(Layanan) Kesehatan adalah Privilege
Aku lupa kapan terakhir kali menghadapi birokrasi UGD yang ruwet seperti hari ini. Bahkan, sebenarnya memang tidak terlalu ribet. Aku saja yang memang punya akses mudah terhadap layanan kesehatan ditambah dengan berbagai alasan untuk selalu diprioritaskan tanpa perlu menunggu lama di lorong UGD yang baunya menyesakkan, penuh dengan lalu lalang manusia berjas putih yang rasanya bikin perut tambah bergejolak, pening di kepala pun tidak terbantu dengan pemandangan troli pasien yang bolak-balik macam kereta belanja saja. Aku hanya perlu berbaring dengan manis, kalau parah ya seminggu kemudian baru bisa pulang. Tidak ada kegiatan tunggu-menunggu, semuanya jelas dan lugas tanpa bumbu suntikan yang kadang embuh apa tujuannya. Tidak perlu bertatap muka dengan mbak-mbak dan mas-mas jutek yang rasanya hanya berkontribusi pada rasa nyeri. Kesehatan memang sebuah berkah, tetapi layanannya adalah privilege.











