Disinilah aku, memandang pada kejauhan. Lembah hijau yang terbentang luas menghiasi indahnya sebuah desa kecil dan beberapa pepohonan pinus yang melambai mengikuti irama angin pagi ini. Menghirup dalam-dalam udara asri pegunungan, ya sangat dalam, hingga kesegarannya merasuk lembut dalam setiap jengkal bagian paru-paruku yang kemudian menyebarkan oksigen murni untuk kebutuhan setiap bagian tubuhku, seiring kemudian mengeluarkan karbondioksida yang menggumpal erat keluar bersama desahan lembut yang mengantarkan ingatanku kembali.
Kala itu aku tidak memahami bahwa waktu akan tetap berjalan mengalun erat mengiringi terbit dan terbenam sang mentari. Bahwa waktu akan tetap menjelma dari detik menjadi menit kemudian menjadi jam, hari, minggu hingga berganti menjadi tahun demi tahun tanpa memperdulikan setiap insan yang melangkah di bawah naungannya.
Mungkin diriku yang terlalu lugu atau egoku yang begitu bebal tidak perduli untuk memahami alunan demi alunan sang waktu yang melangkah berirama, atau juga mungkin aku yang terlalu lambat untuk berjalan beriringan bersamanya.
Ya, memang aku menikmati setiap helai nafas yang terbentuk ketika mengarungi hidup ini dengannya tapi aku lupa bahwa ketika aku berhenti, atau bahkan sekedar beristirahat, dia akan tetap berjalan tidak peduli apapun yang terjadi.
Jika menjadi lemah adalah sebuah kesalahan, maka entah sudah berapa kesalahan yang kubuat, tapi maukah setidaknya kau memahami aku pun berusaha, berusaha sangat keras untuk berjalan beriringan bersamamu atau setidaknya tidak tertinggal terlalu jauh cukup untuk melihat jelas punggungmu.
Kini bahkan ku tak dapat melihat punggungnya berlalu yang tersisa hanyalah bayang-bayangnya saja dalam angan, menemaniku erat, sangat erat yang sesekali muncul dan menggema kuat menggetarkan hatiku mengantarkan kesedihan yang mendalam.
Sebuah bunga terjatuh sengaja mengikuti air mengalir, tapi air mengalir tidak menginginkan bunga yang terjatuh itu.
Maaf..maafkan aku. Maukah kau sedetik saja kuingin kau melihat jauh ke dalam mataku untuk sekedar menemukan besarnya percikan api yang menari lembut begitu hebat untuk mencintaimu.
Hidup adalah perjalanan panjang dan sepi, walau kematian memang sangat menakutkan, tetapi terkadang menjadi hidup bahkan lebih menakutkan dari kematian.
Kutahu kau takkan mungkin kembali, kini, kenyataannya hanya tinggal aku seorang diri dalam diam, memandang kosong pada kejauhan dan meringkuk erat, tak ada air mata hanya kepedihan.