Tahun Kembar (4).
Dari berbagai kalimat yang sempat kelu untuk kuucap, semua tentang sendu. Berbagai macam pilu merenggut hidupku di tahun kembar kali ini. Tulisan ini akan kuakhiri sebagai penutup tahun yang berhasil menguras emosi. Tak ada yang musti berlaku biasa-biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Karena tahun ini sungguh tiada tara memang lika-liku yang dikaruniakan-Nya.
Kularung semua kesedihan, sendu, dan sesak yang sudah lama tertahan. Kembali kuukir penemuan dari setiap jengkal nafas yang hilang dari genggaman. Semua yang sempat hilang kali ini seolah tampak tak menyakitkan, tapi ia meninggalkan luka yang melubang. Tak cukup hanya sembuh sekali diperban. Ada goresan yang kubiarkan menganga. Agar esok saat suka tiba, ku bisa menertawakan dukaku seorang. Dan aku akan berkata 'ternyata aku bisa juga melewatinya'.
Bagaimana bisa tahunku kali ini ditutup dengan kabar bahagia yang sungguh membuat senangnya tiada tara. Sungguh kejutan dari semesta kali ini memang luar biasa membuat suka ria. Bukan mimpi, tapi sebagian dari harap dan doa yang sering kuacap, ternyata terkabul di waktu yang begitu cepat. Ku masih jelas teringat bagaimana aku memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan yang tepat. Mungkin juga berkat doa Ibu yang makin lekat.
"bu kalau disuruh milih, Ibu lebih suka dekat dengan anak-anaknya nggak?" — pertanyaan klise yang kerap kali dilontarkan anak pada Ibunya yang perlahan menua. Ibu manapun pasti menginginkan dekat dengan buah hatinya. Namun, anak juga manusia ia berhak memilih dimana ia akan tetap tinggal. Terlebih lagi aku ialah manusia rebel yang tak suka diatur apalagi sekadar dituntut. Beruntungnya, Ibu ialah manusia baik yang tak pernah menuntut berbalik. Lakuku kali ini sungguh membuat haru biru, aku diam-diam mengubur dalam-dalam impianku untuk pergi jauh dari orang-orang yang mengajariku caranya berjalan. Kali ini tanpa keraguan, aku memilih untuk tetap tinggal, aku ingin kembali melihat mereka menua dalam lamunan.
Tahun ini memang tentang melepaskan, apa-apa yang hanya tertanggal pada pundak dan menambah berat beban. Prasangka buruk tentang masa depan, praduga jahat tentang orang-orang tersayang, kularungkan perlahan dalam keikhlasan. Tahun ini tentang menerima, segala kepemilikan yang telah Tuhan karuniakan. Keluarga yang amat lekat untuk didekap, teman yang amat nyaman untuk diajak berkawan. Peluk kembali mereka yang terkasih agar tak kutemui lagi kesendirian. Satu hal yang tak boleh kulupakan, bahwa masih banyak yang sayang denganku di balik layar. Mereka turut mendoakan dengan diam-diam. Dan Tuhan pun terrayu pada kalimat-kalimat lugu yang mereka layangkan.
Tahun ini memang beda, iya bagiku sungguh berbeda. Jika di setiap pergantian tahun biasanya ibu mengajak kami ke rumah saudara, merayakan tahun baru di sana sambil menonton kerlip kembang api yang elok parasnya. Namun, tahun ini lagi-lagi tak sama, kata dia mending di rumah saja. Selain menghormati orang lain yang sedang bekerja melawan pandemi, juga menghargai keluarga yang sedang terbaring sakit seorang diri. Sesekali Ibu melatih empati, agar anak-anaknya tak mudah menginstrospeksi lain pribadi. Jikalau sudah begitu, bagaimana bisa aku berhenti menyanyanginya dengan sepenuh hati?
— Selain diriku seorang, Ibu ialah orang pertama yang akan ku hadiahi ucapan terima kasih. Satu tahun penuh aku hidup satu ruang bersamanya, kembali mengukir cerita-cerita lama dan mengulik berbagai peristiwa yang tak ayal membuatku berhenti berburuk sangka. Terima kasih untuk tak menuntutku menjadi nomor satu, menerima diriku dengan segala keresahanku, dan terus mengajariku bagaimana gigih untuk menjadi sesuatu. Ibu semoga kata sehat selalu dikaruniakan padamu. Ibu lah satu-satunya manusia di dunia, yang aku takuti jikalau ia pergi.
(serangkaian cerita dari #tahunkembar ialah pengalaman personal penulis, daripada ia terlalu berisik untuk dibiarkan berjalan-jalan di kepala, maka penulis tuangkan dengan harap ketika tahun-tahun berat kembali menimpa, penulis teringat akan betapa kuat dirinya karena sempat menanggung ini semua)









