69 Colebrooke Row #7
Kami sangatlah berkebalikan. Matahari dan bulan. Aku suka sekali berbicara panjang lebar sampai ke detail-detailnya. Bahkan jika bercerita dengan mengutip perkataan seseorang, raut wajah dan suaranya pun ku tiru, lebih parah lagi, sound effect-nya pun aku verbalkan. “Harus pake sret gitu ya?” ia tersenyum lalu terkekeh. Karena ia bicara seperlunya saja. Jika gilirannya untuk bicara dituangkan ke dalam naskah, mungkin tidak akan mencapai satu paragraf. Bahkan ocehanku yang tak kunjung henti pun tak jarang diresponnya hanya dengan senyuman disertai kecupan lembut.
Dulu, ia sempat memotong pembicaraanku dengan, “Ssst ga usah diceritain semua juga kali.” Beberapa kali ia menyebutku bawel. Ia juga sempat mengatakan, jika aku butuh teman curhat, carilah. Karena sebenarnya ia bukan golongan manusia yang gemar bercerita. Aku rasa aku mulai menjengkelkan untuknya. Mulai saat itu aku berhenti bicara terlalu banyak dengannya. Cukup hal-hal lain yang lebih ringan untuk diperbincangkan. Entah, saat itu aku merasa mengganggunya.
Aku juga sering memancingnya untuk menceritakan kesehariannya, baik itu pekerjaannya, orang tuanya, atau saudara kandungnya dengan cara menceritakan milikku terlebih dahulu. Tapi cara itu tidak pernah berhasil. Ia hanya menjawab superfisialnya saja. Yang aku tahu hanya 1) ia anak pertama dari 2 bersaudara, 2) adiknya perempuan dan lebih tua dariku, 3) bapaknya sudah tiada karena sebuah penyakit yang gejalanya muntah darah.
Aneh memang. Seperti mengenal namun tak utuh. Ada bagian yang hilang. Meraba-raba. Menduga-duga. Awalnya sulit untuk bertahan di keadaan seperti ini. Namun belakangan aku tahu, pekerjaannya adalah seorang programmer. Jujur aku tidak mengerti macam-macam pekerjaan. Ditanya orang lain pekerjaan ayah pun aku bingung menjawabnya. Meski dijelaskan oleh ayah berkali-kalipun aku tetap gagal paham.
Aku mencari informasi di dunia maya dan sahabat karib tentang apa saja yang dilakukan seorang programmer. Setelah itu baru ku temukan jawaban dari semua tanda tanyaku selama ini. Dari kata ‘leptopan’ atau ‘pekerjaan tukang ketik’ yang ia maksud, ia sungguh bukan cuma mengetik seperti yang aku lakukan saat ini, tapi mengetik dengan bahasa-bahasa komputer dan rangkaian bahkan deretan simbol-simbol dan huruf-huruf yang melihatnya saja bikin mata siwer. Belum lagi kalau ditemukan error, perlu perbaikan yang tidak sederhana. Apalagi untuk kita, kaum awam. Dari kebiasaannya masih terjaga dini hari, itu bukan karena hal sepele seperti tidak bisa tidur atau sekedar nonton klub sepak bola kesayangan, tapi ia melanjutkan tugas kantornya di rumah. Hingga larut malam, bahkan tidur setelah menunaikan sholat subuh. Dari perkataannya yang menolak dengan halus segala ceritaku, ia sungguh tak punya waktu untuk itu.
Aku merasa bodoh telah berprasangka terhadapnya. Ia terlalu sibuk untuk menanggapi kisah keseharian yang remeh temeh. Jangankan orang lain. Dirinya sendiripun sering tak sempat diberi perhatian. Jam makan kacau, makan seadanya, sayuran pun jarang dilahapnya. Aku merasa bersalah namun aku tak meminta maaf atas segala keegoisanku dan prasangkaku selama ini. Karena ia pernah bilang, tak perlu meminta maaf terlalu banyak, cukup lah menunjukkan sikap dan perubahan serta mencari solusi.
Mulai saat itu, aku mencoba memberi dukungan dengan tetap terjaga setidaknya sampai lewat tengah malam. Tentu aku tidak diam atau malah memulai percakapan terlebih dahulu, karena itu akan menganggu kinerjanya. Otomatis waktunya untuk beristirahat menipis. Akupun mencari kesibukan. Ku isi dengan membaca beberapa buku, mengerjakan tugas kampus, dan jika bosan cukup ikut topik pembicaraan di grup chatting sahabat karibku.
Namun belakangan ini aku dibuatnya bertanya lagi. Semakin dingin menimpaliku. Kecupan lembut pun absen dari bibirnya. Ia hanya melirik ke arahku lalu kembali melanjutkan apapun yang sedang dikerjakannya. Kenapa? Kenapa? Suatu hari aku menggodanya, berharap kembali seperti sebelumnya. Ya, hangat. Namun? Ia menepis. “Hayo dikurangin ah. Aku udah mutusin buat berusaha lebih baik.” Hening. Maksudnya? “Selama ini kecupan cuma pengalihan dalam percakapan kita. Harus dikurangi. Supaya aku berusaha selalu mencari topik buat ngobrol.” Lagipula kecupan itu….. ya kamu tahu kan, seperti fenomena bola salju. “Makin seperti itu, aku makin merasa menjauh dari kata ‘lebih baik’.”
Ya. Ia lelaki yang baik.
“Beberapa kali memancingku, aku tau. Tapi ku alihkan. Tentu aku sudah setuju dengan risikonya. Kamu akan cari pelampiasan lain dengan mencari orang lain. Sudah ku pikirkan, aku ga masalah.”
Aku banyak belajar dari lelaki ini. Tentang cinta, usaha yang tak perlu ditunjukkan, dan ketulusan. Sungguh. Tuhan. Terima kasih.

















