Aku memyukai caramu memperhatikanku. Meski aku sering kali gagal paham apa yang tengah kau perhatikan.
Aku menyukai bagaimana kamu mempercayakan aku mengurus segalanya, termasuk mengurus diriku dan malaikat kecil kita. Meski terkadang aku tetap menunggu ekspresi khawatirmu akan diriku dan malaikat kecil kita.
Aku menyukai bahasa tubuhmu yang sedang dalam keadaan tidak baik (re: kesal). Tidak ada kata, tidak ada tindakan. Yang seringkali mampu meruntuhkan kepercayaan diriku, menjadi kekhawatiran luar biasa. Yang menjadi ladang pembelajaranku untuk tetap tersenyum, meski hati ketar ketir mengkhawatirkan “apa yang sedang kamu rasakan”.
Entah bagaimana dan kapan. Kamu membangun semua rasa itu yang kini mengokoh pada diriku. Terus dan terus akan terbangun.
Kelak akan aku sampaikan pada malaikat kecil kita, bahwa mencintai seseorang tidaklah dengan kata kata, melainkan dengan tindakan. Tentu saja dengan cara yang Allah ridhai.
Mencintaimu dalam ke-halal-an tidak membuatku jatuh. Tapi terus mengajakku untuk melakukan lebih banyak kebaikan, termasuk memperbaiki diri. Dengan begitu tumbuh kembanglah rasa yang Allah tetapkan.
Kalo kata ust. Salim A. Fillah, fungsinya suami atau istri sebagai fasilitator mendekatkan diri kepada Allah. ;p
Semoga kita sama sama berfungsi ya ..
Barakallah kamu yang menggenap 😍😘





