Setiap kali berlari, saya pasti mengeluh dalam hati, “Duh kenapa sih harus lari, ingin rebahan aja.” Apalagi saat kepala saya berdenging dan mata berkunang-kunang. Padahal kalau saya melihat semangat yang ditularkan oleh sahabat saya, Bajus, yang bulan Januari ini mencetuskan ide #30hariberlari (#30haribercerita saja saya belum tentu konsisten wkw), saya merasa harusnya lari menjadi kegiatan semenyenangkan itu.
Tapi pagi ini, saya mendapatkan suatu pelajaran tak terduga, membuat saya berpikir ulang tentang apa artinya hidup yang “bergerak”.
Seperti biasa, setelah mengeluh, saya akan rebahan mengumpulkan energi untuk kegiatan akhir pekan lainnya. Saya pun teringat ada pesan tak terbaca sebelum keluar rumah pagi ini. Pesan tersebut dari seorang teman Insta yang meminta saya untuk memberikan review jujur pada dua bagian awal tulisannya yang mengangkat tema seputar perjalanan batin seseorang yang kehilangan “hidupnya”. Saya pun memberikan tanggapan yang netral, meski cerita tersebut membuat saya berfirasat bahwa beliau ingin berbagi bagian hidup yang selama ini tersimpan rapi. Saya cukup terkejut melihat beliau terus mengetik selama tiga jam.
“Sie, karena kita sudah berteman dan aku ngerasa kita sudah lebih dekat juga, aku rasa gapapa juga kalau Sie tau keadaanku.” Satu demi satu kalimat pun perlahan mengalir dan saya terdiam membaca pesan tersebut.
“Sie, aku… I’m paralyzed. Ya aku lumpuh sie, gak bisa jalan. Sejak Januari 2007.”
Beberapa waktu lalu, saya teringat beliau menulis status sedang berbahagia karena akhirnya bisa membuat KTP. Saya penasaran, beliau lebih tua enam tahun, bukankah harusnya sudah punya KTP? Saya saja bahkan sudah tiga kali ganti karena yang lama rusak dan sudah upgrade foto terbaru.
“Waktu itu kenapa aku “norak” bikin KTP, karena itu pertama kalinya. Dengan kondisiku yang seperti ini, sulit membawaku ke sana. Untuk berfoto juga sulit, karena kupikir bakal duduk, kan. Sementara aku bukan hanya tidak bisa jalan, tapi juga gak bisa duduk tegak. Badanku tidak kuat menopang, Sie. Duduk senderan bisa, alhamdulillah,” Masih, masih terdiam. Saya kehilangan kata membayangkan 18 tahun kehilangan kemampuan fisik. Saya berdebar karena daftar kehilangan ini pasti akan panjang.
Ingatan saya pun mundur pada percakapan lampau kami. Beliau sudah menebar kalimat yang banyak maknanya sejak awal. Saya sadar, tapi saya selalu seperti itu, tidak ingin bertanya, tidak jika memang beliau memilih batasnya dalam bercerita. Mengapa? Karena saya selalu berharap orang yang saya kenal, hidup dengan sempurna. Membaca ulang pesan lama rasanya jadi jauh lebih bermakna dari yang sudah saya kira. Saya tetap sesak.
“Dulu aku juga ingin jadi PNS, tapi jadi guru. Meski cita-cita pernah berubah, pernah pengen jadi guru, pernah pengen kerja kantoran, trus pengen jadi guru lagi. Tapi Allah berkehendak lain, gak jadi dua-duanya.” Beliau memperbarui pesan ini dengan menambahkan, “ Ya karena aku harus melepas mimpiku karena kondisiku.” Impian bersekolah tinggi, impian memiliki pasangan, dan impian untuk bekerja.
Awal saya mengenal beliau memang melalui media sosial saja. Saya rutin mendapatkan teman online melalui komunitas dan kami saling bertukar cerita di pesan. Beliau orang yang ceria, super ceria. Setiap mengetik sesuatu, panjang-panjang. Sama sekali gak keliatan kalau beliau ada keterbatasan, termasuk dalam mengetik pesan.
Singkatnya, dari sebanyak itu cerita yang saya bagikan (karena beliau nampaknya super excited dengan hidup saya yang terasa tidak menarik ini), saya jadi merasa bersalah saat pernah bilang, “Aku gak punya bakat bisnis, Kak. Aslinya aku suka jalan-jalan 🤍, tapi jalan-jalan abisin duit, yaa. 😭😭🤣”
Balasan beliau saat itu : “Wkwk... Sie aku ketawa pengen ngakak baca ini🤣. Klo aku jalan nggak ngabisin duit juga gapapa Sie.. 😆” Ya Allah, Ya Allah, saya merasa bersalah sekali memikirkan betapa tidak berterima kasihnya saya pada hal-hal yang sudah saya miliki.
Hidup saya memang tidak selalu happy kiyowo, saya pernah mengalami titik hilang arah untuk terus melanjutkan. Kadangkala saya pun sudah tahu jawaban dari kekosongan yang sempat terjadi di kepala, namun saya tetap kesulitan mengatasinya. Saat itu, saya merasa saya butuh pertolongan. Saya terlalu sering mengandalkan diri. Saya marah kenapa saya harus mengatasi sendirian. Sementara itu, secara kontradiktif seseorang yang sedang mengirim pesan pada saya saat ini sudah 18 tahun hidup dengan penuh ketergantungan pada orang lain. Mengingat keceriaan yang beliau tularkan di pesan-pesan kami selama ini, saya mencerna keterkejutan, meski beliau mengira saya tidak terkejut sama sekali. Saya sulit mengekspresikan diri dengan benar.
Percakapan kami tentu saja sangat panjang, saya memutuskan hanya berbagi beberapa halnya saja. Teringat bahwa saya baru saja mengeluhkan lelahnya bergerak, berlari, berkegiatan, saya perlu banyak intropeksi diri lagi. Saya bisa membayangkan pasti sudah segala cara yang beliau lakukan untuk bisa sembuh. Karena itu, yang bisa saya lakukan adalah memberikan dukungan agar beliau terus menulis, meski menulis bukan hal yang mudah, apalagi menggali ingatan lampau yang emosional dan traumatis.
Tantangan #30hariberlari yang saya komentari, “Duh gue gak kuat keknya segitu, sebulan maksimal delapan hari aja itu mah,” pun jadi kebanting dengan kalimat, “Menulis gak gampang buatku, Sie, apalagi aku gak suka menulis jurnal atau diary. Baru nulis 1 Juni tahun lalu. Awalnya aku bikin challange 30 hari belajar duduk dan gagal, it is okay, aku sudah berusaha. 🤣”
Setelah merefleksikan ini memang tidak menjamin saya akan lebih rajin bergerak, tentu karena membangun kebiasaan tidak bisa dalam semalam. Namun, saya harus lebih mencerna lagi apa saja keluhan yang saya keluarkan. Jangan berkali-kali sampai akhirnya jadi tukang keluh. Saya pun tidak perlu menegasikan struggle personal dan akan tetap dalam prinsip pertemanan saya sedari awal, karena personality-nya, bukan apa aja yang melekat pada dirinya. Saya menghargai sekali kesempatan mendengarkan beragam cerita, lain waktu akan saya ceritakan kisah teman lainnya, jika ada yang membaca ini.
The broken will always be able to love harder than most. Once you have been in the dark, you learn how to appreciate everything that shine. ☘️☘️
Dan ini tanggapan beliau dengan reaksi saya :