Hatimu Tak Selebar Jilbabmu
Hari Jumat ini ruangan kerja terasa sangat dingin. Bukan karena para karyawan yang saling berdiam diri dan tak banyak cakap, namun memang AC di ruangan terasa sangat dingin. Terlihat angka enam belas pada tombol pengatur suhu. Cukup untuk mendinginkan dua ruangan yang hanya disekat dengan almari besi. Jam yang bertengger manis di dinding menunjukkan pukul setengah satu siang.
“Wah udah istirahat. Aku mau ke sebelah. Ada yang mau ikut ga?” tiba-tiba suara Ana memecah keheningan.
“DTC, Kak? Mau borong ya? Ikut donk.” Riri menyahut dengan cepat.
“Hayuk, Dek Nisa mau ikut ga?” Ana berdiri dari tempat duduknya demi untuk dapat melihat wajah Nisa karena terhalang oleh komputer.
“Hemmm….Nisa ikut deh Kak, tapi tunggu mau ambil uang dulu di tas.” Teriak Nisa sambil berlari menuju mejanya.
“Kak Sinta masih ada kerjaan ya? Mau ikut ga?” Riri berjalan ke arah meja Sinta.
“Engga, harus buat paparan dulu. Nitip makan ya.” Sahut Sinta sambil terus menatap layar komputer di depannya.
“Kak Sinta berani ditinggal sendiri? Ga ngambek kan?” Sinta terkekeh mendengar pertanyaan dari Ana.
“Emangnya kayak Dek Nisa yang ngambek ga diajak monitoring terus keluar grup.” Jawab Sinta sambil terbahak. Seisi ruangan langsung menjadi riuh dengan suara tawa mereka berempat. Sampai-sampai Rini, karyawan ruangan sebelah ikut mendekat karena penasaran dengan keriuhan di ruangan sebelahnya.
Nisa yang sudah berdiri di ambang pintu keluarpun tiba-tiba mematung. Ia bimbang ingin terus keluar dari ruangan atau berbalik arah.
“Makanya jangan suka ngambek, jadi suka dibully kan. Pake keluar grup segala. Hatimu sempit dek, ga selebar jilbabmu itu.” Sinta terus memborbardir Nisa dengan kalimat yang bernada gurauan. Jedeeeeeerrrr! Nisa seperti mendengar ledakan di rongga dadanya. Hatinya bergetar hebat, meledak dan berceceran ke segala arah.
“Wuuuiiiihhh…dalem banget tuh, Dek!” sahut Riri sambil sibuk menghitung lembaran uang di dalam dompetnya .
Dengan sekuat tenaga Nisa membalikkan badan. “Haha udah biasa Kak, Nisa dibully mah.” Balas Nisa sambil tertawa. Ia berusaha menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Ia juga masih menahan agar butiran bening itu tak sampai menetes. Hanya terlihat matanya yang berkaca-kaca. Ia menyempatkan untuk tertawa mengikuti gurauan teman-temannya. Namun di salah satu sudut hatinya ia merasakan seperti ditusuk sembilu. Tajam.
Nisa memang baru saja hijrah memakai jilbab yang lebih lebar dari biasanya beberapa bulan belakangan ini. Banyak komentar dan sindiran yang ia terima. Mungkin saja Allah sedang menguji keistiqomahannya melalui orang-orang di sini. Selain itu, Nisa merupakan karyawan termuda di bagiannya. Emosinya masih gampang berubah dan pendiriannya juga sering goyah alias labil. Namun ia terus belajar untuk menjadi pribadi dewasa seperti karyawan lainnya yang rata-rata sudah berkeluarga. Beranjak dan bergerak menuju pribadi yang lebih baik lagi tentunya.
Terkadang ada orang yang tidak sadar bahwa yang telah ia ucapkan ternyata menyakiti hati orang lain. Mungkin ia tidak pernah memikirkan terlebih dahulu kalimat yang akan ditujukan kepada orang lain. Apakah kalimat itu menyakiti atau sebaliknya menguatkan. Asal buka mulut. Asal mengeluarkan isi kepala. Pernahkah kita menanyakan kepada hati sendiri, apakah kalimat ini akan menyakiti atau tidak jika ditujukan kepada diri sendiri. Bahkan dalam bentuk gurauan sekalipun seharusnya dipilh mana yang kira-kira akan menyakiti mana yang tidak. Lebih baik diam dari pada bicara tidak bermanfaat, lebih baik membisu dari pada bergurau banyak mudharat. Karena diam akan menjauhkan kita dari perbuatan menyakiti hati orang lain melalui lisan kita. Suara hatinya terus menari-nari di kepala sepanjang perjalanan menuju mall DTC.
Ayo kuat, Nisa. Hanya karena disindir seperti itu saja sudah mau menyerah. Ayo semangat, Nisa. Jadikan setiap komentar, sindiran atau apapun yang keluar dari lisan mereka sebagai motivasi untuk berubah jadi lebih baik. Bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Tunjukkan kamu bisa! Kini suara hatinya mencoba menyemangati.
Ia bertekad untuk tidak mudah menyerah hanya karena komentar dari orang lain. Dan akhirnya terbitlah senyum dari bibirnya. Lalu ia pun berlari mengejar dua temannya yang berada jauh di depan.