Cerpen - Monodrama
Bunga-bunga itu untuknya. Dan orang-orang bukan mengabaikannya karena sengaja.
Aku tak terlalu suka hujan. Apalagi akhir-akhir ini. Jalanan terasa semakin sesak saat air-air itu turun dari langit. Bukan oleh kendaraan atau pejalan kaki yang memegang payung warna-warni, melainkan oleh makhluk lain. Ya. Oleh mereka yang tak pernah terlihat olehku selama ini. Entah kenapa mereka lebih suka muncul saat hari gelap dan ditemani rintikan hujan.
Belum lama ini, aku menyadarinya. Aku bisa melihat mereka. Aku tak tahu apa yang menyebabkan penglihatanku berubah. Maksudku, pasti ada hal yang memicu kepekaanku terhadap keberadaan mereka. Sesuatu yang seperti ini...bukanlah hal yang datang begitu saja, kan?
Tapi, entahlah. Aku sama sekali tidak ingat. Kenapa atau bagaimana, aku tak tahu. Dan tidak terlalu peduli sebenarnya. Tak ada yang terlalu berubah meski penglihatanku bertambah. Aku bertemu mereka di ruang tamu, di pinggir jalan, di dekat tangga, di dalam lemari. Di mana-mana. Tapi, syukurlah mereka tak pernah menggangguku. Kurasa semua akan terus begini jika aku tak memulai duluan.
Aku biasa dipanggil aneh, tapi belum mau disebut gila. Itu salah satu alasan kenapa aku memutuskan untuk mengabaikan mereka. Lagipula kami tidak saling kenal, jadi kurasa itu tidak masalah. Ya. Semoga tidak akan menjadi masalah.
***
Hari pertama sekolah setelah libur musim dingin bagiku adalah perpaduan antara rasa enggan dan muak dengan kemunafikan yang berlebihan. Di hari seperti ini, semua orang akan saling menyapa. Beberapa akan berteriak “Apa kabarmu?!” dan beberapa yang lainnya pasti saling mengucapkan “Selamat tahun baru!” dengan sangat ribut, seolah mereka begitu merindukan satu sama lain. Nyatanya, beberapa detik setelah mengucapkan basa-basi itu, mereka hanya akan saling pamer tentang bagaimana liburan mereka terlewati. Mana yang paling hebat dan keren. Heh!
Syukurlah orang-orang itu mengerti kalau aku berbeda, kalau aku terbiasa sendirian dan tak pernah suka banyak bicara. Jadi, tak ada satu pun dari mereka yang menyapa. Bahkan menoleh pun tidak. Sejujurnya, aku senang dengan sikap mereka. Aku tak tahu harus bagaimana jika mereka tiba-tiba mengajakku bicara.
Di sela gerombolan gadis yang sudah berisik di depan pintu kelas, aku berjalan santai. Seolah mereka tak ada, aku lewat begitu saja tanpa kata, menuju bangku di ujung ruangan, di dekat jendela.
“Apa-apaan ini?” Aku mengernyit melihat beberapa tangkai bunga yang diletakkan rapi di atas meja. Lebih tepatnya, di atas mejaku.
Aku menoleh ke arah gadis-gadis di depan pintu tadi, juga ke arah kelompok pria di sebelahku. Mungkin ini kerjaan iseng mereka. Tapi, mereka tak terlihat seperti orang yang mau repot-repot menjahiliku. Sikap mereka biasa saja; abai.
Menghela napas cukup panjang, kugeser bunga-bunga itu ke meja tak berpenghuni di sebelahnya. Aku memang tak punya teman sebangku, jadi tak akan ada yang marah jika bunga-bunga itu tergeletak begitu saja di sana. Dan jika nanti Mr.Pearce–guru home room kelas ini–bertanya, maka sederhana saja; aku tinggal menjawab tidak tahu apa-apa.
Bel berbunyi. Mr. Pearce masuk, diikuti seorang laki-laki dengan seragam yang berbeda dari murid sekolah ini. Orang itu tampak ramah, terlihat dari senyum bodohnya yang membuat beberapa gadis menahan jeritan. Perpaduan antara rambut pirang yang sedikit acak-acakan dan wajah oriental yang cute mungkin penyebabnya. Cowok Asia yang cakep memang mudah populer sekarang. Tren baru. Hallyu wave atau apalah itu sebutannya.
Dia memperkenalkan diri sebagai Alan Kim, berdarah Korea-Amerika, pindahan dari New York. Mendengar itu, beberapa gadis jadi makin heboh.
Aku menatap si murid baru kasihan. Positif. Dia akan dijadikan target kencan buta oleh para maniak “cinta” yang kalap karena sebentar lagi valentine tiba, sedangkan mereka belum punya pasangan.
“Kau bisa duduk di kursi kosong. Di sana.” Mr. Pearce menunjuk ke arahku.
