Permulaan, Perjalanan, dan Penutupan
Perjalanan dari Perpustakaan Cikini menuju rumah membutuhkan waktu 35 menit. Aku hanya perlu menunggu Mikrotrans Jaklingko di pemberhentian bus Taman Ismail Marzuki atau berjalan sekitar 15 menit menuju Stasiun Cikini. Sesampainya di stasiun, aku akan menuju peron dua menunggu kereta relasi Jakarta Kota-Bogor. Cukup dua pemberhentian untuk sampai di stasiun tujuanku, Stasiun Tebet. Dari stasiun ke rumah, aku bisa berjalan kaki atau naik Mikrotrans Janglingko.
Cepat sekali perjalananku, tidak butuh banyak waktu untuk sampai di rumah. Tentu hal ini patut disyukuri karena akses menuju perpustakaan cukup mudah. Terlebih lagi transportasi umum sudah jauh lebih baik. Jika butuh rute untuk pergi ke suatu tempat, aku cukup menggunakan Google Maps. Hanya perlu tiga langkah sederhana, mencari lokasi tujuan, menentukan lokasi berangkat, dan pilih transportasi umum mana yang mau digunakan.
Awalnya aku kesulitan membaca rute dan peta. Namun, semakin sering menggunakan transportasi umum, semakin mudah memahami keduanya. Senang rasanya mengulik lokasi tujuan melalui peta. Melihat keadaan sekitar supaya familiar dan mencari hal menarik yang ada di sekitar lokasi tujuan. Tidak jarang aku merasa sudah paham tempat tersebut padahal belum pernah ke sana sekalipun. Barangkali aku sudah kecanduan membaca peta.
Melihat tempat-tempat yang menarik melalui peta, membuatku penasaran keadaan aslinya. Ingin sekali pergi ke semua tempat yang pernah aku intip melalui Google Maps. Sayangnya keadaan dalam foto kadang tidak sesuai kenyataan. Di sinilah pentingnya mengelola ekspektasi. Jauhkan ekspektasi berlebihan agar tidak terjerumus dalam lembah kecewa.
Beberapa tempat yang aku kunjungi tanpa bumbu ekspektasi, biasanya akan menjadi tempat yang membuatku jatuh hati. Ternyata sepenting itu menjaga ekspektasi. Semenjak merendahkan ekspektasi, rasa kecewa semakin jarang menghampiri.
Perjalanan memang memberikan banyak pelajaran. Melalui perjalanan aku berkontemplasi. Menanyakan perasaan sakit yang mungkin masih tertinggal dari luka di masa lalu. Biasanya aku akan menangis jika mengingat kesedihan. Merilis perasaan adalah hal penting dalam penyembuhan. Kabar baiknya, cukup mudah bagiku memperbaiki keadaan. Perasaan sedih bisa hilang dengan kebahagiaan hanya dengan melihat langit dan merasakan angin yang berhembus. Benar kata orang-orang, sedih dan senang bersemayam hanya sementara. Tidak ada yang bertahan selamanya.
Begitulah perjalanan. Perasaan yang aku rasakan semuanya semenatara. Seperti angka dollar yang sering naik turun, perasaanku pun demikian. Ada saatnya aku bahagia dan tertawa lepas, ada saatnya aku marah dan menghindari semua orang, ada saatnya aku tidak merasakan apapun dan ingin pulang ke rumah. Mengelola perasaan selama perjalanan harus selalu diperhatikan. Berbahaya jika perasaan negatif terus membalut diri. Alih-alih membuang perasaan itu, ada baiknya mendengarkan keinginannya.
Apakah diri ini sudah lelah? Apakah ada masalah yang membuat tidak tenang? Apakah ada rasa sakit yang tidak dimengerti sebabnya?
Dalam perjalanan, kita akan selalu dihadapkan pilihan. Pergi ke mana, makan di mana, mau melakukan apa. Semua hal penuh pertanyaan. Sama halnya dengan mendengarkan diri sendiri. Selalu ada pilihan mendengarkan atau mengabaikan, melakukan sesuai kemauan atau melakukan kompromi untuk mencapai kesepakatan. Suara yang muncul dalam hati bisa jadi perasaan paling jujur dan tulus. Namun, bisa jadi itu hanya hasrat yang tidak perlu dituruti. Lalu, bagaimana mengenali suara yang tulus dan tidak?
Jawabannya hanya satu, berlatihlah. Selayaknya seorang anak, semakin sering kita mau mendengarnya semakin mudah baginya untuk berkata jujur. Seringlah mendengar suara yang muncul dalam benak. Coba telaah keinginannya dan perhatikan hal yang terjadi setelah menurutinya.
Dulu aku kesulitan mengenali suara yang muncul dalam benak dan pikiran. Aku bergelut dengan diri sendiri tanpa tahu mana suara yang paling jujur. Sulit mengetahui mana yang baik dan buruk dengan kepala panas. Akhirnya aku mencoba berdamai. Melakukan perjalanan sendiri dan duduk dengan tenang tanpa sibuk melakukan banyak hal menjadi cara mendengar semua suara tersebut. Memahami mana suara yang tulus dan mana suara yang tidak boleh dituruti.
Permulaan, perjalanan, dan penutupan. Ada tiga babak yang akan dilalui saat ingin menuju ke suatu tempat. Jika dirimu adalah sebuah buku, maka langkah pertama keluar rumah adalah permulaan membuka buku. Setiap langkah dalam perjalanan yang ditempuh menjadi bagian membaca buku. Lalu sampai di tempat tujuan adalah menutup buku.
Sudahkah membaca dirimu melalui perjalanan?