Saatnya menunjukkan hasil latihan yang aku lakukan selama ini. Kunci dari lolos seleksi ini adalah rileks. Ada empat hal yang harus diperhatikan yakni technical, individual skill, conditioning dan psikologis.
Pada penilaian technical, yang dilihat adalah bagaimana pemain dapat mendribbling, passing, heading dan shooting dengan baik. Para peserta diuji melalui pertandingan dalam tim maupun individual. Walaupun di poin ini aku agak kesulitan ketika melakukan dribbling dan heading, namun secara keseluruhan aku dapat menyelesaikannya dengan hasil yang cukup baik.
Lalu kalau di penilaian individual skill, kami diuji satu lawan satu, baik itu dalam posisi menyerang maupun bertahan. Selain itu cara kita menunjukkan passing dan shooting yang variatif juga diperhitungkan. Sialnya saat satu lawan satu ketika posisi menyerang, aku berhadapan dengan Samsul Bahri, seorang pemain berotot besar yang sudah berpengalaman lebih di sepakbola amputasi.
“Coba lewati aku kalau bisa, hei bocah mantan tim macan!”
“Jangan remehkan aku dulu Samsul.”
Set.. tanpa sepenglihatanku, bola berhasil ia rebut tepat ketika aku ingin mencoba maju melewatinya.
“Hahaha.. Cuma segitu kemampuan jawara junior sepakbola sekolah? Caramu membawa bola masih kurang stabil, Arga. Coba latih kembali kemampuanmu dalam mengendalikan bola. Fokuskan pandangan ke bola dan baca gerakan kaki musuh dengan baik.” ujar Samsul.
Dipercobaan ketiga melawan Samsul, aku mencoba lebih fokus dalam membaca arah gerakan lawan. Kali ini berhasil, akan tetapi Samsul masih dapat merebut bolaku dari belakang. Beruntung diseleksi ini tidak hanya Samsul aku lawan, sehingga aku masih bisa mengejar poin.
Kemudian selain dari technical dan individual skill, penilaian seleksi juga dilihat dari conditioning dan psikologis. Conditioning berkaitan dengan speed. Yakni tentang seberapa efektif kami dapat melakukan sprint. Sedangkan psikologi adalah terkait motivasi pemain di lapangan, pemain terlihat percaya diri atau grogi. Kedua poin ini tidak dilakukan tes namun dilihat dari trial yang dilakukan.
Pada akhirnya proses seleksi dapat aku selesaikan dengan baik. Aku lulus seleksi sebagai 20 orang tim nasional amputasi Indonesia, tetapi dengan skor nomor dua dari bawah. Benar rupanya, aku perlu lebih banyak latihan agar bisa menguasai bermain bola dengan satu kaki ini.
Tibalah kami dimasa Pemusatan Pelatihan (training center) untuk mempersiapkan Timnas Indonesia Amputasi agar mematangkan diri menuju pertandingan internasional. Pusat pelatihan kami ada di daerah Jakarta. Kami dilatih oleh seorang pelatih yang juga merupakan mantan pemain klub Liga Indonesia yakni Pak Martin Kuncoro atau yang akrab disapa Pak Martin Kumis.
Dua minggu pertama, masa pelatihan kami digembleng agar bisa memperkuat kemampuan fisik bermain kami. Latihan yang dilakukan seperti Strength Training dengan melakukan push up, chin up, squat jump dan mengangkat beban. Lalu kami juga melakukan Cardiovascular Fitness dengan jogging, jalan cepat dan naik turun tangga. Kami pun juga melakukan Neuromotor Exercise untuk melatih keseimbangan, koordinasi, gaya berjalan dan kelincahan tubuh.
Setelah tubuh kami sudah dilakukan pembiasaan fisik. Barulah kami mulai latihan di lapangan. Secara aturan sepak bola amputasi hampir sama seperti sepak bola pada umumnya. Ada sebagian aturan yang diadaptasi. Seperti, satu tim yang hanya terdiri dari dari tujuh orang. Dimana pemain yang menjadi kiper adalah orang yang memiliki amputasi lengan, sedangkan yang jadi pemain outfield adalah penyandang amputasi kaki dengan menggunakan kruk. Durasi tiap babaknya pun hanya 25 menit. Kami tidak boleh menendang bola menggunakan kruk, harus menggunakan kaki.
Ditengah latihan, Pak Martin Kumis memanggil aku.
“Arga, kemari! Coba kamu lakukan lari sambil menggiring bola dari ujung sini ke ujung sana.”
“Siap Pak.” Aku melakukan satu putaran lari lalu kembali lagi ke pak pelatih.
“Gaya berlari dan dribbling kamu masih payah. Kamu harus pahami konsep penggunaan kruk dengan baik ketika dalam pertandingan.” ujar Pak Martin Kumis.
Pak Martin Kumis kemudian mengajarkan kepada kami.
“Berlari dengan kruk tidak sama dengan berlari menggunakan dua kaki. Ketika kalian menggunakan kruk ada 4 tahapan yang harus dilakukan dengan benar. Pertama adalah crutch stance, yakni ketika kalian mencondongkan badan kebelakang, bersiap untuk maju dan menjadikan kruk untuk menompa tubuh. Kemudian first stance, ketika kaki kalian akan turun untuk mendorong badan kalian kedepan. Setelah itu kalian akan jumping lalu ke tahap second stance untuk mengambil ancang-ancang bertumpu kembali dengan kruk.”
“Agar bisa melaju cepat, kekuatan kaki sangat berperan disini. Cobalah gunakan kaki kalian sebesar 70% dan kruk sebesar 30% diwaktu kalian berlari. Akan tetapi, penggunaan kruk sambil membawa bola pasti akan menghambat gerakan kalian. Saran dari saya, gunakan kemampuan otot tangan agar bisa menopang 40% berat tubuh kalian.” ujar Pak Martin dengan rinci.
Butuh waktu yang tidak sebentar memang untuk bisa mempraktikkan ajaran dari pak pelatih. Namun pada akhirnya kemampuan dribblingku kini telah berkembang pesat dibanding sebelum Pelatnas dulu.
Setelah 3 bulan latihan, bisa dikatakan tim kami sudah cukup matang untuk mulai bertanding. Beberapa pertandingan persahabatan melawan negara tetangga berhasil kami lakukan dengan hasil yang baik. Sayangnya 2020 terdapat pandemic COVID19, sehingga beberapa pertandingan harus ditunda dan kami terpaksa harus latihan masing-masing dulu.
Melihat prestasi tim sepakbola amputasi Indonesia yang mulai berkembang. Di 2021, World Amputee Football Federation mengumumkan bahwa tim kami memenuhi syarat untuk mengikuti turnamen sepak bola amputasi dunia. Akan tetapi sebelum dapat kesana, kami harus mengikuti seleksi regional Asia Pasifik terlebih dahulu.
Akhirnya momen ini datang juga. Momen kesempatan yang aku tunggu-tunggu selama ini. Kali ini squad Garuda Berkaki Satu siap membentangkan sayapnya untuk terbang.