3 Srikandi: Kisah Persahabatan 3 Atlet
Film 3 Srikandi ini merupakan salah satu film Indonesia yang gue tunggu-tunggu. Deretan pemain bintangnya membuat film ini terlihat menjanjikan. Sayangnya Dian Sastrowardoyo mundur dari film ini dan digantikan oleh Bunga Citra Lestari, tapi tidak menyurutkan minat gue untuk menonton film ini. Kabarnya film ini akan dirilis akhir tahun 2015 lalu namun tidak jadi dan akhirnya diumumkan resmi bahwa film ini dirilis pada tanggal 4 Agustus 2016, bertepatan dengan akan dimulainya Olimpiade 2016. Momennya lebih pas sih.
3 Srikandi menceritakan tentang 3 atlet panahan Indonesia, yaitu Yana (BCL), Suma (Tara Basro), dan Lilies (Chelsea Islan) yang bertekad untuk meraih medali di Olimpiade Seoul 1988. Mereka dilatih oleh “Robin Hood Indonesia” yaitu Donald Pandiangan atau Pandi (Reza Rahadian) yang terkenal disiplin dan galak. Pandi ingin anak didiknya meraih medali Olimpiade meneruskan cita-citanya yang gagal untuk berlaga di Olimpiade Moskow 1980.
Sebelum menonton film ini, menonton dari trailernya gue kira film ini akan serius. Menceritakan tentang ambisi atlet untuk mengharumkan nama bangsa dan negara. Jadi gue kira filmnya mengisahkan tentang latihan dan perjuangan mereka di Olimpiade dengan drama-drama Orde Baru. Tapi ternyata gue salah. Iya, ceritanya tetap begitu tentang latihan panahan, ada drama Orde Barunya juga tapi diselingi dengan bumbu komedi sehingga jadi segar dan nggak ngebosenin. Ditambah juga dengan bumbu kisah percintaan Suma dan Lilis dengan masing-masing pasangannya membuat film ini jadi nggak membosankan.
Di film ini gue lebih melihat tentang persahabatan antar ketiga atlet itu. Yana yang mewakili Jakarta, Suma mewakili Sulawesi Selatan, dan Lilies mewakili Jawa Timur menjadi satu yang mewakili Indonesia. Ketiga orang tersebut yang tidak saling mengenal satu sama lain, bahkan sempat menimbulkan prasangka buruk antara Lilies dan Suma, kemudian menjadi bersahabat dekat dan akrab selama masa latihan. Yana yang paling tua menjadi perekat sekaligus pembimbing kedua temannya. Dalam film ini juga memperlihatkan sisi “manusia” seorang atlet. Bahwa mereka juga ingin bersenang-senang dan bisa jahil. Tidak harus selalu latihan. Hubungan antara atlet dengan pelatihnya juga tergambarkan dengan lucu dan menarik. Seperti hubungan murid dengan gurunya yang galak. Yana, Suma, dan Lilies berusaha untuk berbuat “curang” tapi selalu ketahuan Pandi. Dan digambarkan dengan lucu.
Bintang dari film ini adalah Chelsea Islan. Chelsea pas banget jadi arek Suroboyo yang nggak cuma dari logatnya tapi juga tingkah lakunya, dengan segala kebawelan, kejahilan, dan kenorakannya. Suka banget dengan aktingnya Chelsea di film ini. Terlihat dia semakin berkembang aktingnya dari film ke film lain. Dia yang bikin film ini jadi hidup dengan celetukan-celetukan polosnya. Chemistry antar aktornya juga terjalin dengan baik. Sangat berasa persahabatan antar ketiganya. Satu sama lain bisa saling mengimbangi. Kalau Reza Rahadian udahlah ya, emang udah aktor yang brilliant. Gue belom pernah liat dia failed di film-filmnya (yang gue tonton). Jadi di sini pun udah nggak diragukan lagi kemampuan aktingnya dia.
Namun sayangnya film ini kurang berasa nuansa 80-annya. Dari setting tempatnya sampai ke extrasnya. Di beberapa adegan terlihat extras-extrasnya muka dan dandanannya gaya masa kini, dengan memakai kaos, jaket, dan jins. Bukan jins cutbray tapi skinny jeans. Muka-mukanya juga muka ABG masa kini. Ini cukup mengganggu sih buat penonton yang suka iseng memperhatikan detail walaupun tidak mempengaruhi keseluruhan filmnya.
Overall film ini sangat menyenangkan untuk ditonton. Gue baru tahu film ini berdurasi 130 menit tapi nggak berasa lama. Gue sangat menikmati menontonnya dari awal hingga akhir dan nggak merasa bosan. Cukup menyenangkan melihat satu lagi film Indonesia yang bagus untuk ditonton.