Aku mendengar suara telepon berdering agak lama, perempuan tua itu segera mengambil telepon genggam putih yang biasa ia gunakan untuk menelpon kerabatnya. Diseberang terdengar suara perempuan muda dengan suara yang samar-samar di telepon. Perempuan tua itu sedikit terkejut dan menekankan kata ‘positif’. Sesaat setelah itu, telepon dimatikan dan perempuan tua itu belum kunjung terlelap. Tidak seperti biasanya, mungkin ada mendung di wajahnya. Selepas tahajud, ia masih mengadahkan wajah sambil merapal doa untuk anaknya. Meskipun, lampu kamarku telah remang-remang semenjak satu jam yang lalu, tetapi sejujurnya aku mendengar dengan jelas percakapan dii telepon. Perempuan tua itu ibuku, sedang perempuan muda yang diseberang adalah mbakyuku. Suara ibu sedikit berpasrah disela-sela telepon itu. Aku yang enggan mendengar percakapan dini hari itu, memutuskan melanjutkan tidur. Telepon diseberang itu membahas hasil PCR-ku. Satu hari sebelum tes polymerase chain reaction (PCR), aku sudah swab antigen. Sejak hari swab antigen, keluarga sudah memutuskan untukku isolasi mandiri. Itu artinya gawai (telepon genggam) milikku dan milik ibu, tidak henti-henti berdering, ada saja yang menghubungi. Hingga kuputuskan sesekali mematikan gawai, dari bisingnya pertanyaan ‘mengapa’.
Mendung itu mampir di rumahku, hari ketika aku dijemput oleh ambulan beserta sopir yang mengenakan baju ‘astronot’. Di dalam mobil ambulan sudah ada 3 orang yang terlihat sendu. Hari itu pula ibu bertanya ini dan itu terkait kebutuhanku selama isolasi di luar. Kujawab bahwa, aku tidak butuh apa-apa dan barang beserta vitamin kiriman dari mbakyuku sudah lebih dari cukup. Aku mengemasi barang-barang sekadarnya dan dua buku kusesalkan di tas jinjing. Mobil ambulan itu ternyata lebih pas disebut angkot. Seperti angkot yang mengantar kusekolah, ketika SMA. Hahaha. Saat itu aku benar-benar biasa saja dan tak ada mendung di wajahku. Namun, berbeda dengan ibu ada ranum di matanya dan wajahnya sendu. Jadi, kuputuskan untuk bergegas naik ambulan. Tidak ada salam dan cium pipi, selain alasan prokes (protokol kesehatan), ibu juga berkaca-kaca. Aku tak sanggup. Seolah-olah seperti tahanan yang dijemput, tetangga melihat dengan tatapan bertanya-tanya. Di sebelahku ada 2 bapak yang positif dan saling diam. Sedangkan di depanku ada seorang ibu, kemungkinan berumur sekitar 50 tahun. Hujan dari matanya terlihat jelas, sebab membanjiri masker putih yang ia kenakan. Aku dan ibu itu bercakap-cakap, hingga kutahu namanya Ibu Susi, seorang pegawai rumah sakit. Sekaligus menjadi teman seruanganku selama isolasi. Berperawakan mungil dan tingginya hampir sama denganku, teman-teman seruangan mengira aku dan beliau adalah ibu dan anak. Beliau senang-senang saja ketika, mendengar hal itu.
Semua berawal dari kecapekan dan imun tubuhku yang sedang lemah. Awal mulanya, aku sakit panas selama 2 hari berlanjut sakit tenggorokan dan hilang penciuman. Selama sakit panas sudah berobat di salah satu bidan. Lalu, aku memutuskan berganti bidan karena sakit tenggorokan yang tidak kunjung sembuh. Dari bidan kedua diminta untuk swab antigen. Aku pun swab antigen di salah satu klinik. Perempuan berjilbab abu-abu lengkap dengan masker dan baju kurung, memberikan amplop hijau berisi hasil tes.
“Mbak, punya gejala ya? Ini hasilnya positif” ujar petugas klinik.
“Oh positif ya mbak, ya sudah” ujarku dengan tenang. Harapanku hasilnya tentu negatif, tetapi ketika hasilnya positif sama sekali tidak kaget atau khawatir. Hahaha. Justru ibu dan mbakyuku yang heboh, untuk segera isolasi dan tes PCR. Hari selanjutnya, PCR di rumah sakit swasta dan malamnya hasilnya sudah keluar. Oh ya, ibu dan ayah juga di swab antigen hasilnya negatif. Alhamdulillah. Sejak hari swab antigen itu, aku berdiam diri di kamar dan mencari cara untuk bertahan dari kebosanan. Satu hari selepas telepon malam itu. Aku dihubungi pihak Pukesmas dan kelurahan, terkait kontak dengan siapa saja. Disaat yang bersama pula pimpinanku menelpon.
“Ini saya juga dihubungi pihak kelurahan. Jika ditanya bertemu dengan siapa, akan menjawab bagaimana?” ujar beliau di seberang telepon.
