RAMADHAN 1446 H, BULAN SILATURAHIM #part1
Momen Ramadhan tahun ini, menurutku menjadi momen yang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ibaratnya tahun ini jadi tahun mendobrak “benteng” yang selama ini “menutupi” jalan yang ingin dilalui. Dimulai dari perjalanan aku dan adikku ke Padang beberapa hari sebelum puasa, dengan tujuan utama ziarah ke makam almh mama, memperpanjang surat izin makam, dan merapikan makam beliau menjadi lebih cantik dan asri. Betapapun kami sudah melepaskan kepergian mama, namun tetap saja rindu itu ada. Ma, kita ketemu yuk di mimpi, kami rindu sekali ni.. :)
Lalu menginap di kediaman salah satu keluarga alm papa. Berbagai macam kisah hidup pun mengalir. Sudah lama sekali kami tak merasakan momen ini, ditambah dua tahun belakangan ini kami memutuskan untuk “menepi sejenak” dari keramaian. Menepi bukan karena tak mau menyapa dunia luar, bukan karena tak mau bersosialisasi. Namun menepi untuk menata kembali hati, pikiran, dan raga kami agar mampu kembali ke posisi yang semestinya, bahkan bisa melaju lebih cepat, melompat lebih tinggi.
Selanjutnya, kami keliling silaturrahim ke rumah saudara-saudara almh mama kami yang bermukim di Padang. Seperti biasanya dalam silaturrahim, kami saling berbagi kabar, bercerita, bercanda, menyimak nasihat dari beliau semua. Ada rasa bahagia dan terharu, bahwa kami bisa juga keluar dari “kandang”, kembali menyapa keluarga sebagai orang terdekat dalam hidup kami. Tentu saja menyambung silaturrahim, juga melanjutkan kebaikan dari kedua orang tua kami. Yang selalu aku ingat, sejak kami kecil, beliau berdua selalu menyempatkan diri mengunjungi keluarga dan kerabatnya jika sedang kembali ke Indonesia dan kami selalu diajak.
Perjalanan kami di Padang diakhiri dengan ziarah ke makam almh mama kami lagi, juga mengunjungi Masjid Raya Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, atau disingkat dengan Masjid Raya Sumatera Barat. Di sana kami melaksanakan sholat Zuhur dan Ashar juga tadarrus Al-Quran. Kala itu, banyak dari pelajar SMA dan SMK yang juga berkunjung ke sana untuk melaksanakan sholat berjama’ah.
Bulan nan suci tahun ini, bagiku menjadi bulan silaturrahim. Bulan pembuka, pembuka jalan untuk beranjak dan melangkah kembali, pembuka jalan komunikasi dengan keluarga setelah sekian lama tak bersua, pembuka pintu batin, menenangkan pikiran dengan mengunjungi masjid dan beribadah di dalamnya.
Bagi kami, kita yang sedang berproses berdamai dengan kondisi dan situasi yang dialami, berdamai dengan segala hal yang dilalui, terkadang butuh momen untuk mendobrak benteng ketakutan dan rasa kurang percaya diri. Tatkala momen itu hadir, lalui saja. Mungkin itu caranya Allah melembutkan hati, membuka pikiran kita bahwa dunia itu tak sesempit yang kita kira. Kita bisa keluar, kita bisa melangkah lebih jauh, kita butuh keberanian dan kepercayaan diri untuk kembali menerima diri kita sepenuhnya.
Alhamdulillah bini’matihi tatimmussholihat. Segalanya sudah Allah atur, mungkin hikmahnya adalah Allah membuka pintunya di bulan ini. Semoga ke depannya, dimudahkan untuk melangkah dalam kebaikan, mengurangi salah, dan terus memperbaiki diri menjadi yang lebih baik.
Cerita ini dibuat untuk refleksi, mengukir kisah untuk dikenang, mengungkapkan isi pikiran dan hati yang mungkin tak bisa diceritakan secara langsung kepada siapapun.
Bagi siapapun yang sedang berada dalam kondisi yang sama, PUK PUK PUK (tepuk pundak), KITA PASTI BISA MELEWATINYA! ALLAH BERSAMA KITA. Semangat dan sehat selalu. Salam hangat dariku, dari kami. In sya Allah setiap orang sudah ada prosesnya masing-masing untuk bertumbuh.
Jalani, nikmati, perbaiki, syukuri, dan sabari saja..