GEDEBAK GEDEBUK JATUH CINTA
Setiap hari kami bertemu, entah di warung atau di jalan pulang. Aneh, tapi semakin sering ketemu, semakin banyak hal kecil darinya yang kutahu. Misalnya, dia selalu pesan es kopi walau cuaca lagi dingin. Atau kebiasaannya nyanyi sumbang setiap dengar lagu favoritnya diputar.
“Suaramu tuh kayak ayam serak,” kataku suatu hari.
Dia manyun. “Tapi kamu tetap dengerin, kan?”
Aku ngakak. “Iya, soalnya bikin kupingku merasa istimewa, cuma bisa disiksa sama kamu.”
Dia akhirnya ikut ketawa, meski jelas-jelas tersinggung.
Awalnya kupikir ini cuma sekadar teman dekat. Tapi lama-lama, ada sesuatu yang tumbuh, diam-diam, dan bikin jantungku berisik setiap kali dia ada di dekatku. Gede…bak, gede…buk.
Suatu sore, waktu hujan turun deras, kami berteduh di teras. Obrolan ngalor ngidul tiba-tiba berubah jadi serius.
“Kamu pernah mikir nggak, kalau kita beneran… lebih dari ini?” katanya pelan.
Aku menoleh. “Lebih dari apa? Lebih dari manusia? Jadi superhero gitu?”
Dia melotot. “Aku serius.”
Aku menghela napas. “Ya… pernah.”
Lalu hening. Karena kami tahu, ada jurang besar yang membentang. Jurang yang nggak bisa ditutup cuma dengan rasa suka. Kami beda agama, beda keyakinan. Aku yakin dengan jalan yang kupilih, dia masih gamang. Kadang aku ingin menyeretnya ikut. Kadang aku ingin mundur. Tapi hati ini… keras kepala.
“Kalau nanti semua orang nolak kita, kamu berani nggak?” dia menatapku.
Aku pura-pura mikir. “Tergantung, ada catering gratisnya atau nggak sih?”
Dia mendesah panjang, lalu ketawa juga. Ketawa itu bikin suasana lega, meski sebenarnya pertanyaannya masih menggantung di udara.
Kadang aku teringat cinta monyet zaman sekolah. Cinta yang polos, cukup dengan tukar bekal atau duduk sebangku udah bikin bahagia. Nggak ada drama keyakinan, nggak ada debat masa depan. Cinta yang ringan, kayak balon ditiup angin. Sekarang? Cinta ini lebih mirip Kingkong: besar, ribut, penuh drama. Kadang bikin aku ingin kabur, kadang bikin aku ingin memeluk lebih erat. Ada hari aku marah, ada hari aku pengen menyerah, tapi anehnya besoknya aku kangen lagi.
“Aku bingung sama kamu,” katanya suatu malam.
“Apa lagi?”
“Kamu bikin aku merasa tenang… tapi juga takut.”
Aku menatapnya lama. “Aku juga bingung. Kamu bikin aku ragu… tapi juga bikin aku yakin.”
Kami terdiam, saling tatap, lalu sama-sama ketawa. Lucu juga, bisa ketawa di tengah kebingungan.
Dan begitulah jatuh cinta. Selalu berisik. Selalu gede…bak, gede…buk. Seolah hati ini sengaja bikin drama musikal tanpa izin sutradara. Aku nggak tahu ujungnya akan seperti apa. Apa kami berani melawan perbedaan? Atau berhenti sebelum luka makin dalam? Yang aku tahu, setiap kali dia tertawa, aku ikut lega. Dan setiap kali dia resah, aku ikut gelisah.
“Jadi… kita ini apa?” dia bertanya pelan, menatapku dengan mata yang penuh tanda tanya.
Aku menarik nafas panjang. “Aku juga nggak tahu.”
Kami terdiam. Hujan di luar masih deras, jantungku masih ribut. Gede…bak. Gede…buk.
















