Untuk Yang Selalu Bertanya Kapan
Saat bertemu teman lama yang menggendong seorang anak sedangkan kita masih sendiri menggendong backpack, lalu ia menyerang kita dengan pertanyaan, “Kapan Nyusul?” Rasanya ingin pergi ke dunia lain tak berpenghuni agar tak ada lagi yang mengusik hidup kita dengan pertanyaan maut itu.
Saat di kantor kedatangan tamu yang usianya masih muda dan kira-kira belum menikah, lalu terdengarlah backsound-backsound dari berbagai penjuru ruangan. “Ehem uhuk uhuk”. Lalu di mana kita akan menyembunyikan wajah yang merah merona tersipu malu? Seperti ingin membenamkannya ke tumpukan berkas.
Saat sedang berdiskusi dengan rekan-rekan kerja dan ujung-ujungnya sampai kepada bahasan yang membuat baper, setelah itu meluncurlah pertanyaan sejuta umat dari mulut-mulut mereka, “Kapan menikah?”. Bagaimana rasanya? Seperti ingin marah lalu left dari percakapan grup whatsapp.
Ketika sedang asyik mengerjakan tugas lalu tiba-tiba menerima email dari seseorang yang telah lama kita menyimpan rasa untuknya, di dalam email tersebut ia bertanya,”Kapan siap dilamar?” Serasa ingin guling-guling di lantai sambil berteriak sekencang-kencangnya. Namun kalau ‘kapan’ yang ini sayangnya hanya di dalam mimpi.
Untuk yang selalu bertanya kapan lebih tepatnya kapan menikah, sungguh pertanyaan itu seperti sembilu yang menancap di hati. Maaf ini terlalu lebay. Mungkin lebih baik jika pertanyaan tersebut diganti dengan sebuah doa. “Semoga cepat nyusul ya”, “semoga disegerakan ya” Bukankah doa-doa ini akan terdengar lebih menentramkan? Bukan kapasitas kita sebagai manusia untuk mengetahui siapa jodoh kita dan kapan waktunya menikah. Allahlah Yang Maha Mengetahui. Allah telah mengatur dengan caraNya sendiri. Manusia hanya bisa berikhtiar dengan sebaik-baiknya.
Untuk yang selalu bertanya kapan lebih tepatnya kapan menikah, memang hidup berdua memberikan keberkahan dan pahala yang berlipat-lipat. Namun, jika kesendirian menjadikannya lebih produktif dan bermanfaat, apa salahnya? Pernahkah mencoba sekedar melihat dengan seksama, menelisik jauh ke dalam raut wajah para jomblo yang ditanya kapan nikah? Dibalik senyum dan tawa ceria, sesungguhnya ada sedikit rasa yang semacam ditusuk jarum. Hatinya.
Untuk yang selalu bertanya kapan lebih tepatnya kapan menikah, sebaiknya jangan melukai para jomblo dan jangan membuat mereka semakin galau dengan pertanyaan semacam itu. Sebaiknya ajaklah mereka untuk lebih berproduktif di dalam hidup dengan cara belajar sesuatu yang baru dan menghasilkan karya sebagai jalan untuk menebarkan sebanyak-banyak kebaikan. Bukankah waktu penantian seharusnya digunakan untuk hal-hal yang positif?
Untuk yang selalu bertanya kapan lebih tepatnya kapan menikah, sesungguhnya pertanyaan ‘Mau saya carikan?’ akan jauh lebih membahagiakan dari pada pertanyaan ‘Kapan menikah?’ Jadi, bahagiakanlah setiap penduduk yang menjadi sasaran pertanyaan tersebut. Karena saling menjaga perasaan adalah sebaik-baik jalinan silaturahmi.
Sedangkan untuk yang selalu ditanya kapan menikah, bersabarlah tanpa batas. Allah masih memberikan banyak waktu untukmu memperbaiki dan menyiapkan diri menyambut kehidupan yang baru. Tetap semangat berkarya! Semoga disegerakan ya.












