Kesibukan duniawi yang melenakan membuat saya vakum di #30haribercerita 2022. Atas nama komitmen dan mengasa katarsis sederhana, saya berharap tahun ini ada senukil dua nukil rekaman hari-hari di bulan pertama, tanpa jeda. Ya, semoga ya. Mungkin saatnya saya kembali dengan cerita sepanjang tahun yang dirangkai dengan diksi yang jauh dari kata paripurna. Agaknya tahun ini ingin memakai pola cerita yang berbeda: merangkai semburat dalam kepala dengan jalan prosa dan puisi yang biasa. Baik, kita intip dulu dua pemeran utamanya. Gema Atharya Figur nona medioker dengan daya tarik yang tinggi terhadap semua hal baru, meski seringkali agak terlalu. Naif, idealis, kadang perfeksionis, tapi lekat dengan sikap humanis. Sebisa mungkin menampik segala konflik, namun bila tak terhindarkan, usaha penyelesaiannya jauh dari cilik dan licik. Sering terlalu keras terhadap diri sendiri, nampaknya perlu disadarkan bahwa kadangkala gagal itu natural dan bagian dari hukum alam. Gaung Bimasena Sesosok tuan yang penuh dengan daya cipta, naluri, logika, dengan sedikit bumbu filosofis. Suka membaca, belajar sejarah, dan berkelana. Jeli, memilah siapa yang bisa mengintip ruang hidupnya meski orang-orang itu harus mau memicing penuh tanya. Pandangannya akan hidup cukup visioner, konstruktif menggunakan kebebasan tanpa perlu otoriter. Namun, sering juga pula kepayahan melerai paradoks abadi yang bergelut dalam kepalanya: idealis atau realis? Saya belum tahu bagaimana ini akhirnya. Berbagai macam skenario berserabutan saling sikut dan berlomba mana yang akan jadi juaranya. Tunggu saja, ya. #30haribercerita #30HBC2023 #30hbs2301 (at Somewhere Only We Know...) https://www.instagram.com/p/Cm2tmO_JQkJ/?igshid=NGJjMDIxMWI=












