“Elegi Kasih Zainal & Rumia” 2
Bagaimana mungkin kini Rumi bisa melupakan sosok Madra yang semakin kesini semakin teguh keislamannya. Apakah mungkin dia akan memikirkan sebuah rasa yang Rumi rasakan selama ia menjadi muridnya menuntut ilmu agama. Hati & Rasa! Kedua kata yang tak jarang terdengar di telinga. Hati yang bisa merasakan semua gejolak kehidupan serta rasa yang tak pernah bisa dibohongi kedatangannya. Salah satunya adalah rasa suka, yang lama-kelamaan disebut dengan cinta. Sebagai wanita biasa, virus cinta itu pun menyerang gadis bermuka oval itu. Selayaknya fitrah manusia yang mudah terbolak-balikkan hatinya. Sembari duduk merenung Rumi membolak balik buku catatan ditangannya, sesekali menengok handpone kali aja ada pesan dari Luna.
“Hei Rum, kenapa termenung” Luna datang sembari menepuk pundak Rumi
“Lun, bagaimana bila kamu tak menyukai pria yang ingin kamu nikahi?” Rumi seakan sendu mengatakan kalimat yang tak terpikirkan bakal ditanyakan
“Rum, kamu kenapa?” Luna mengrenyitkan dahi, curiga dengan pertanyaan Rumi
“Kemarin aku mendengar kabar dari Ibu. Ada yang datang melamarku, namun bukan untuk dirinya. Dia ustad dari seorang pria yang sudah lama jatuh hati padaku. Semenjak aku sering nagji di masjid dekat rumahnya” Rumi terlihat bingung dengan cerita yang ia sampaikan.
“Apa kau yakin tidak menyukainya? Ini tentang Zen yang dulu kan?” tebak Luna sembari mengelus tangan Rumi.
“Iya Lun. Ini kedua kalinya ia melamarku. Seperti yang aku ceritakan dulu padamu. Dia langsung melamarku saat beredar kabar kalau aku akan dijodohkan dengan seorang pria anak teman bapakku seminggu yang lalu.” jelas Rumi dengan nafas panjang.
“Maafkan aku Rum, walaupun aku adalah teman dekatmu, untuk masalah hati, aku tak bisa memberikan solusi. Mengadulah pada-Nya, jangan kau tanyakan pada manusia tentang kebingunganmu ini. Hasilnya akan sama saja, bingung dan semakin memusingkan” Luna memeluk sahabatnya dengan penuh kasih sayang.
Lantas pulanglah mereka berdua menuju kos-kosan dia tinggal. Dengan wajah yang telah ceria kembali dan juga seakan telah hilang cuap-cuap mengharu biru semenit yang lalu. Mereka menuju kamar masing-masing dan berbenah untuk mengerjakan amanah lain.
Namun kegelisahan hati Rumi tak kunjung mereda, disisi lain ada lelaki sholeh yang sudah jelas kesungguhannya untuk menjadikan dia permaisurinya. Disatu sisi ia terusik dengan perasaan suka dengan sosok Madra ustad kece yang tak kalah sholeh pula. Lantas disisi lain ia harus mengemban amanah menyelesaikan studi pascasarjananya tahun ini juga, study fast track yang segera harus dia tuntaskan.
Namun dengan tegar ia menghadapinya. Perlahan ia selalu berdoa untuk menentukan pilihan besar yang sudah di depan mata. Seminggu berlalu dengan bermunajat dan memohon petunjuk kepada-Nya. Tak berhenti, berdoa, bedoa dan berdoa memohon jawaban dari Sang Pemilik Cinta.
Hari yang cerah, setelah dua minggu berita besar yang Rumi dengan berlalu. Serta hari ini yang begitu menyibukkan, berkutat dengan dosen pembimbing. Rumi merasa lelah dan rehat di kamar tercintanya sembari mendengarkan tilawah dari handphone kuningnya. Sorepun kian menjelang, Rumi segera memulai aktifitas kembali. Ya, membuat materi pengajaran untuk anak-anak Taman Pendidikan Al-Quran. Inilah kesibukan Rumi lainnya, selain menggarap tesis ia mempunyai amanah untuk mengajarkan ayat-ayat Al-Quran kepada anak-anak kompleks dimana dia nge-kos sekarang. Dengan anak-anak itulah salah satu dia bisa melupakan semua permasalahan pribadinya.
“Lun, aku ke madrasah dulu ya. Ada buku yang harus aku ambil untuk membuat materi yang harus aku persiapkan untuk ngaji besok sore, mungkin juga mau print sekalian” teriak Rumi sembari mengangkat sendal dan pamit untuk pergi duluan
“Oke Rum, nanti aku nyusul ya, masih mau setrika baju” tegas Luna.