“Jawab bertemu dengan beberap orang saja ya” ujarnya lagi.
Aku hanya mengiyakan dan tidak bertanya mengapa harus begitu, ah aku menyimpulkan sebab takut terkena tracking. Beliau juga tidak menyarankan untuk tes PCR dan hanya swab. Aku enggan menanggapi dengan serius, sebab ketika itu aku butuh menenangkan pikiran dari orang-orang yang menghubungi hanya bertanya ini dan itu.
Hari berikutnya mobil ambulan berkunjung ke rumah dan menjemputku ke tempat isolasi. Aku tidak diperkenakan isolasi di rumah, sebab hanya aku yang positif. Ketika isolasi di luar, ternyata lebih leluasa dan bebas. Selama di isolasi kami dibebaskan berkegiatan. Memancing, karoke, badminton, dan tenis meja misalkan. Isolasi di tempat khusus ini, hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang bergejala ringan dan OTG (Orang Tanpa Gejala). Bertemu dengan orang-orang penyintas Covid-19, sesuatu hal yang patut disyukuri. Dari mereka pula makna-makna kehidupan dapat kupetik dan disimpan menjadi kisah yang bisa jadi k tuliskan nantinya. Bertemu dengan teman-teman: Fitri, Lestari, Amalia, Bu Susi, dan Bude Sukini merupakan hal yang tak mudah tergores diingatkanku.
Di pengujung Juni, aku pulang dari masa isolasi. Akhirnya pulang setelah 10 hari isolasi, waktu yang cukup untuk membuat virus dalam tubuhku mati dan tidak menular. Padahal, aku mulai betah dan sudah menyusunkan beberapa agenda yang kulakoni selama di isolasi. Di saat seperti ini, aku jadi paham mana orang yang benar-benar tulus, pingin tahu (kepo), dan hanya basa-basi. Beberapa orang bertanya, karena memuaskan keinginan tahuannya. Beberapa orang ada yang mendoakan kesembuhanku. Beberapa yang lain bertanya karena takut di-trancking dan menyesalkan mengapa perlu di swab. Duh, tolong cari tahu secara ilmiah bukan hanya mengdepankan ego.
“Iya Za, di saat seperti ini tidak perlu tanya ini dan itu. Baiknya pula bertanya apa yang perlu dibantu” kata salah seorang temanku.
“Betul, rasa empati dan simpati diperlukan juga. Jadi, pas awal-awal janganlah tanya ini dan itu dulu. Minimal mendoakan, karena tidak semua orang sekuat aku. Ada beberpa orang yang malah down psikisnya, lantaran dijauhi” ujaranku ketika video call dengannya.
Kami sepakat bahwa rasa ingin tahu yang tinggi, terkadang harus direndam untuk menenangkan keadaan. Sungguh, menceritakan berulang kali apa yang dirasakan bukan hal yang mudah. Ini juga berlaku jika ada hal duka datang, berita meninggal misalkan. Tunggulah seseorang itu dalam keadaan tenang, maka ia akan menceritakan. Jangan memburu keingintahuan dan tanpa melihat kondisi seseorang. Kejam.
Mengenai covid sendiri, ada beberapa orangyang percaya dan taat prokes. Sebaliknya ada yang mati-matian, enggan percaya dan mengatakan bahwa covid konspirasi. Pun jika aku enggan percaya, nyatanya aku mengalami sendiri dan sakit kurasakan yang beda dari yang sudah-sudah.
Memang orang yang memiliki sakit bawaan (komorbit) akan lebih parah dan tentu dirujuk di rumah sakit. Saat ini rumah sakit penuh dan tenaga kesehatan kuwalahan. Pihak rumah sakit atau Pukesmas, terkadang jadi kambing hitam. Ada yang mengatakan, pasti nanti di-covid-kan misalkan swab di rumah sakit atau Pukesmas. Nyatanya tidak selamanya demikian. Aku selama isolasi mendapat cerita dari beberapa pihak. Ada yang swab di rumah sakit dan Pukesmas, hasilnya negatif. Dana yang dikorupsi dan penangan pemerintah yang kurang tanggap, bisa jadi dua alasan yang membuat sebagian orang skeptis terhadap Covid-19. Namun, kita dianjurkan untuk berikhtiar dalam segala hal terlebih mengenai kesehatan. Covid hanya mampu dicegah dengan 5 M: memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Ya hanya itu dan tanpa inovasi yang lain. Niatkan itu bentuk ikhtiar dan menjaga keluarga.
Capek memang, diberbagai lini media massa maupun televisi melulu tentang Covid. Capek memang melulu menaati protokol kesehatan. Capek memang mendengar kabar duka hampir setiap harinya. Capek dan capek yang lainnya. Sungguh jangan menunggu giliran untuk sakit dan mempercayai ketika sudah terkena. Jangan menjadi manusia yang abai, biasakan untuk mencari tahu dari ahlinya. Bukan mendepankan ego dan spekulasi semata. Umat muslim tidak diajari untuk menjadi manusia yang anti sains. @kekatazain11