Menulis Buku Pertama
“Ada rencana bikin buku gak?”
Sejak kecil, menulis selalu menyenangkan bagiku. Saat SD, aku punya buku harian berwarna merah muda berukuran A6 dengan gambar karakten kartun favoritku. Ketebalannya kurang dari satu sentimeter tapi buku itu bisa bertahan lebih dari satu tahun. Tidak setiap hari aku menulis, dalam seminggu hanya menulis satu sampai dua kali. Hanya beberapa momen menarik yang aku tuangkan di buku tersebut.
Wadahku menulis mulai berubah ketika aku duduk di bangku SMP. Kala itu Facebook mulai ramai digunakan banyak orang, termasuk aku. Seorang teman membantuku membuat email dan mengajari cara menggunakan Facebook. Meski awalnya kesulitan, perlahan aku mulai menyukainya. Aku senang mengunggah foto dengan sepotong kalimat, mengotak-atik tampilan profil, dan menulis di dinding. Banyak sekali hal yang aku tulis, mulai dari cerita pendek, puisi, dan tulisan bebas. Tidak peduli orang berpendapat apa tentang tulisanku, tapi aku sangat menikmati momen tersebut.
Menulis selalu punya efek ajaib. Semua hal yang mengganggu pikiran bisa dengan mudah disalurkan. Seperti sedang membuka kepalamu dan mengeluarkan benang kusut dalam kepala. Menguraikan kerumitan dan membuat benang tersebut lurus kembali. Tentu ada yang bertanya, bagaimana jika aku tidak biasa menulis? Jangan terlalu dipikirkan. Cukup tuliskan apa yang ada dipikiran saat itu. Sampaikan saja semua isi di kepalamu. Ketika pertama kali menulis, aku pun melakukan hal demikian.
Butuh waktu dan pembiasaan sampai terbiasa menulis. Tidak jarang butuh paksaan dengan mengikuti tantangan. Setelah bertahun-tahun menulis di berbagai wadah, baru saat kuliah aku memberanikan mengikuti lomba menulis.
Lomba itu diadakan salah satu komunitas penulis dan organisasi lingkungan dengan tema mencintai alam. Tulisannya terpilih akan menjadi antologi buku fiksi yang dicetak secara terbatas. Di luar hadiah pemenang dan kesempatan membukukan tulisan, aku sudah cukup senang bisa menantang diri untuk menulis.
Perjalanan bertemu penyu di daerah Sukabumi menjadi cerita yang aku angkat. Tulisan yang berdasarkan kisah nyata ketika berkunjung ke salah satu daerah konservasi di Sukabumi. Tulisan biasa yang dibalut cerita pendek dengan cerita alur maju mundur yang sederhana. Namun siapa sangka, tulisan yang aku anggap biasa ternyata bisa menjadi salah satu cerita yang masuk ke dalam buku tersebut.
Selayaknya orang jatuh cinta, aku sangat berbunga-bunga melihat buku antologi yang sudah dicetak. Tidak banyak memang, hanya beberapa buku yang dibagikan kepada pemenang dan orang yang hadir dalam acara perayaan yang diadakan penyelenggara lomba. Meski tidak dijual bebas, tapi ada kebahagiaan sendiri menyentuh bentuk fisik buku itu.
Pengalaman lomba di masa kuliah dulu menyadarkanku bahwa ada kalanya perlu memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang lebih. Menulis selalu menyenangkan bagiku dan menantang diri ternyata jauh lebih menyenangkan. Jika dulu aku sering menulis bebas sesuka hati dan waktu, sekarang aku suka mengikuti berbagai tantangan menulis.
Menulis bebas tentu memberikan kemudahan tersendiri. Aku menikmati saat-saat bisa menulis dengan tema apapun. Sedangkan pada tema yang telah ditentukan, biasanya aku kesulitan. Namun, rasanya tantangan lebih membantuku untuk keluar dari batas nyaman. Jika sebelumnya minimal jumlah kata adalah 200, sekarang peserta ditantang menulis minimal 500 kata. Luar biasa, lebih dua kali lipat dari sebelumnya. Otakku terasa panas dan aku hampir kehilangan kata-kata.
Senang bisa memiliki kesempatan untuk menantang kemampuan. Aku sungguh menikmati setiap prosesnya dan merasa tidak harus terburu-buru dalam setiap langkah. Ketika ditanya tujuan dan hasil yang ingin dikejar, sederhana saja. Aku hanya ingin tahu batas kemampuanku. Entah membuat buku atau tidak, aku tidak terlalu peduli.

