Rumipun berjalan menuju Masjid Al-Muttaqin tempat biasa ia mengajar. Tak disangka-sangka ia menjumpai sosok yang pernah ia kenal sebelumnya. Pria nampak mengisi pengajian ibu-ibu di kompleks masjid Al-Muttaqin, tempat Rumi mengajar ngaji anak-anak. Dalam hati Rumi berdesir menanyakan segala macam kecambuk kebingungan.
“Itukah sosok yang tetap menungguku untuk menjadi kekasih halalku? Zen yang masih datang kembali setelah dua tahun lalu aku menolak lamarannya? Itukan Zen yang kini datang kembali melamarku setelah tahu aku akan dijodohkan dengan anak teman bapakku? “
“Itukah Zen yang tak pernah bertegur sapa dengan ku, selalu menundukkan pandangann bila bertemu denganku yang ternyata menaruh hati padaku sebegitu dalamnya?” gumam rumi melontarkan pertanyaan-pertanyaan dalam lamunan.
Gejolak hati Rumi berkejaran, antara hati dan fikiran yang kian berseberangan. Ia tak bisa mengerti apa yang Zen lihat dari dirinya sampai dia begitu berani melamarku lagi. Rumi hanya bisa memandangnya dari luar masjid, tak sampai hati ia berani menampakkan diri di hadapan Zen. Alhasil Rumi pun putar langkah kembali ke kosan memilih menunggu pengajian berakhir dan kembali lagi disaat yang tepat.
Ketika adzan maghrib berkumandang, Rumi kembali ke masjid Al-Muttaqin Ia seakan membawa sebuah kertas berwarna putih dalam genggaman. Namun ia tak sendirian lagi, ia sudah bersama Luna disampingnya. Sholat jamaah berlangsung dengan khidmat, kedua gadis itu mengikutinya dengan penuh kekhusyu’an. Dan tak terelakkan, Zen imam dalam sholat jamaah kali ini.
Zen pun tak menyadari adanya Rumi dalam kumpulan jamaah senja ini. Tak pernah ia ketahui, bila ia akan mengisi kajian di masjid biasanya Rumi mengajar ngaji. Setelah jamaah usai dengan lantangnya Luna memanggil Zen dari slasar masjid.
“Kak. Zen....” Teriak Luna sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
Zen pun tertegun melihat Rumi dan Luna, seakan mati kutu rasanya ia harus menjumpai Rumi dalam kondisi seperti ini.
“Assalamualaikum dek Luna, dek Rumi...” ujar Zen dengan senyum khasnya.
Rumi bersikap biasa saja, seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Begitun pula Zen, yang masih saja stay cool berharap Rumi belum mengetahui berita itu dari Bapaknya.
“Ada acara apa kak.Zen bisa nyasar dimari?” tanya Luna.
“Oh, jalan-jalan saja kok, sambil belajar bareng ibu-ibu PKK di komplek ini.” jelas Zen.
“Wiiidiiih.........gayanya pak.Ustad merendah...hehe” songongnya Luna mulai keluar
“He..he..Yaudah semoga sukses ya Kak, kita pamit dulu.” ujar Luna sambil cengengesan.
“Baiklah, saya pamit pulang juga, masih ada amanah lain yang musti saya kerjakan. Sampai berjumpa kembali” Zen berpamitan dengan senyum merekah dari wajah nya.
“Sebentar Kak.” cegah Rumi menghentikan langkah Zen yang hendak pergi menjauh dari mereka.
“Terimakasih ya Kak” Rumi memberikan kertas putih kepada Zen lantas Ia beringsut pergi setelah mengucapkan kata-kata pendek itu.
“Ehh laahh....Rum... Rum... asal pergi saja.” Luna kebingungan mencegahnya pergi.
“Ya sudah Kak Zen, saya ikut pergi dulu ya.... Assalamualaikum” Luna mengikuti Rumi pergi sambil tergesa-gesa mengejar teman terbaiknya itu.
Zen sempat tertegun dengan kertas yang diberikan Rumi. Dalam fikirannya ia merasa gundah karena mungkin kabar Ustadnya melamar Rumi untuknya telah sampai ke telingan Rumi. Namun dalam hatinya ia merasa senang dan was-was pula karena sekonyong-konyong Rumi memberikan sebuah surat entah apa isinya. Ia hanya berdoa kepada Allah akan tegar menerima isi coretan bermakna dalm surat itu. Tak berani mengusik lipatan surat suci itu, Zen pun kembali melaju menuju kediamannya, dengan surat putih di saku baju kokonya.