Malam ini, seperti biasa aku berharap tak ada klakson motor yg bersuara memaksa motor yang di depannya untuk berjalan saat lampu masih merah, atau mengingatkan motor didepannya saat lampu sudah hijau tapi masih tetap di tempat. Tak ada yang berbeda, selain disiangnya aku mendapat ide untuk menulis akibat menemukan kejadian menarik. Tapi tidak, perjalanan ku menuju rumah malam ini lebih menarik rasanya. Berharap langit bersahabat agar jalan tak terhambat, agar pulang jua tak terlambat. Awalnya memang bersahabat, aroma sendu yg dihasilkan angin yg bersiul merdu, membuat malam semakin syahdu, membuat suasana hati menjadi tak gaduh. Tenangnya, hilir mudik kendaraan bermotor yg berlomba untuk pulang menuju rumahnya masing-masing, tak ada yg ingin terlambat, begitupun aku. Seketika, saat sedang menikmati angin yang bersiul merdu, tetiba ada cahaya dari langit, semacam garis yang menyala. Ah aku tahu, itu pasti yang disebut dengan kilat, yang kemunculannya selalu dibarengi dengan suara gemuruh. Seolah tengah ada pertempuran di hamparan langit yang luas antara malam dan langit, gaduh sekali, sang malam mengeluarkan senjatanya yg bercahaya hingga mengagetkan langit. Langitpun mengeluarkan senjatanya yg berbunyi gemuruh hingga membuat malam tak lagi sunyi. Ah ini tanda-tanda langit akan menangis karena mungkin kalah dalam peperangan. Kendaraan bermotor itu ku kendarai dengan menaikkan kecepatan, agar aku tidak basah kuyup ketika sampai di rumah, walau jarak sebenarnya masih sangat jauh dari harapan. Rintik hujan mulai membasahi tanganku, jaket yg jua menempel di tubuh kini mulai basah dengan rintik hujan yang semakin tidak bersahabat. Saat ku buka kaca helmku, mataku benar-benar tak dapat melihat secara keseluruhan, karena rintik hujan yang terus menyerang mata sampai sulit untuk melihat. Ku putuskan untuk tetap menutup kaca helm, berlindung dibalik kacanya, kali ini, "maafkan aku hujan, bukan aku tak ingin bersua, hanya saja kini rintikmu sangat menyakiti mataku, aku benar-benar tak dapat melihat, seperti buta, maaf tak menyambut hangat". Semua toko-toko dipinggir jalan buru-buru menutup tokonya, berharap dagangannya tidak basah oleh hujan. Pandanganku semakin kabur akibat air yang menempel pada kaca helm, yang ku lihat hanya cahaya lampu belakang kendaraan. Jalan semakin sepi, hanya mobil besar yang berani untuk jalan, karena malam itu hujan benar-benar sedang tidak bersahabat. Di underpass-pun para pengendara roda dua berhenti untuk sekedar memakai baju hujan atau berhenti menunggu langit bersahabat dengan malam hingga membuat jalan tersendat akibat penuh sesaknya underpass itu. Jangan tanya aku berhenti atau tidak! Karena aku pasti akan menjawab tidak! Aku tak suka berhenti ditengah jalan hanya untuk sekedar memakai baju hujan, karena bagiku, saat ada halangan mengapa harus berhenti? Aku hanya melihat sekeliling, wajah-wajah cemas yang berharap adanya perdamaian antara langit dan malam. Aku terus bergulat dengan rintik hujan yang kini membuatku semakin kuyup, semua pakaian dibasahi oleh rintiknya, jaket yg biasa melindungiku dari airpun kini sudah tak dapat menahan curah hujan yg semakin bertambah. Iya bertambah, seperti rindu, ups. Skip. Jalan semakin gelap, membuat pandanganku semakin kabur, kini aku benar-benar sulit melihat, lampu-lampu yang biasa menerangi jalan, kini tak kulihat, aku benar-benar tak melihat apapun, selain pantulan cahaya dari lampu kendaraan motorku sendiri. Tanda-tanda dari adanya kendaraan lainpun kini sudah tak ada lagi. Hanya aku, iya. Di tengah jalanan yang luas dan gelap, kini hanya aku yang berjalan disana dengan berusaha untuk melihat, sesekali membuka kaca helm namun tak bertahan lama kembali ditutup. Namun saat ditutup kali ini benar-benar tak melihat apapun. Gelap. Sendiri. Takut. Khawatir. Dengan mencoba untuk mempertahankan tangan agar motor terus berjalan, mencoba untuk tidak berhenti karena itu adalah se-gelap-gelapnya jalan. Aku hanya bisa bertahan, pikirku. Tubuh yg sudah tak kuat akibat dingin yg kian menusuk tulang, namun aku ingat bahwa ada berkah dibalik hujan. Aku berusaha untuk menyelipkan do'a, entah do'a apa, yg penting aku berdo'a karena saat hujan do'a mudah diijabah, begitu yg ku tahu. Sembari mencoba berdzikir dalam hati, demi mendapat perlindungan illahi. Aku terus menguatkan diri. Gelap. Gang sempit yg biasa diwarnai dengan lampu, kini gulita, tak terlihat apapun, bahkan aku tak dapat membedakan jalan berlubang. Pasrah. Hanya itu, mencoba menyerahkan diri kepada-Nya, atas apa-apa yang akan terjadi. Seketika langit bercahaya akibat adanya garis putih. Terang. Walau sekejap. Setidaknya aku bisa tahu mana jalan yang berlubang dan mana yang tidak. Lalu kembali gelap. Bertahan dalam gelap dan bergulat dengan hujan bukanlah hal mudah ternyata. Namun, langit kembali terang, memberiku secercah harapan, dan kini aku tahu, mengapa akhirnya Allah memberikan gelap, agar kita memaknai cahaya. Bersyukur dengan hadirnya "kilat" saat gelap melanda.