Adu meng-Adu
Layaknya berada dalam sebuah aquarium yang di dalamnya begitu padat dengan beragam ikan, saling berebut oksigen demi bertahan hidup. Riuhnya hingga membuat tertahan untuk beraksara. Tak mengerti mengapa otak seketika berhenti berpikir tentang manisnya sebuah makna dibalik peristiwa? Atau kali ini benar-benar sudah tak ada lagi yang dapat dimakai dengan manis? Rasa haus yang selalu muncul untuk memaknai suatu peristiwa hingga berujung pada manisnya sebuah keromantisan dari-Nya.
Semua orang ingin berbicara, berpendapat terhadap sesuatu. Beradu dalam aksara, kata per kata. Merasa selalu ada diposisi yang benar, ah sepertinya kita memang harus berkaca pada peristiwa. Jika berkaca pada masa lalu itu dilarang. Padahal masa lalu adalah sebuah pembelajaran besar yang dapat kita petik buahnya, iya buahnya saja, tak usah daun yang sudah layu.
Jika kita peka terhadap peristiwa, bahwa Allah-lah yang telah menetapkan sesuatu, atas kehendak-Nya lah sesuatu itu terjadi. Jika Allah tidak berkehendak, maka tak ada yang dapat terjadi, tidak, bahkan daun yang jatuh dari pohonnya.
Sepertinya kita diminta untuk bergelayut kepada-Nya, meminta-Nya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Jika Dia juga enggan menjelaskan, mungkin ada yang salah dengan kedekatan kita dengan-Nya.
Andai saja malam dapat protes kepada-Nya mengapa harus bulan yang teduh itu menemaninya yang membuat malam semakin dingin membuat orang-orang terlelap hingga malam tak mendapat perhatian dari manusia, mengapa tidak mentari saja yang begitu terangnya hingga menyilaukan mata yang membuat siang mendapat perhatian dari manusia.
Andai, semua orang kini pandai sekali berandai-andai, hingga tenggelam dalam damai, seolah tak tahu apa yang sedang terjadi. Seolah tak melihat karena sedang berada dalam malam yang teduh. Sebuah andai yang tinggi tak sesuai dengan realita. Hoax. Sebenarnya tak apa berandai yang tinggi, namun jika yang diinginkan adalah sebuah kuantitas bukan kualitas.
Aquarium itu semakin riuh, ternyata bukan karena tak ada peristiwa yang dapat dikulitinya dengan manis, hanya saja terlalu banyak peristiwa hingga harus dikupas satu per satu. Perlahan. Bukankah sebuah perubahan itu membutuhkan sebuah proses panjang. Bukankah sebuah strategi harus dimasak dulu agar nikmat saat dikonsumsi? Iya kan? Kau pasti paham. Begitu pula dengan aksara-aksara yang sedang random dalam aquarium itu.











