Dear Tuan Alien. Maafkan jika mengunjungi tuan dengan tiba-tiba. Saya tak bisa menahan diri untuk menyimpan cerita tentang Budi, seorang pengrajin layangan yang saya temui kemarin. Beberapa hari ini, langit di kotaku diguyur hujan tanpa jeda. Tetapi, sore kemarin langit mendadak cerah. Budi si pengrajin layangan memanfaatkan momen itu dengan mencoba menerbangkan layangan yang dibuatnya sebelum dijual. Tetapi sayang, belum juga berapa lama diterbangkan, layangannya tersangkut di awan. Budi lari ke atas bukit sambil memanggil-manggil nama Tuan Alien. Sesaat, saya terperangah. Saya tidak menyadari bahwa selama ini Budi pun menyadari kehadiran Tuan. Dengan rasa penasaran, saya menyusul Budi ke atas bukit. Menghampirinya perlahan dan berkenalan dengannya. Budi bukanlah pengrajin layangan biasa. Dia megetahui banyak hal tentang Tuan dan negeri Tuan. Selain membuat layangan, dia juga pandai membuat puisi dan kisah-kisah fabel yang sering dibacakan kepada anak-anak di lingkungannya ketika menunggui dirinya membuat layangan. Tuan Alien tahu, Budi hidup dari karya-karya itu demi Ani, perempuan yang telah menawan jiwanya selama ini. Nanti malam, Budi mengundang saya untuk berkunjung ke rumahnya. Memang sedikit jauh, tapi tak masalah demi mendengar kisah-kisah Budi yang sedikit misterius itu. Saya berharap Budi akan bercerita tentang Tuan juga. Di beranda rumah Budi, kami akan terus bercerita dan terbangun suara tetangga pasang keramik. Ps. Postingan ini seharusnya menggunakan gambar layangan Budi, tapi sayang layanganya masih nyakut di awan dan kami masih menunggu Tuan Alien sebelum hujan kembali membasuh bumi #fragment #30haribercerita22 #30hbc22 #30hbc2222 #30hbcsambungcerita #30hbcmengarang #kite #writingproject #writingchallenge #writersnetwork #latepost https://www.instagram.com/p/CZE9ALfp6FU/?utm_medium=tumblr