Dari Era Sulih Suara hingga Suara Asli
“Itu orang Korea bisa bahasa Indonesia?”
Ayah pernah bertanya hal tersebut ketika menonton drama Korea pada awal tahun 2000. Saat itu semua program yang berasal dari luar negeri pasti menggunakan sulih suara.
Era 2000-an menjadi permulaan masuknya drama Korea ke Indonesia. Tayang hampir setiap hari di televisi nasional berlambang ikan terbang. Sebut saja Autumn in my Heart, Winter Sonata, Full House, Coffee Prince, dan The Great Queen Seondeok.
Perlahan era menonton drama di televisi mulai bergeser. Dari televisi lokal menuju dvd, televisi kabel, dan situs web ilegal. Lebih banyak pilihan dan jauh lebih terbaru. Perlahan kita pun terbiasa dengan suara asli para pemainnya. Beberapa drama yang terkenal antara lain Boys Before Flower, My Girlfriend is Gumiho, dan Missing You.
Era menonton di dvd dan situs web ilegal bertahan cukup lama. Penonton drama tidak punya banyak pilihan jika ingin menikmati tayangan favoritnya. Untuk sebagian orang, mungkin hal itu bukan menjadi masalah. Namun bagi sebagian yang ingin menonton secara legal, biasanya merasa tidak nyaman.
Ternyata tidak butuh waktu lama, penonton dikenalkan dengan layanan menonton melalui internet. Sebut saja Viu, Netflix, Catchplay, dan masih banyak lagi. Pilihan semakin beragam dan harga yang dibayar pun lebih besar dari sebelumnya.
Kebiasaan berubah, cara menonton berubah, dan pandangan kita tentang sulih suara pun berubah. Kita pasti merasa tidak nyaman dengan tayangan yang menggunakan pengisi suara. Sudah terbiasa dengan suara asli yang lebih terasa emosinya.
Era terus bergeser, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?








