11-Rumah
Is it possible for home to be a person and not a place?
Aku memang tidak pernah mengkotakkan konsep rumah sebagai sebuah tempat. Sejak detik di mana aku memilih untuk meninggalkan rumah itu itu sendiri. Rumah bagiku ada di dalam diriku sendiri, pergi bersamaku ke tempat-tempat yang aku ingin singgahi, atau yang tidak sengaja karena takdir aku terbawa ke sana. Rumah bagiku adalah kehangatan canda tawa bersama orang asing yang baru dikenal kemudian menjadi karib. Rumah adalah kesepian yang ku rasakan ketika aku tidak lekas terlelap di malam hari dan hanya memandang langit-langit.
Namun, bagaimana mungkin aku terlambat menyadari segalanya? Entah sejak kapan, kamulah yang menjelma menjadi rumah itu. Saat akhirnya kamu memutuskan untuk pergi saat itu, aku baru menyadari bahwa aku telah memindahkan rumahku kepada kamu. Aku menitipkan segalanya, kunci-kunci kebahagiaan yang semestinya selalu aku bawa sendiri.
Itulah yang membuat semuanya tidak mudah. Kehilangan kamu berarti pula kehilangan tempat berteduh dikala hujan dan panas. Kehilangan kamu berarti hilangnya zona nyaman yang aku punya. Kehilangan kamu berarti pula tak ada lagi lukisan-lukisan indah di dinding rumahku. Bahkan dinding rumah itu pun turut hilang bersama kamu.
Bagi sebagian orang, hal itu mungkin dianggap sebagai sebuah resiko ketika hati sudah menjatuhkan pilihan. Bagiku, itu adalah sebuah kebodohan yang seharusnya tidak ku lakukan.
Kini kau mungkin sudah bahagia. Sudah bisa tertawa bersamanya, sedangkan aku masih tertawa getir kehilangan. Kamu mungkin sudah bisa menggenggam tangannya erat, saat aku masih berusaha menggenggam kenangan. Kamu mungkin sudah membuat rencana-rencana baru yang membahagiakan, sementara aku masih tak tau harus berbuat apa esok, lusa, nanti.
Begitulah. Menjadikanmu sebagai rumah adalah sebuah konsep yang menjebak dan menakutkan.







