendak lain), dan juga mengaku kalah...
Bukan tentang berapa menit, jam, hari, minggu, bulan hingga menjelma menjadi tahun demi tahun kemudian pada akhirnya yang padahal hanya berawal dari sepersekian detik saja.
Jika memang sesulit ini, sesakit ini, dan sepedih ini yang harus dirasakan, bolehkan aku meminta pada sang hati untuk tidak memahami melodi yang tercipta ketika jantung berdetak tak menentu saat tatapanku jatuh pada sosoknya.
Kala dulu kami selalu menikmati indahnya irama yang menggema dan menggaung sebegitu kontrasnya. Melalui waktu demi waktu dengan senyum dan derai tawa bahkan disaat tetes air mata yang ikut mengalir.
Selalu berusaha menjadi yang bertemu dengan sang fajar pertama kali dan menjadi yang terakhir kali melambaikan tangan pada sang rembulan di antara jutaan makhluk hidup yang ada di muka bumi ini, hanya untuk bercerita tentangmu kepada sang pencipta yang entah sudah kesekian kalinya, ya, kami, aku dan sang hati...
Bahkan panasnya terik sang surya dan dinginnya angin malam yang memeluk erat takkan mampu walau hanya untuk sekedar meredupkan irama yang mengalun begitu hebatnya pada kami kala itu.
Namun sekarang getarnya saja mungkin sudah tak berirama dengan indah mengalun seperti dulu, dan sebuah ruang baru tercipta yang selalu terbuka lebar namun tidak dapat tertutup ataupun dimasuki. Terlihat dengan jelas dan seakan muncul sebuah benang halus yang terikat pada kami, tidak terasa erat ikatannya tapi mencoba melepaskan adalah hal yang tidak mungkin.
Sebuah kata tertulis pada langit-langit ruang itu yang mana bunyinya; “kenangan”