Tips Bertahan Hidup 4: Krisis Final
(Sambungan dari kisah sebelumnya)
S: “Ya ampun Za! Kamu kok nggak bilang sih kalau udah liat video ini kemarin?”
A: “Ng... Aku nggak tahu kalau bakal kaya gini, Mbak...”
Teruntuk admin OSIP yang penasaran siapakah orang di balik inisial S, S untuk strategist! Silakan dicari sendiri ya siapakah strategist Yupi waktu itu.
Teruntuk kalian yang menebak-nebak kenapa saya diserang strategist, ini dia jawabannya: Saya diomeli beberapa detik tentang betapa saya tidak peka bahwa sebuah video itu bisa berpotensi disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Harusnya, kalau memang saya sudah berpikir sebagai orang brand, saya sudah bisa mencium bau-bau adanya krisis. Apalagi mengingat netizen kita yang ajaib, dikit-dikit teriak viralkan, kurang tabayyun kalau kata cuitan masa kini.
Nah, karena saya sudah skip tahap pencegahan potensi krisis, mau tak mau tim harus segera turun tangan mengatasinya. Saya sih waktu itu merasa sudah paham secara teori apa yang harus dilakukan, tapi kok tetap panik ya? Sembari tim dan klien ini pontang-panting mengurusi jempol ibu-ibu yang kurang tabayyun, angka share dan like di postingan itu terus meningkat. Artinya, semakin banyak orang yang harus kami kejar untuk klarifikasi kalau info itu hoax.
Langkah yang tim ambil tentu saja menginfokan kalau info itu salah, disertai dengan beberapa bukti agar netizen tidak ragu. Detailnya apa saja yang perlu dilakukan? First thing first adalah mengomentari status si pemilik akun yang isinya menyatakan bahwa Yupi ini permen halal dan aman dikonsumsi, lho! Tentunya ini akan menarik perhatian orang-orang yang sebelumnya sibuk berdiskusi tentang bagaimana caranya menghentikan si anak dari jajan Yupi. Bersamaan dengan itu, klien menghubungi si pemilik akun untuk tidak sembarang menyebar info karena Yupi sudah memiliki sertifikat halal dari MUI. Pemilik akun diharap untuk segera menghapus dan juga mengklarifikasi kesalahannya karena menyebarkan hoax. Agar lebih manis, dikirimkan beberapa kantong permen Yupi.
Tahukah kalian apa yang sulit dilakukan di tahun 2017? Membuat netizen senang. Menyenangkan banyak orang itu sulit, Sob. Sehabis mengklarifikasi lewat kolom komentar, sepertinya masih ada beberapa netizen yang was-was. Tim pun segera membuat konten yang isinya tentang Yupi itu aman dikonsumsi dan halal karena terbuat dari gelatin sapi, jangan sekali-kali memancing dengan kata “video” atau “babi”. Produksi visual pun harus kilat karena jangan sampai mengatasi krisis ini lebih dari dua jam. Iya, dua jam saja waktu yang dipunya. Lah kan gampang membuat visual dan konten kok sampai dua jam? Perhitungkan kemungkinan revisi ya, Sob. Ingat itu.
Karena entah kenapa netizen kita tuh kurang suka membaca, maka kami produksi visual yang lugas berbunyi “Yupi itu halal, lho!”. Agar lebih puas dan menghentikan pertanyaan yang terus bergulir, maka ditambahkan pula sertifikat halalnya dong (ini juga request klien)!
Jumlah like dan share-nya sih tidak seberapa dibanding dengan status si ibu. Namun, setelah kami cek kembali, rupanya status yang dishare justru dikomentari dengan nada negatif sambil berkata “ini hoax”. Wow, disitu saya takjub melihat jumlah audiens yang loyal dan tabayyun! Rasanya sedikit terharu ketika saya merasa jatuh, eh nyatanya malah diangkat oleh audiens brand. Kalau kalian cukup jeli, bisa dilihat bahwa komentar mereka itu bernada positif dan saya pun menjawabnya dengan ceria~
Meskipun sudah dibuat konten informatif dan berupaya menghentikan persebaran status ibu tadi, video dan caption tadi masih terus dilihat banyak orang. Hari itu, saya menerima banyak pesan di laman Fan Page dan inbox tentang “benar tidak sih kalau video itu adalah cara pembuatan permen Yupi?”. Nah, cara menjawabnya itu harus sangat hati-hati, Sob. Jangan sampai menyinggung produk lain atau membangun asosiasi dengan konten hoax tadi, kalian pasti tidak ingin kan brandmu justru lebih diingat karena adanya kabar miring. Karena itu, maka kurang lebih saya balas “Hai, Yupiers kenyalnya Yupi ini berasal dari gelatin sapi dan sudah mendapat sertifikat halal dari MUI, lho! Yupiers bisa cek logo halalnya di kemasan Yupi. Jadi, jangan ragu untuk ngemil Yupi ya hari ini! :)” sambil saya kirimkan visual di atas. Hari itu admin cukup sibuk membalas pesan dan hamdalah respon mereka pun baik-baik saja. Tidak seperti akunnya OSIP yang isi komentarnya komplain dan pisuhan.
Tidak lama kemudian, status si ibu tadi sudah dihapus dari laman Facebooknya, ia pun membuat permohonan maaf dan berfoto dengan berkilo-kilo bingkisan Yupi. Yang tersisa hanya konten Yupi tentang kehalalannya. Meskipun status hoax tadi dihapus, konten Yupi halal ini tetap bisa berdiri sendiri sebagai konten edukasi, which is bagus. Netizen lain yang baru pertama mengunjungi laman Yupi tentu tidak mengira kalau sebelumnya kami sempat dirundung krisis sederhana, mereka akan membaca konten tersebut sebagai info berguna untuk mereka.
Itu tadi sih langkah-langkah yang saya lakukan bersama tim. Secara mandiri, saya juga melaporkan status tersebut sebagai apa ya saya sudah lupa hehe. Mungkin harmful atau sesederhana spam. Hal semacam itu cukup berguna lho! Sekarang pun kalau ada status yang menurut saya palsu dan berbahaya bagi siapapun, tidak harus brand, maka akan saya report begitu saja dan jangan diladenin ya.
Krisis ini mengajarkan banyak hal dari semua teori yang sudah diobrolkan di kelas. Saya yang pertama kali mengalaminya ini merasa bersalah karena kurang peka dan panik. Beruntungnya, tim saya ini benar-benar baik dan sigap sehingga saya justru belajar banyak hal. Kalau misal kamu merasa ingin terjun ke dunia brand, entah itu dibagian branding atau advertising silakan lebih kritis dan peka lagi ya! Terutama peka terhadap siapa yang kamu hadapi, misalnya audiens rawan percaya hoax. Jujur, setelah menonton video itu saya tidak mengasosiasikannya dengan Yupi karena tahu kalau video tersebut diproduksi di luar. Sayangnya tidak semua audiens itu seperti saya dan teman-teman. Siapa yang menduga konten video di 9gag.tv yang jelas-jelas gambarnya itu bule dan kemasannya bukan Yupi malah dispin menjadi hoax? Sisi baiknya adalah, si ibu mengakui kesalahannya dan semoga tidak menyebar false news lagi.
Wow, panjang juga ya! Padahal sudah dibagi menjadi dua bagian. Maaf kalau dua konten terakhir ini sedikit berat dan kurang lucu. Saya hanya ingin membagikan kisah yang barangkali berguna haha. Halah, sok penting. Pasti nggak berguna kan? Nih Yupi buat kamu~
Waduh, jadi ingin Yupi :(