[X: pledis_17]

seen from Russia
seen from Malta

seen from Malta
seen from Romania
seen from Tunisia
seen from China
seen from Canada
seen from Macao SAR China
seen from Saudi Arabia

seen from United States
seen from Ireland

seen from Australia

seen from Canada
seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from India

seen from Jamaica
seen from Italy
seen from United States
seen from China
[X: pledis_17]
Menjadi Ibu Rumah Tangga
[ternyata ibu rumah tangga itu melelahkan]
Sejak mengetahui bahwa Allah titipkan janin di rahimku dengan lemah yang kurasakan saat itu maka kuputuskan untuk berhenti dari pekerjaanku yang baru kujalani selama 1 bulan dan masih berstatus magang. Memang ada beberapa faktor saat itu tapi mengungkapkan kepada kepala sekolah bahwa aku ingin belajar karena akan menjadi ibu adalah yang paling kuat. Esoknya aku tidak merasakan ada yang aneh atau jetlag karena di rumah saja, hari-hari sebelumnya aku sudah banyak ijin ke sekolah karena harus bedrest. Atau mungkin juga karena aku lebih nyaman di rumah sehingga tidak perlu adaptasi berlebih.
Aku mulai menjalani hari-hari sebagai istri rumah tangga. Seringkali bingung ingin melakukan apa setelah pekerjaan domestik selesai. Akhirnya aku mulai menyusun rencana belajar untukku pribadi. Mulai dari financial planning, seputar kehamilan dan persalinan, kajian, dan mendaftar kelas yang temanya sedang kucari.
9 bulan mengandung pun berlalu. Status dan peranku bertambah, aku sekarang menjadi ibu. Telah lahir anak laki-laki yang melengkapi kebahagiaan kami. Rutinitas terasa berubah. Hari-hariku dipenuhi dengan mengasihi.
Aku pernah mengeluh, "cuma nyusuin tapi kok capek ya".
Tapi aku tak boleh berlarut-larut dalam kelelahan dan menganggap ini hanya duniawi.
Aku memang lelah tapi bukankah ini adalah ibadah?
Sejak mengandung aku diingatkan atas banyak hal. Berada di rumah bergelut dengan urusan rumah tangga yang terkesan monoton lalu bertambah hadirnya bayi mungil yang komunikasinya masih sebatas menangis seringkali membuatku lelah dan jenuh sampai lupa bahwa semua peran ini jika lillah bernilai ibadah. Aku juga mulai menyadari meski apa yang dilakukan istri dan atau ibu terlihat sederhana tapi bermakna dan mulia.
Selaras fitrah, kita memang pengelola keluarga dan madrasah utama anak-anak kita, bukan?
Kelelahan dan kejenuhan kita itu wajar. Ialah Fatimah putri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam untuk meminta pembantu. Namun Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam malah memintanya untuk mengucapkan tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam justru meminta Fatimah untuk berdzikir sebelum tidur atas kelelahannya itu dan tidak memanjakannya.
Ali berkata, Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada seorang tawanan yang mendatangai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba, Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun beliau berkata. ‘Tetaplah di tempatmu’. Lalu beliau duduk di tengah kami, sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku. Beliau berkata. "Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik dari pada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu“.
(Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy 7/293)
https://almanhaj.or.id/232-wasiat-sebelum-tidur.html
Hikmah yang kudapatkan adalah
Lelah yang dirasa jadi lebih tenang, bukan berubah ingin marah sebab dzikir tadi
Bibir basah akan dzikir yang semoga Allah ganti dengan pahala dan surga
Jika lelah, berdzikirlah!