Senja mulai menua, cahaya jingga perlahan tersapu hitamnya malam, mentari diam-diam kembali ke peraduan, memasrahkan alam raya diselimuti kegelapan. -- Kelap-kelip lampu mulai dinyalakan, cahayanya benderang, mengalahkan temaramnya purnama. Adzan maghrib berkumandang, diiringi teriakan "ayo pulang" dari anak-anak yang sedang bermain di tanah lapang. -- Aidin masih di luar, duduk di bawah pohon jengkol, ditemani gerobak cireng kesayangan. Matanya terpejam, segala permasalahan berpaut berkelindan dalam pikiran, satu jadi perhatian, permintaan ibunya agar Aidin berhenti dari sekolahan. Keuangan tidak memungkinkan, biar sekolah adiknya saja yang diutamakan. Aidin tahu itu bukan permintaan, itu perintah yang harus dilaksanakan. -- Logika Aidin setuju dengan ibunya, apa pentingnya sekolah tinggi, banyak yang hanya lulusan SD bisa jadi orang kaya, lihat itu Zaskia Gotik. Pun yang hanya lulusan SMP, bisa jadi Menteri, lihat itu Ibu Susi Pudjiastuti. -- Sekolah tinggi juga tidak menjamin orang berbudi tinggi dan berkarakter cemerlang, lihat itu yang ditangkap KPK. Minimal, mereka bergelar Sarjana. -- Lagian buat apa cape-cape sekolah, di sekolah juga hanya disebut anak nakal, nilai pun tidak pernah besar, bahkan banyak juga mengatakan kalau Aidin anak bodoh. Jadi, apa lagi yang mau diperjuangkan? Yang penting itu, bisa nulis, baca, sama sedikit berhitung, agar tidak mudah dibodoh-bodohi. Dari pada sekolah tinggi, punya gelar berjejer panjang bagai kaki seribu sedang latihan gerak jalan, tapi kerjaannya ngapusi dan ngakal-ngakali orang. -- Akhirnya Aidin benar-benar berhenti sekolah, Wali Kelas dan guru favorit Aidin yang datang untuk membujuknya kembali sekolah, tidak Aidin hiraukan, dia sudah kuatkan tekadnya, tetapkan niatnya. Bagi Aidin sekolah bukan takdirnya. Buat apa sekolah kalau hanya untuk dicap sebagai anak nakal dan bodoh? -- #30DJ #30DJ2 #30DJ2Day30 #ceritasiaidin #sekolah #madrasah #pendidikan #akhirapril https://www.instagram.com/p/Bw3E7T0AdDW/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=7rihv4mkq6p2















