Selamat Menua di Bumi yang Tua
Perempuan 20 tahunan itu menatap cermin dengan nanar. Menatap sampai ke dalam matanya sendiri. Menatap setiap jengkal dalam dirinya. Ujung matanya memicingkan, mungkin ada yang salah. Mungkin ada yang aneh, mungkin yang di cermin bukan dirinya. Nyatanya, wajah itu miliknya dan bukan delusi. Wajah yang telah tertimbun air yang keluar dari dua kelopak matanya. Berkali-kali air dari kelopak matanya yang tak berhenti. Itu caranya untuk menatap semesta dengan segala hal yang di luar nalarnya. Tubuhnya belum koyak, masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, tahun ini tubuhnya tetap harus kuat. Menerima apapun yang akan diberikan padanya. Memahami setiap keadaan dan menenangkan riuhnya pikiran. Hatinya ingin merengkuh bahagia. Sesekali ia lupa, semesta diciptakan bukan untuk bahagia saja. Ada duka yang patut dicicip.
Ia kembali menatap cermin. Mengamati tiap sendi tubuhnya. Lebih detail. Barangkali, tangan dan kaki bukan miliknya. Ia mengamati dengan saksama lagi. Sayangnya, tangan dan kaki itu tetap miliknya. Tangan yang sering ia gunakan untuk menghapus air dari kelopak matanya dan kaki yang digunakan untuk menompang tubuhnya. Ia menghela nafas panjang, berkali-kali ia menyakinkan diri bahwa itu dirinya bukan orang lain. Atau bahkan kembarannya, sama sekali bukan.
Ia telah mengenal dirinya dengan cukup baik. Hal yang tak dikenali adalah masa hidupnya apakah masih lama di bumi ini. Berapa detik, menit, jam, dan tahun lagi?
Sebab, semakin ia hidup di bumi semakin kekalutan dan ketakutan hinggap di pikiran dan hatinya. Seolah-olah pikiran dan hatinya, berat untuk menglangkah.
Ia kembali menatap cermin. Kini, ia sanggup melanjutkan perjalanan di bumi. Ya, sesekali terjal menghampiri dan sesekali harus mengambil jeda untuk berhenti.
Perempuan 20 tahunan yang menatap cermin itu tersenyum dan melapangkan dada.
"Yowis pokoke urip iku nerimo ning pantum" ujarnya.
Perempuan 20 tahunan itu adalah aku, selamat menatap luas. Semoga betah tinggal di bumi yang sudah tua. Selamat menua dan bertumbuh menjalar ke pelosok bumi ya.
Mendewasakan Pikiran, Menyemai Makna. :")
Tua dan berfaedah, biar 'pulang' dan ditanya Rabb tak malu-maluin.
10 Februari 2021, H-














