Sebagai anak daerah yang menginjak Pulau Jawa pertama kalinya untuk kuliah, saya punya harapan besar. Bagaimana tidak, mendapatkan kesempatan besar belajar di salah satu kampus terbaik (menurut Webometrics) adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya.
Namun, di balik perasaan bangga tersebut, saya kerap merasa kecil dibanding teman-teman yang lain. Terbiasa menjadi si nomor satu atau setidaknya selalu di lingkungan kelas unggul, serta dianggap cerdas, saya merasa kecil saat berada di kelas perkuliahan yang berisi putra-putri terbaik di penjuru negeri, terutama mereka siswa unggulan di Pulau Jawa. Jika perkuliahan adalah hamparan laut luas, saya hanya salah satu ikan kecil di dalamnya.
Saya tidak cukup pintar, tidak cukup mumpuni dan tidak cukup luar biasa untuk berbaur dengan teman-teman. Prestasi yang saya banggakan bukan apa-apa lagi. Saya ingat, sebelum memasuki kelas, grup begitu ramai dan kelihatan calon teman-teman saya punya tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan prestasi gemilang hingga tingkat nasional. Oh, saya ingat rasanya "kalah" sebelum memulai.
Selama perkuliahan, ternyata benar, saya kewalahan. Dari yang mengimpikan IPK 4 lalu digeser menjadi "minimal 3 aja deh." Saya senantiasa duduk di bagian tengah atau belakang agar tidak ada dosen yang menunjuk saya atau tidak perlu ada yang memerhatikan keberadaan saya. Padahal, selama sekolah, saya bisa bertengkar hanya untuk memperebutkan kursi paling depan. Belum lagi teman-teman saya ternyata punya daya analisis yang sistematis dan cepat, semua serba taktis, saya jelas tertinggal.
Di tengah perasaan kecil tersebutlah saya menjadi sekeliling saya sebagai inspirasi, bahwa setiap kami memiliki kelebihan dan kekurangan. Meski saya tidak terlalu unggul dalam hal akademik dan komunikasi, kemampuan saya beradaptasi juga tidak bisa diremehkan. Menggeser pikiran dari "Saya gak bisa seperti mereka" menjadi "Jika saya berusaha lebih keras, saya pasti bisa seperti mereka."
Saya belajar dari nol, terus bekerja keras mencapai sesuatu dan bertumbuh. Saya sadar bahwa Tuhan beri saya kesempatan untuk belajar di sana pasti karena suatu alasan yang tidak saya ketahui saat itu. Perasaan kecil itu datang menghampiri sesekali, namun perasaan itu membawa saya menikmati perjalanan perkuliahan yang menyenangkan dan mendapatkan kesempatan untuk mengenal banyak orang, menjelajah banyak tempat dan menemukan diri saya yang sekarang.
Maka saya bersyukur bertemu dengan teman-teman yang keren tersebut sebab secara tidak langsung mereka semua menjadi salah satu bagian berarti dari perjalanan hidup saya.
Pariaman. 3 Januari 2025. 22:50