Murid baru itu menoleh. Pandangan kami bertabrakan. Ekspresinya tiba-tiba berubah. Senyumnya hilang. Dia terlihat ragu saat berjalan menuju bangku barunya, menuju ke sebelahku. Setelah menarik kursi dan meletakkan tasnya di dekat kaki, dia dengan canggung menyapaku.
“Hai,” katanya sangat pelan. Nyaris seperti bisikan.
“Hai,” balasku.
“Emm, bunga-bunga ini...apa kau mau menyimpannya?”
Aku menatap bunga-bunga yang kugeser ke meja itu dan menggeleng. Lalu, sebuah pikiran tiba-tiba melintas. Sepertinya berita tentang “mangsa baru” sudah menyebar, makanya beberapa gadis langsung memasang umpan; meletakkan bunga-bunga cantik itu di meja. Mereka tahu kalau si murid baru alias “mangsa baru” mereka pasti akan duduk di sana. Jadi, sudah tentu bunga-bunga itu untuknya.
“Kurasa itu untukmu,” jawabku.
"Aku tidak kenal siapa-siapa, mana mungkin ini untukku.”
"Mungkin ada yang suka padamu. Kau tidak pernah tahu.” Aku mengangkat bahu.
"Tapi itu terdengar mustahil. Kurasa ini untukmu." Dia tampak ngotot, tapi nada bicaranya sama sekali tidak meninggi, masih seperti berbisik.
"Untukku? Itu bahkan lebih dari mustahil.” Aku tersenyum sinis. “Mereka tak pernah menganggapku ada."
Dan penjelasanku akhirnya membuat murid baru itu terdiam.
***
Jam olahraga. Guru menyuruh kami menggunakan lapangan basket indoor di dalam gimnasium karena lapangan ditutupi salju tipis.
Saat murid lain berjingkrak kegirangan karena diberi waktu bermain yang legal, aku hanya duduk lemas di pinggir lapangan. Olahraga adalah salah satu pelajaran yang kubenci. Semua pelajaran itu menyebalkan, pada dasarnya. Tapi, selalu ada saat di mana aku akan terkagum-kagum dengan sains dan bahasa. Hanya olahraga yang terus membuatku menggerutu. Aku memang tidak suka. Ditambah anemia dan imun yang mudah melemah, maka selesai sudah. Tak ada harapan bagiku untuk bersinar terang di pelajaran ini.
Setelah mungkin tiga puluh menit berlalu, si murid baru, Alan Kim, keluar lapangan dan duduk di sebelahku. Dia bersandar di dinding dengan mata terus memperhatikan pergerakan bola basket yang masih dimainkan murid lain.
Aku menghela. Apa dia tidak melihat kalau gadis-gadis di seberang lapangan ini ingin sekali duduk di dekatnya? Kenapa dia malah ke sini?
“Kau tidak ikut bermain.” Dia menyeka keringat dan meneguk air dari botol yang terkapar di dekat kakinya, entah milik siapa.
“Namaku tidak ada dalam tim mana pun,” kataku.
“Dan kau tidak heran kenapa mereka melakukan itu?” Dia meneguk air itu lagi.
Aku menggeleng. “Aku memang tidak bisa olahraga. Jika bermain, malah hanya merepotkan orang-orang. Anemiaku parah.”
“Karena itu kau bahkan tidak mengganti pakaian?”
“Ya. Begitulah,” jawabku malas.
***
Aku mendengar suara pintu yang ditutup. Deru mobil menyusul beberapa saat setelahnya. Paman dan Bibi pasti baru berangkat kerja. Aku mengintip dari jendela kamar. Sedan hitam itu memang sudah tidak lagi terlihat di halaman depan. Sepertinya mereka juga membawa sepupuku, Jenni. Mungkin bocah itu akan dititipkan di taman bermain. Baguslah. Aku jadi tidak direpotkan. Kepalaku sedang pusing sekarang.
Paman dan Bibi mengasuhku sejak Dad dan Mom meninggal. Aku tidak tahu kenapa mereka repot-repot membawaku ke rumah ini jika mereka hanya mengabaikanku. Seperti yang orang lain lakukan. Lihat saja. Mereka sepertinya bahkan tidak tahu kalau aku masih mendekam di kamar dan tidak ke sekolah. Well, aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa sebenarnya. Aku sendiri juga sudah lupa kapan terakhir kali bicara dengan mereka.
Akhir-akhir ini, aku berpikir bahwa mungkin Dad dan Mom punya harta yang lumayan banyak, makanya Paman dan Bibi mau mengasuhku. Atau lebih tepatnya memberiku tempat tinggal. Tapi, entahlah. Aku tak ingin memikirkan itu sekarang. Kepalaku terus berdenyut kuat. Sakit sekali.
