Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara yang semuanya laki-laki, rasanya masa kecilku tidak pernah sepi. Kalau tidak ribut, ya bercanda. Kalau tidak bercanda, ya ribut lagi. Pertikaian dan baku hantam bisa terjadi kapan saja, bahkan karena hal-hal yang kalau dipikir sekarang sungguh konyol.
Kami bertiga memang terbiasa mandiri sejak kecil. Ayah dan Ibu sama-sama bekerja, jadi rumah sering hanya berisi suara kami bertiga. Awalnya terasa menyenangkan, tapi sebenarnya itulah bibit semua keributan.
Mainan yang hanya satu bisa jadi rebutan, seolah-olah kalau tidak memegang mainan itu, dunia akan runtuh. Tugas rumah yang seharusnya ringan, seperti menyapu atau mencuci piring, bisa dilempar ke sana kemari.
“Kau saja yang kerjakan!”,
“Gak mau, kan kau yang disuruh!” — dan kalimat sederhana itu bisa memicu baku hantam secepat kilat.
Sebagai anak sulung, aku sering merasa punya tanggung jawab lebih. Tapi lucunya, aku malah lebih sering membela adik bungsu daripada menengahi.
Entah kenapa, mungkin karena aku merasa dia masih kecil, atau mungkin karena aku diam-diam menikmati momen membuat adik nomor dua kesal. Hasilnya? Pertengkaran yang seharusnya selesai malah makin panjang.
Pernah suatu sore, ribut kami sudah kelewat batas. Kami saling teriak, saling dorong, dan tetap melanjutkan meski sudah diingatkan. Ayah yang lelah karena baru pulang kerja akhirnya benar-benar marah.
Suaranya tegas, wajahnya lelah, dan kami tahu kali ini bukan main-main. Dan benar saja, tidak cukup hanya dimarahi. Kami bertiga diseret masuk ke kamar mandi, lalu pintunya dikunci rapat.
Awalnya kupikir itu hukuman yang aneh. Bukankah kamar mandi cukup luas untuk melanjutkan perkelahian?
Tapi ternyata rasa takut dikurung lebih besar daripada semangat berantam. Yang tadinya saling dorong, kini sama-sama terdiam. Hanya butuh beberapa menit sebelum kami bertiga kompak menangis, mengetuk pintu, dan merayu Ayah untuk membuka.
“Janji nggak berantem lagi, Yah! Janji!” — kata-kata itu kami ucapkan berulang-ulang sampai suara kami serak.
Sekitar satu jam kemudian, pintu akhirnya dibuka. Kami keluar dengan wajah basah, mata sembab, dan suara parau. Saat itu, dengan sungguh-sungguh, kami bertiga berjanji untuk tidak mengulanginya. Dan untuk sesaat, rasanya kami memang benar-benar berubah.
Tapi, tentu saja, janji itu hanya bertahan kurang dari sehari. Keesokan harinya, entah karena mainan, entah karena pekerjaan rumah, kami sudah ribut lagi.
Bedanya, kali ini kami punya semacam radar alami: begitu suara sepeda motor Ayah terdengar dari jauh, pertengkaran langsung berhenti. Seolah-olah ada tombol “pause” yang otomatis aktif setiap kali Ayah pulang.
Kami pura-pura akur, pura-pura sibuk, padahal beberapa menit sebelumnya hampir saja baku hantam lagi.
Kini, saat mengenangnya, aku hanya bisa tertawa. Betapa polosnya kami, betapa keras kepala, dan betapa lucunya cara Ayah mencari jalan keluar dari keributan kami. Kamar mandi, yang biasanya jadi tempat mandi atau mencuci, pernah menjadi ruang mediasi paling efektif bagi tiga bocah laki-laki yang bandel dan susah diatur.
Dan mungkin, meskipun dulu terasa menakutkan, momen itu secara tidak langsung mengajarkan kami tentang arti kompak. Bukan hanya kompak berantam, tapi juga kompak menangis, kompak merengek, hingga kompak pura-pura damai.