69 Colebrooke Row #6
"Tunggu saja di sana. Aku sampai sekitar 3 jam dari sekarang."
Belum pernah aku terjebak di stasiun dan diminta menunggu lama, namun sesenang ini.
Dadakan memang. Awalnya aku tidak berharap banyak untuknya datang dan menjemputku. Namun sungguh, aku tak punya pilihan. Terjebak di stasiun dan dikelilingi massa pendemo, jalanan ditutup sana-sini, hujan deras, tidak bawa payung. Padahal biasanya hanya membutuhkan waktu 15 menit jalan kaki dari stasiun menuju hotel itu.
Lama ya.
Namun aku tidak mencoba menanyakan keberadaannya. Karena aku tahu, Sabtunya terusik karena permintaanku yang amat sangat mendadak. Lagipula percuma, ia sebutkan sudah sampai mana pun aku takq banyak tahu soal tempat di kota ini.
"Ting."
"Aku di busway.", bersama pesan itu terlampir gambar kakinya dengan latar belakang pemandangan di dalam busway.
Aku tersenyum. Seakan ia tahu aku bertanya-tanya.
Akhirnya hari ini datang juga.
Aku berusaha membunuh waktu dengan membaca novel. Tiga setengah bab terlewati.
"Ting."
"Kamu sebelah mana stasiun?"
Ku kirimkan gambar kakiku dan pemandangan hiruk-pikuk khas stasiun di depanku.
"Di sini."
Ku lanjutkan lagi bacaanku. Tanggung, beberapa lembar lagi empat bab.
Terasa getaran dari kursi tunggu sebelahku. Tak aku gubris. Aku tetap asyik membaca. Setelah bab itu tamat, aku mulai mencari lagi keberadaannya. Kiri.... Ke depan.... Ku tolehkan kepalaku. Mana dia ya? Kan.... Lho ternyata dari tadi dia di sini, di kursi tunggu sebelahku.
Pakaiannya basah kuyup. Badanku mendekat, ku raih lengan bajunya.
"Basah. Bawa baju ganti ga?"
"Aku ga bawa apa-apa. Cuma HP, dompet, sama payung."
Tak sadar, rupanya bajuku mengenai bajunya yang basah.
"Tuh baju kamu ikutan basah jadinya kan."
"Yah gimana dong."
"Ini sweater kan? Ada baju lagi di dalemnya? Buka aja, ntar masuk angin lho."
Karena baju di balik sweater itu pendek, khawatir terangkat saat ku buka sweaternya, aku meminta izin ke toilet untuk melepas sweaterku.
Terlanjur basah, sweaterku ku jadikan handuk untuk menyerap air di bajunya yang basah kuyup.
Ia melihat kakiku.
"Serius kamu mau pake itu buat jalan? Jauh lho. Muter-muter. Bisa sejam kita nyampe. Bawa sendal ga?"
Tak kuduga ia mengomentari wedges shoes yang ku kenakan.
"Ngg... Ngga sih. Tapi kalo flat shoes ada."
Ku buka ranselku, mengorek-ngorek dalam, dan... Dapat!
"Ini gimana?"
Ia mengamati sepatuku.
"Hmm better lah, dibanding yang tadi. Engga capek kan kalo pake itu?"
"Ini sepatu regulerku buat kuliah kook."
"Ya udah, pergi sekarang?"
"Yuk." ku gendong ranselku. Aku nampak kikuk dengan tasku yang besar.
"Tasnya harus segede ini? Haha sini aku bawain."
"Eeeh jangan, berat."
"Justru karena berat."
Kami mulai berjalan dan memutuskan arah mana kami memulai. Ia tanya petugas keamanan sekitar, jalan mana saja yang tidak terblokade. Aku mencoba membantu.
"Udah, ga usah. Biar tour guide yang tangani. Turis diam saja."