Aku memaksakan diri ke kamar mandi dan membuka lemari di balik kaca wastafel, berencana mengambil beberapa aspirin untuk kutenggak. Tapi botol itu tak ada isi. Sial!
Aku mencengkram pinggiran wastafel saat sakit itu semakin parah. Di kaca, aku melihat wajah yang benar-benar kacau. Pipiku semakin tirus dan lingkar hitam di bawah mataku tampak semakin jelas. Sial! Sial! Sial!
***
Sakit kepalaku sudah hilang, tapi badanku terasa berat untuk digerakkan. Jadi, aku hanya memperhatikan matahari, langit, dan awan dari balik jendela kamar untuk mengusir bosan. Matahari tampak menepi. Terus menepi dan kemudian menghilang seperti ditelan bumi. Hanya sedikit jejak cahayanya yang tertinggal di celah awan.
Jam di ruang tengah berdentang empat kali. Aku mendengar suara lain di sela gema lonceng penunjuk waktu itu; desisan angin. Pintu depan pasti terbuka. Itu artinya, Bibi dan Jenni sudah pulang. Tapi, aneh. Aku juga merasakan kehadiran orang lain. Bukan Paman. Derap langkahnya berbeda. Dan aku yakin ini juga bukan milik makhluk-makhluk halus. Dia benar-benar “seseorang”. Orang yang asing.
Aku mempertajam pendengaran, tapi orang asing ini tak mengeluarkan suara yang cukup keras untuk bisa kuidentifikasi.
Kemudian, tiba-tiba aku mendengar Bibi dengan ramah berkata, “Terima kasih karena mau datang. Tamu Emy adalah tamu kami. Ini kamarnya. Gunakanlah waktumu.”
Mendengar namaku disebut, aku langsung menatap pintu kamar. Terdengar ketukan dari balik pintu putih itu. Seseorang memutar gerendel dan membukanya. Tanpa persetujuan atau undangan “silakan masuk” dariku. Engsel tua pintu itu berderit. Terdengar sedikit mengerikan.
“Apa yang kaulakukan di sini?” Aku mengernyit, sungguh terkejut melihat sosok itu.
Dia menutup pintu dan berjalan mendekatiku. Pelan.
“Kau tidak ke sekolah.” Itu yang dia katakan.
Aku terdiam, masih heran kenapa seorang Alan Kim bisa ada di kamarku sekarang. Dengan membawa buket bunga dan kotak kecil berwarna hitam.
“Kau terlihat berbeda. Anemia lagi?” Dia meletakkan bunga di atas meja belajar.
“Insomnia,” jawabku.
“Sudah berapa lama?” Dia duduk disebelahku. Lagi-lagi tanpa persetujuan.
“Entahlah.” Aku mengangkat bahu. “Mungkin satu bulan. Aku tidak ingat.”
Dia memandangku intens, seperti menuntut tambahan penjelasan.
“Well, akhir-akhir ini aku semakin mirip orang dungu. Linglung. Aku tidak bisa tidur dan tiba-tiba ada banyak hal yang bisa kulihat, juga jadi tak kumengerti dan tak kuingat,” kataku.
“Banyak hal yang tiba-tiba bisa kau lihat?”
“Ya.” Aku mengangguk. “Tapi aku tak akan mengatakan apa itu. Kalau pun kuberi tahu, kau tak akan percaya.”
“Kau bisa melihat mereka.”
Kaget dengan ucapannya, aku menoleh cepat untuk segera menatap pria yang menimang kotak kecilnya itu.
“Kau melihat hantu-hantu itu,” katanya lagi.
“Bagaimana kau...?”
“Aku juga bisa melihat mereka. Aku bisa mendengar dan bicara pada mereka.” Kali ini jawabannya membuatku terdiam.
“Ini.” Dia tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Dibukanya kotak hitam yang ia pegang sejak tadi.
Aku menganga. Bagaimana bisa dia memiliki itu? Itu kalung Mom! Kalung Mom yang selalu kupakai, sebelum kuhilangkan beberapa waktu yang lalu!
“Itu punyaku. Bagaimana bisa ada padamu?!”
“Kita pernah bertemu sebelumnya,” jawabnya.
“Bertemu?”
“Ya.” Dia mengangguk, bangkit, dan meletakkan kalung itu di atas meja, di sebelah buket bunga. “Aku sempat mengira kau orang yang berbeda. Tapi...” Dia menggantungkan kalimatnya.
Aku benar-benar tidak ingat. Jadi, kami pernah bertemu? Kapan? Kenapa dia baru memberikan ini sekarang? Dan kenapa juga dia pura-pura tidak mengenalku saat pertama bertemu di sekolah? Siapa orang ini?!
