Panggilan Hati
Bangunan itu masih tetap kokoh, berdiri di tengah gedung-gedung tinggi. Tak ada kata megah yang mendampinginya. Sederhana, namun banyak diminati. Sesekali terlihat penuh sesak. Wajar saja, dia harus menampung ribuan manusia yang rindu akan wajah Allah-nya. Sesekali terdapat lingkaran-lingkaran yang sedang berdiskusi, terdapat tawa-tawa manis yang menenangkan hati, ah indahnya ukhuwah. Padahal mesti salah satu atau beberapa dari mereka yang sedang berdiskusi itu sedang di lukis kisah yang tragis yang mungkin membuat ia menangis. Tapi hebatnya semua itu tak terlihat, hanya wajah ceria yang berhasil membuat sekelilingnya tersenyum melihatnya. Sesekali pula ada yang sedang asyik dengan Qur'an-nya, membacanya, hingga sekelilingnya merasakan "cipratan" pahalanya. Tenang, hingga suasana bangunan itu semakin sejuk. Sesekali pula ada yang sedang asyik dengan laptopnya, serius dengan kertas-kertas yang berserakan di lantai. Hem sepertinya orang itu sedang bermain dengan data. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah "mengapa akhirnya dia memilih untuk melakukannya dipinggiran bangunan itu? Apa bangunan itu kelewat sejuk hingga ia tertarik?". Mungkin itu adalah pilihannya, dan bukankah kita harus menghargai pilihan dari orang lain? Iya bukan? Pasti iya, jika itu baik. Ditengah penuh sesaknya tepi-tepi bangunan itu, alarm jam yg khas bunyinya seperti ada bom yang akan meledak, tinggal menghitung hingga hitungan kesepuluh detik. Tapi tidak, tetiba suara microphone yang tengah dinyalakan untuk bersiap mengumandangkan. Seketika kudapati tepi-tepi bangunan itu menjadi sepi. Semua orang berbondong menuju bangunan yg lebih kecil lagi, yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tunggu, bahkan orang-orang yang sedari tadi tidak terlihat di sekitar bangunan itu kini ada di sekitar bangunan itu. Darimana mereka datang? Dan untuk apa mereka datang? Panggilan hati, begitu aku menyebutnya. Saat tubuh terlihat payah dan lemah. Bibir berbusa dan kering. Hati-hati menjadi sekeras batu. Akibat terlalu banyak bicara, akibat terlalu banyak berpendapat. Aku melihat banyak org yg payah nan lemah itu datang menuju bangunan itu, tepat pada saat sumber suara itu mengeluarkan suaranya. Panggilan hati, begitu aku menyebutnya, saat langkah-langkah kita beriringan menuju bangunan itu, saat terciptanya pertemuan dengan senyum nan manis. Saat kita menyempatkan untuk bercengkrama sesaat. Saat kita mencoba untuk saling menguatkan melalui keyakinan di hati kita masing-masing. Panggilan hati, hanya Dia yang bertanggung-jawab atas langkah kaki kita yang bersamaan itu. Tepat, langkah itu selalu berbarengan menuju-Nya. Bangunan kecil itu selalu memiliki cara untuk mengingat-Nya. Iya Dia yang berbisik, "tenang ada Aku disini, tersenyumlah".








