Cerpen - Simfoni Negeri Tak Bermalam
-Simfoni Negeri Tak Bermalam-
AuliyaPN
Wanita itu kesulitan membuka mata. Matahari yang menerobos dari balik jendela menyilaukannya. Tapi seperti biasa, dia tetap saja terbangun saat nyanyian beriring denting piano mengalun, membentuk sebuah simfoni. Dia merasakannya; jantung yang berdebar dan tubuh yang perlahan menghangat, juga lesiran darah dalam nadinya.
Beberapa menit setelahnya, wanita itu menegakkan punggung perlahan. Butiran-butiran putih halus serupa pasir pantai menuruni rambut cokelat gelapnya yang panjang terurai, menyentuh gaun tidur putih penuh renda. Bibirnya yang semula kaku dan biru mulai bergerak, membentuk sebuah lengkungan ke atas. Dia menoleh ke kanan dan melihat pria berkemeja putih di balik grand piano hitam, di tengah ruangan berasitektur kayu eboni bercat merah gelap.
Tiiing!
Tuts piano terakhir yang ditekan pria itu mengeluarkan suara tinggi. Dia berdiri dan menatap wanita itu dalam-dalam. Seperti biasa, wanita itu terbangun karena nyanyian dan dentingan pianonya, tersenyum dan duduk di peti kayu yang menjadi tempat tidurnya.
“Akhir-akhir ini nyanyianku harus lebih lama. Apa kemampuanku membangunkanmu berkurang? Nyanyianku tak lagi menyentuhmu?” Pria itu berjalan mendekati sang wanita.
Wanita itu menggeleng lemah. “Kurasa, semakin lama aku memang semakin sulit menemukan jalan pulang.”
“Jangan bercanda, Linnea!” Pria itu duduk di sebelah wanita bernama Linnea.
Sraaak...sraaak...
Terdengar gemerisik dahan cemara yang bergesekan tertiup angin malam. Jika ini bisa disebut malam.
“Svante,” Linnea tersenyum. “Aku akan berada di sini sampai dua jam ke depan.Tidakkah itu cukup untukmu sekarang?” Diraihnya tangan pria itu.
“Akhir-akhir ini kulitmu semakin gelap. Apa ada yang membuatmu tak nyaman?” Svante menatap Linnea khawatir.
“Svante,” Linnea menangkup kedua pipi pria pirang di depannya. “Tubuhku sekarang memang begini. Semakin lama, mungkin aku akan jadi manusia berkulit kelabu. Kamu tahu itu.” Dia tertawa pelan.
“Tak adakah yang bisa kulakukan?” Svante menunduk. Ini terlalu berat untuknya. Kenyataan bahwa dia lemah dan tak bisa melindungi wanita yang dicintainya membuatnya hampir gila.
“Kau sudah melakukan yang kau bisa. Aku di sini selama hampir dua bulan adalah buktinya.” Lagi-lagi wanita itu tersenyum. Bibirnya sudah mulai memerah sekarang.
“Pasti ada yang bisa kulakukan agar kau bisa di sini lebih lama. Apa yang terjadi jika midnight sun tak ada lagi? Apa kau tak akan bangun meski aku bernyanyi dan memainkan piano untukmu?!” Svent panik.
“Aku akan di sini untukmu.” Linnea menenangkan. “Besok juga seperti itu. Besok dan besoknya lagi juga sama.”
“Tidak. Aku harus mencari Valter!” Svent menggeleng. “Pastur tua itu pasti tahu! Dia pasti tahu lebih banyak! Pasti ada cara untuk membuatmu tetap di sini!” Svent menggerakkan tubuhnya menuju pintu, tapi tangannya tertahan oleh genggaman Linnea.
“Kau ingin menemuinya?”
“Ya! Tentu saja harus!!!”
“Bisakah kau lakukan itu nanti? Dua jam setelah ini?” Linnea memohon. Mata cokelatnya berbinar saat beradu pandang dengan bola biru di mata Svent.
“Ah. Ya.” Svent kembali duduk. “Akan kutemui dia saat kau tidur.”
***
Linnea kembali berbaring dalam kotak kayu. Butiran natron kembali menyentuh kulitnya. Matanya sudah redup, hampir menutup kembali. Dia tersenyum saat Svent mengecup dahinya lama.
Mungkin ini yang terakhir, pikirnya. Kecupan ini, debaran jantung ini, dan lesiran darah dalam tubuhku ini tak akan kurasakan lagi besok.
Linnea memejamkan mata dan berharap Svent memaafkannya. Dia tahu midnight sun tak akan datang besok. Malam akan kembali, bintang dan bulan akan menampakkan diri. Jukkasjӓrvi dan seluruh desa di Lapland tak akan lagi melihat matahari di malam hari. Dan ritual pemanggilan ruh yang dilakukan Svent mungkin otomatis akan terhenti karena syaratnya tak terpenuhi. Linnea sudah menyadarinya sejak awal. Tak akan ada yang abadi. Setelah ini, dia tak akan bisa mendengar simfoni yang dimainkan Svent lagi.
-SELESAI-
Keterangan :
Midnight sun adalah fenomena alam dimana matahari akan bersinar nonstop selam 24 jam; umumnya terjadi selama dua bulan pada musim panas di negara-negara Eropa yang berada dalam lingkaran arktik (Kutub Utara).
Natron adalah nama lain natrium karbonat, garam yang biasa dipakai untuk membuat kulit mengalami reaksi hidrolisis agar lebih awet.