Aku menatap pria itu dengan penuh kebingungan. Lalu, tiba-tiba sebuah berkas cahaya melintas, membuatku kehilangan penglihatan beberapa saat. Tubuhku terasa limbung. Aku spontan memejamkan mata. Dan dengan sendirinya, sebuah ingatan terputar begitu saja.
Hari itu adalah awal musim dingin. Hujan turun deras. Meski natal masih beberapa bulan lagi, dengan semangat aku keluar rumah, berniat membeli kado untuk Jenni. Untuk Bibi. Untuk Paman.
Hari sudah gelap saat aku berjalan pulang, jadi kuputuskan untuk menyetop sebuah taksi. Bibi bilang dia masak sup salmon. Aku tak mau ketinggalan makan malam favoritku.
Aku tersenyum puas dengan hasil buruan kadoku hari ini, juga dengan menu makan malam yang akan kusantap. Senang, kudendangkan lagu “marry christmas” sepanjang perjalanan, ditemani deruan angin dari kaca taksi yang setengah terbuka. Pria tua yang memegang kemudi ikut tersenyum. Aku melihatnya dari pantulan di kaca spion.
Beberapa saat kemudian, taksi berhenti di lampu merah sebuah perempatan. Dan sebuah klakson panjang tiba-tiba terdengar. Tubuhku terdorong ke samping dengan cepat. Terhempas. Kepalaku membentur kaca pintu. Ada yang menabrak taksi kami dari samping!
Takut, panik, dan tak tahu apa yang harus dilakukan, aku mencengkram liontin yang tergantung di leherku erat. Selang beberapa detik, mobil yang kutumpangi sepertinya menabrak sesuatu, lalu ditabrak oleh benda keras lain beberapa kali. Tanpa tahu detailnya, aku kemudian mendengar teriakan-teriakan, sirene polisi, dan suara dentuman yang kuat sebelum kesadaranku hilang.
Tak kuasa mengingat sakit yang kurasakan waktu itu, aku cepat-cepat membuka mata.
Sejak itu. Ya. Aku kehilangan kalung Mom sejak kejadian itu. Dan kurasa, sejak itu juga aku mulai berubah. Aku jadi mudah sekali linglung, perasaan dan suasana hatiku kian hari jadi kian buruk. Aku juga mulai bisa melihat makhluk halus.
Apa mungkin...kecelakaan itu membuat syaraf di otakku rusak? Apa karena itu aku jadi bisa melihat hantu? Apa kejadian itu membuatku kehilangan ingatan? Membuatku melupakan banyak hal? Ataukah...membuatku mengalami gangguan mental?!
Aku menatap Alan Kim yang berdiri di depanku, mencoba meminta penjelasan darinya. Entah kenapa, aku yakin kalau dia tahu lebih banyak dariku. Namun, orang itu hanya balas menatapku dengan iris cokelat gelapnya dalam diam.
“Aku...kecelakaan itu...” racauku.
“Kau sudah mengingatnya?”
Aku cepat-cepat mengangguk.
“Itu tabrakan beruntun,” ujarnya. “Terjadi karena kejar-kejaran antara polisi dan buronan yang kabur dari penjara.”
Aku menganga. Jadi itu yang terjadi.
“Saat itu aku masih memakai kalung Mom. Aku menggenggam liontinnya erat,” gumamku.
“Ya, aku tahu.” Dia mengalihkan pandangan, menatap jauh ke luar jendela.
“Lalu, bagaimana bisa kalung itu ada padamu?”
Dia menghela napas panjang. “Ayahku juga korban kecelakaan itu. Aku baru saja tiba dari New York saat mendengar kabarnya. Seperti orang gila, aku cepat-cepat menuju rumah sakit. Tapi begitu tiba di sana, dia sudah dipindahkan dari ruang emergency.”
Wajahnya mengeras beberapa saat, sebelum balik melunak dan kembali menatapku. Tatapan yang begitu aneh.
“Aku menemui ayahku di kamar jenazah. Dan...sempat berpapasan dengan Bibimu sebelum memungut kalung ini. Ini...terjatuh di lantai. Saat tanganmu terjuntai dan tubuhmu dibawa keluar.”
-Selesai-
A/N
Yeay! Ini dia cerpen horor untuk #NulisBarengAlumniKF!!!
Kurasa ini sama sekali nggak bikin merinding. Hantu, vampir, dan hal-hal berbau misteri tanpa penjelasan logis bukan gayaku, sih. Aku cenderung suka cerita misteri yang menyangkut kriminal/pembunuhan *halah, sok banget*
Tapi, aku cukup semangat nulis cerita ini! Serius. Aku menikmatinya. Semoga kalian juga! ^o^
Btw, untuk alurnya aku niru film Sixth Sense, nih. Kalau judul sih, aku nyomot aja dari lagunya Jonghyun Shinee~ ^,^












