Alone with the kids. Max is asleep. Jade’s watching TV. Mum and Shawn are cleaning up the pub. And here I am triggering myself with sad songs. Can’t relapse again, what would Marcie think? That’s become like a chant in my head now. I don’t know when my next counselling appointment with Rosy is - I really need to talk to her. I need someone to talk to. Or do I? Is this just me seeking attention? I don’t know anymore. Well. Anyway. I need to talk Mr. Psychiatrist (forgot his name) and talk about my antidepressants. They are making me very tired.
Akhirnya, memasuki umur 25 tahun, gue belajar, bahwa setiap orang itu memiliki kapasitas yang berbeda-beda. Semoga belum terlambat, ya.
So far, gue sangat bersyukur dan juga berterimakasih sama diri gue sendiri untuk enggak berhenti berjuang di saat gue merasa sedang ampas-ampasnya banget dan bahkan terpikir untuk menyudahi semua ini. Dan bahkan, belakangan ini gue udah mulai menemui titik terang akan apa yang ingin gue lakukan dengan hidup gue ke depannya dan gue seneng karena orang-orang di sekitar gue udah banyak yang mendukung (meskipun yaaah, ada aja ya yang nyinyir. Bingung, deh).
You yourself deserve to be dearly appreciated, by your own self.
Gue juga bersyukur gue menemukan kegiatan yang bisa membuat gue senang, yang bisa membuat gue setidaknya melupakan segala hiruk pikuk kehidupan dan juga pikiran gue sendiri yang super bising (dan terkadang cenderung toxic) ini. Gue senang korea-koreaan. Meskipun keliatannya remeh (dan mungkin freak atau alay bagi sebagian orang), tapi kegiatan ini udah terbukti berhasil menyelamatkan hidup gue dua kali, ketika gue masih SMA dan bahkan ketika gue sudah dewasa.
Bahkan mama, yang dengan nyibukkin dirinya nonton drama-drama korea.
Dulu gue diem-diem suka nangis kenapa orang-orang banyak banget yang masalah kalau gue masih korea-koreaan. Mulai dari yang klasik seperti “elah, lo udah umur gini masih aja korea-koreaan!”, terus yang ngeselin seperti “orang tuh udah pada mikirin nikah umur segini, lo masih aja korea-koreaan!”, atau yang paling gue enggak ngerti adalah kesenangan gue terhadap korea-koreaan dianggap pengaruh buruk buat yang lain like WTF??! Wow? Segininya elo butuh kambing hitam buat nyalahin hidup lo atau hidup orang lain?
Gue cuma korea-koreaan doang, apa sih bahayanya? Toh gue enggak ngerokok, enggak narkobaan, enggak minum-minum, atau bahkan seks bebas??? Dan gue pun korea-koreaannya enggak freak freak amat?
:(
Kenapa sih orang tuh enggak bisa ngeliat hobi korea-koreaan tuh seperti hobi-hobi yang lain kayak nonton anime, nonton bola, main games, baca komik, dan lain-lainnya? Terus rasanya pengen banget teriak "mereka tuh selalu ada buat ngehibur gue, selalu ada di saat gue sedih, enggak kayak kalian yang gue bilang sedih malah diketawain, gue bilang stress malah dibilang lebay, gue butuh temen cerita malah melengos enggak tau ke mana!" di depan muka mereka semua.
Tapi sekarang, gue udah jauh lebih masa bodo, sih. Mungkin mereka enggak punya kerjaan makanya ribet ngurusin hidup orang. Mungkin mereka sebenarnya butuh bala bantuan, tapi bingung, dan akhirnya malah rusuh ikut campur urusan orang. Mungkin ya.
Intinya, cari, temukan, dan lakukan apapun itu yang bisa membuat kalian tetap 'waras', syukur-syukur kalau itu bisa membahagiakan. Kalau kalian nggak bisa ngelakuin hal-hal yang super bermanfaat seperti ikut kegiatan sosial atau enggak punya banyak duit buat travelling, ya jangan dipaksain. Kayak gue, nontonin korea aja gue udah bisa lupa diri (lupa masalah, lebih tepatnya). Meskipun itu enggak lama, tapi setidaknya lebih dari cukup untuk mengalihkan isu di dalam pikiran gue sendiri.
:)
Dan di saat gue denger kabar ada yang berhenti berjuang (re: mengakhiri hidup) karena segala sakit mental yang diderita, gue selalu pingin menangis (bahkan kadang beneran nangis). Belum lagi judgement orang-orang tuh suka pada jahat banget, padahal mereka enggak tau betapa sakit dan beratnya berjuang untuk tetap bertahan. Mereka enggak ngerti kalau suicidal itu bukan cuma sekedar enggak kuat, kurang berdoa, enggak bersyukur, dll dll dll. Banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi dan bahkan si orang yang suicidal ini pun mungkin enggak ngerti dan lost karena kejiwaannya memang terganggu.
