Kesempatan (Part 1)
Hari itu adalah hari terakhir kami bekerja serta berada di Ibukota. Hal itu karena keesokan harinya, masing-masing dari kami akan pergi ke daerah yang ada di seluruh Indonesia untuk meneruskan pengabdian serta kehidupan yang sesungguhnya.
Sepanjang hari terakhir tersebut kebanyakan dihabiskan untuk melakukan perpisahan kepada atasan, rekan kerja, ataupun teman-teman terdekat. Sebagian lainnya menghabiskan waktu untuk mengambil foto kenangan terakhir karena kesempatan untuk bertatap muka akan lebih jarang dirasakan.
Suasana sedih serta haru bisa kurasakan sedari pagi hingga menjelang senja. Mulai dari berbagai ekspresi yang ditampakkan, pesan-pesan yang dikirimkan, atau beberapa unggahan media sosial yang disebarkan. Tak terkecuali denganku, sedari pagi kucoba untuk selalu tersenyum dengan semua orang yang kutemui pun tak bisa menyembunyikan perasaan sedih dengan sempurna.
Sore itu selepas ashar di depan taman yang ada di gedung lima, aku duduk sendirian dengan sebuah kotak berisikan buku dan surat di tangan. Beberapa waktu kemudian seorang teman baik, Farhan, datang dari arah masjid menghampiri dan duduk di sebelahku.
“ Eh Bim. ngapain di sini? ” Aku yang sedari tadi tengah memainkan telepon genggam menoleh dan menanggapi sapaannya.
“ Lagi santai abis ashar, ” Aku menjawab datar “ Nggak terasa ya Han, udah empat tahun kita kenal dan bisa berteman baik.”
“ Iya nih semoga komunikasi kita nggak putus ya Bim.” Kami mengaminkan bersamaan. Setelah itu keadaan seketika menjadi hening. Entah karena melihat apa yang sedang kupegang atau membaca pikiranku tiba-tiba teman baikku kembali bertanya.
“ Jadi udah memutuskan buat memberi kado dan surat itu Bim?” Pertanyaan itu membuat kepalaku kembali tertunduk, napasku tiba-tiba sesak, mataku berkaca-kaca karena . Kado dan surat yang kupegang tersebut sebenarnya sudah sejak lama ingin kuberikan kepada seseorang. Seseorang perempuan yang menjadi alasanku bisa sampai di titik ini.
(bersambung)











