Day 11: Talk about your siblings
Menjadi dewasa kali ini sungguh menyebalkan. Bahwasannya semua hal harus layak kupikirkan sendirian. Padahal kalau boleh ku menengok masa kelam, masa kanak-kanakku tak pernah luput dari kesepian. Ada dia yang mau diajak berjalan beriringan. Menjalani saban hari dengan berbagai tantangan. Saling bergandeng tangan menemukan petualangan. Aku ingin kembali ke masa kelam barang sehari saja, inginku rasakan lagi menjadi anak kecil dengan penuh rasa keingintahuan. Inginku ulang sekali saja berebut makanan, mainan, dan pakaian demi meraih rasa kemenangan.
Dia, mbak Dita(yem) aku menyebutnya. Saudara perempuan dengan selisih usia tak kurang dari 19 bulan. Haha, setiap masuk sekolah kami hanya beda satu tingkatan. Yang paling menjengkelkan ialah dia tak pernah baik pada adiknya sejak dahulu kala. Duduk di bangku sekolah dasar yang sama, alih-alih menjaga adiknya, dia lebih suka pura-pura tak kenal saban istirahat tiba. Perempuan keras, pemberani, tapi ku akui sebetulnya dia memang baik hati. Anak sulung, perempuan lagi, pundaknya beneran sekuat baja, hatinya seluas samudera, tapi jarang sekali seseorang bisa menyelami kedalamannya. Termasuk aku salah satunya.
Banyak peristiwa yang luput hilang dari perhatian. Banyak problematika yang selalu ia tanggung sendirian. Banyak penderitaan yang selalu ia tahan seorang. Banyak pengorbanan yang ia lakukan diam-diam. Ya, memang kuat sekali pundaknya. Jikalau sekarang dia masih bisa bebas berbicara denganku menyampaikan setiap bulir lika-liku, itu karena memang dia ingin menganggapku lebih dari sesuatu. Biar begini, aku menginginkan posisi adik yang baik bagi mbakku. Tapi terkadang gengsi mengalahkan segala hal. Apa-apa yang tak kuat ditanggung sendirian, akan tumpah ruah pada waktunya datang. Dan benar saja, memang pada akhirnya dia akan lari padaku, menumpahkan segala keluh kesah. Aku pun begitu. Ternyata sungguh membuat haru biru. Sudah dewasa juga ya kita kali ini?
Sejak kecil, selalu bermain tebak-tebakan, siapa yang akan nikah duluan. Karena wajar saja selisih umur kita tak jauh berbeda. Tak menutup kemungkinan aku bakal mendahuluinya. Tapi, ternyata tak begitu juga. Dia yang memilih nikah duluan. Kadang aku sungguh sedu sedan, kenapa dia nikah duluan, ku masih mendambakan jalan-jalan berdua beriringan, saling bertukar pakaian, dan menceritakan gebetan. Pikirku setelah dia punya dunia baru, akan tak lebih seru. Memang banyak masalah baru, tapi juga banyak kebahagiaan yang lebih bermutu. Terlahir malaikat kecil, gadis kecil, bernama Najeela, binar (juga nama panggilannya) matanya menyorotkan kehangatan. Aku rindu sekali dengannya, bukan mbak Dita, tapi dek Najeela. Bola matanya cantik bak emas permata, kulitnya putih merona, wajahnya berbinar bagai cahaya.
Kalau ditanya mungkin dirinya sekarang tak banyak berubah. Menyandang status sebagai seorang istri dan ibu bagi seseorang, tak ayal membuatnya luput dari perannya sebagai seorang kakak. Tak jarang ia jadi teman berbicara tentang segala hal, saling menelusuri berbagai ekspektasi yang patut dijualbeli, meniti mimpi yang patut untuk digapai kembali, jadi ruang pelarian kala cek-cok dengan Ibu di suatu hari, kadang juga sering menasehati.
Perasaan ini mungkin hanya secuil dari isi hati. Entah kenapa menuliskan sebait dua bait untuk saudara terasa amat sulit. Bukan gengsi, hanya saja tak semua hal bisa diucap lewat kata-kata manis. Tapi ya begitu adanya, hanya ini yang bisa kau baca. Kalau kau kira aku masih kurang romansanya, esok ku pikirkan dulu kata-kata manis untuk membuatmu menangis bahagia. Selamat mengarungi masa membosankan menjadi seorang kakak dari adikmu yang pas-pasan, mbak. Kuuntai seikat doa untukmu dan keluarga di sana. Semoga baik buruk kehidupan selalu bisa kaulewati dengan tegar seperti biasanya.
ditulis oleh: adikmu yang paling manis sejagat raya dan tiada dua pastinya