Kalau kalian merasa kuat, merasa bisa, good for you! Tapi kembali lagi, kapasitas orang-orang itu berbeda. Elo bisa, belum tentu orang lain bisa juga. Dan jangan pernah memaksakan standar lo ke orang lain, lebih-lebih ngejudge yang malah bikin semangat orang jadi semakin ngedown. Mungkin buat kalian remeh, tapi belum tentu buat orang lain. Be kind to everyone, please. Hidup itu udah berat dan jangan menjadi pain in the ass untuk orang lain, apalagi kalo elo enggak ada buat mereka di saat mereka butuh elo.
Terkadang, sekedar ikhlas dan banyak berdoa itu memang enggak cukup. Sama seperti sakit fisik, terkadang kita enggak cukup cuma sekedar istirahat saja; kita butuh dokter, orang yang bisa membantu kita buat sembuh. Begitu pun dengan sakit mental ini. Jadi, kalau misalnya memang merasa ada yang tidak beres dan mulai mengkhawatirkan, sangat disarankan untuk mencari bala bantuan dari yang paham dan kompeten.
Sulit buat gue buat nulis ini di ruang publik, tapi gue pikir ini cukup penting untuk dibagi. Siapapun yang kebetulan membaca ini, gue berharap kalian semua selalu sehat dan juga berbahagia. Sincerely. Makanya, setiap ada yang ulangtahun, gue pasti akan mendoakan supaya sehat selalu dan selalu berbahagia, karena melalui doa itu, gue pun sebenarnya sedang mendoakan diri gue sendiri. Emang kebacanya sepele dan penuh basa basi banget, tapi percayalah, segalanya terasa jauh lebih baik di saat lo sehat dan berbahagia.
Dan jangan lupa, be kind to everyone! Kalau enggak bisa baik ya mendingan diem aja enggak usah nyusahin orang karena hidup udah susah. Dan kalau ada teman, keluarga, atau orang sekitar yang membutuhkan bantuan di saat mereka depresi, please help and don’t leave them. Kalau enggak nggak bisa bantu dengan ngasih masukan, at least please listen and don’t judge. Bukan keputusan yang mudah untuk akhirnya berani membuka diri ke orang lain setelah entah sekian berapa lama struggling sendiri. Kebayang enggak sih kayak apa sakitnya di saat udah memutuskan untuk mencari teman, eh si temannya ini malah tidak peduli, lebih jahat lagi malah ngeledek dan ngejudge.
I’ve been there, guys. It’s so freaking ugly and it mostly led to anxiety disorder. Bagi yang masih sehat, jangan sampe tingkah obnoxious kalian menjadi alasan buat orang lain merasa tidak perlu percaya lagi ke sesama manusia.
Dan untuk kita semua yang masih berjuang untuk bertahan hidup, tetaplah berjuang! Meskipun segalanya terasa sulit, tapi percaya, pasti segalanya bisa dilalui karena Tuhan enggak ngasih ujian yang melebihi kapasitas umat-Nya. Fighting!
I had this really great dream, that it was snowing. I woke up straight away and literally ran over to the window, stepping on one of the girls to look out the window. Unfortunately it was pitch black outside so I couldn't see a single thing. Packed my bag super quick, managing to wake everyone up. Which they didn't mind, thank god, because we had to be awake and on the bus soon.
I ran down the stairs with all my luggage, nearly fell in my rush. I struggled to open the door but finally managed. IT WAS SNOWING. I was the first one up besides Scotty and Dee, so throwing my bags onto the bus I started a snowball fight. This was the first time I was seeing snow fall. I'd seen it on the ground before but never actually coming down. It was so exciting. Eventually everyone else was awake and outside, we probably woke them up, we weren't being very quiet with our snowball fight.
A bunch of 18-35 year olds all became six year olds in that moment. I have never had more fun.
Too soon we had to get on the bus, we were driving to Prague today. I sat next to Chris today, had a great chat. At one point Dee put Inglorious Bastards on, and I nearly threw up watching it. Didn't know it was so gruesome. Yuck yuck yuck.
We got to Mauthausen around 10 or so. Seeing as I had a really bad experience at Dachau I decided to stay on the bus with Scotty. While we waited from everyone else we watched Mrs Browns Boys and listened to Birds of Tokyo.
Eventually we got going again, just as we entered Czech Republic, we stopped for a lunch break. It was certainly different from Austria, even just over the border.
Scotty and I bought these sandwiches, they looked like pork so we though that would be the best option. Turns out, and only found this out after I'd finished eating, it was chicken. It really did not look like chicken which was a little concerning. Hopefully I wouldn't get food poisoning.
A hour or two later we were driving through the middle if the country and saw a prostitute walking casually down the street. Definitely a culture shock.
We arrived in to Prague around 8pm, pretty late considering how early we had left Kirchdorf. We had dinner at the hostel's restaurant then went on a walking tour. The walking tour finished around 12, where half the group went to the five story nightclub, the rest of us found our way home. Dee told us that the underground trains stop at 1am, but we when found the closest station, it turns out they were already closed. Fantastic. So a group of us tried to find a cab, instead we found a McDonalds that sells beer, a group of prostitutes and they were all smoking weed.
A very big culture shock. All being from Australia/New Zealand we were not at all used to this sort of thing happening out in the open.