Mataku sangat mengantuk saat samar-samar terbangun mendengar suami yang sedang serius berbicara di telepon dengan bagian HRD di pabrik tempatnya bekerja. Sebenarnya tidak aman menelepon sambil menyetir. Sepertinya ini urgent.
“Bu, saya sudah dapet sebenarnya siapa yang ambil dokumen untuk pemesanan barang dari Thailand itu!"
Meski matanya berat menahan kantuk dalam arus kemacetan jalan menuju rumah adik ipar, dia terlihat bersungguh-sungguh.
"Saya barusan ditelepon sama Jayatran. Mereka bilang dokumen pengambilan kargo untuk Aircraft Indonesia dari Thailand sudah ada yang ambil waktu mereka ke Garuda. Dikira saya yang salah beri instruksi. Sementara saya, ga pernah ngasih kerjaan begini ke yang lain,” suami menjelaskan.
Mungkin kurang nyaman dan mulai lelah memegang HP dengan tangan kiri dan menyetir sekaligus, loudspeaker-nya pun diaktifkan. HP disimpan di depan lengkungan speedometer. Kemudian lawan bicaranya menyahut.
“Oh, begitu? Jadi, bapak sudah tau, ya, suratnya bukan bapak yang tanda tangani?”, kukenal itu suara bu Retno kepala HRD.
“Ya, nggak lah, bu. Kalaupun Aircraft memang ngasih surat kuasa ya, direksi lah yang berwenang, udah bukan saya!”
“Oh, jadi, ketahuan banget malahan, ya,” timpal bu Retno.
“Ya, bu. Sekarang yang saya mau tanya, bakal diurus sesuai jalur hukum atau kekeluargaan dulu?”
“Kalau dituntut jalur hukum yang pasti barangnya disita dulu. Sementara bagian produksi sangat membutuhkan makanya sampai diimport dari Thailand. Kalau secara kekeluargaan kemungkinannya juga belum pasti,” suami mencoba memberi gambaran.
“Berapa lama biasanya proses sidang kalau kita perkarakan?” tanya bu Retno lagi.
“Ya, macam-macam, bu. Bisa tiga atau enam bulan. Kayaknya ini sudah terorganisir. Orang dalam dari Thailand-nya kerjasama dengan pihak kargo Garuda. Pura-puranya nunjuk satu perusahaan untuk ambil dokumen,” eits…macam drama detektif yang biasa di FOX Crime aja, pikirku.
“Saya tahu modusnya. Ngertilah, ujung-ujungnya nanti minta tebusan pengambilan barang. Ini bisa dikategorikan pemerasan,” mata mengantukku jadi membelalak menyimak pembicaraan mereka. Seremnya.
“Oh, begitu ya? Aduh, kok, bisa?” bu Retno mungkin bertanya-tanya sama seperti aku yang baru terbangun.
“Nah, yang mau saya tanya sekarang, masalah ini mau disampaikan ke direksi sama Yutaro san, ga? ”
“Biar direksinya ada kerjaan sedikit, jangan saya melulu,” suami memberi saran.
Aku tahu direksi yang dimaksud adalah pimpinan bagian office yang lebih rajin up date status di medsos ketimbang turun ke lapangan mengecek pabrik.
“Oh, iya, biar mereka yang maju,” sahut bu Retno. “Yang penting pak Pras cari tahu sampai tuntas dan nanti Senin kasih laporan ke mereka.”
“Iya, bu. Karena di surat kuasa itu tertera nama dan tanda tangan saya. Ada cap basahnya juga malahan dari kita untuk mendukung keasliannya. Padahal saya kan, ga pernah bikin. Cuma kalau sudah di atas kertas begitu susah juga ngelawannya kalau ga tau caranya.”
“Yang penting, kalau nanti ada hal-hal yang bersangkutan dengan saya pihak direksi nanti tahu cara mengatasinya.”
“Oh, iya, betul! Berarti Senin bikin laporan lengkap dan kasih tau kronologi sampai dokumennya dipalsukan,” bu Retno merangkum solusi untuk agenda Senin.
“Siap, bu. Nanti saya telusuri ulang. Senin dibahas juga pas standing meeting. Makasih, bu,” selesai juga perkara pemalsuan surat.
“Ada-ada aja cara orang nyari duit,” keluh suami.
Mobil pun berbelok memasuki halaman rumah adik iparku.