Mengapa Menyapih
Abang, sebutan saat ini untuk anak pertamaku akhirnya ada di titik menyapih. Kurang lebih sekitar 3 bulan sebelum genap 18 bulan pada 6 Oktober 2024 pelan-pelan kusounding sebelum tidur meskipun tidak setiap hari, "Bang, nanti di usia Abang 18 bulan atau 20 bulan disapih ya." Sampai beberapa kali sounding ia pun merespon dengan anggukan. Tak jarang kutanyakan juga, "Abang, nennya masih ada?" Ia menggelengkan kepala. Beberapa kali kuulangi pertanyaan yang sama jawabannya tetap dengan gelengan kepala. Aku tak tahu pasti apakah jawaban itu benar adanya.
Mengapa aku menyapih sebelum 2 tahun?
Aku memutuskan menyapih Abang secara sadar dan tentunya dengan beberapa alasan. Meskipun kuakui aku lebih banyak mencari pembahasan di youtube tentang bagaimana menyapih dengan cinta atau istilah lebih kerennya weaning with love daripada mencari tahu tentang mengapa menyapih sebelum 2 tahun. Bagaimana hukum menyapih dalam islam? Bagaimana menurut ilmu kedokteran? Apakah menyusui anak wajib 2 tahun? Apakah ada dampak menyusui saat hamil? Dan pertanyaan lainnya yang baru muncul setelah aku mendapatkan pertanyaan dari salah satu teman sekolahku tentang apa pertimbanganku menyapih Abang di usia 18 tahun selain tandem.
Aku pernah membicarakan tentang menyapih Abang kepada suami tapi memang tidak intens dan terlihat bahwa tidak ada sanggahan yang kuartikan bahwa ia menyetujui keputusanku karena aku yang lebih tahu kondisi Abang ketika menyusu. Lalu kujawab pertanyaan temanku sesuai dengan kondisiku. Ada beberapa hal :
Karena aku sedang hamil. Usia kandungan saat menyapih Abang ±28 weeks yang artinya memasuki awal trimester ketiga. Alhamdulillah meskipun hamil kondisiku cukup baik. Aku tidak mengalami kontraksi ataupun flek sehingga sebenarnya jika tetap ingin menyusui masih diperbolehkan menurut dokter. Tapi jika terjadi 2 hal di atas maka hentikan menyusui.
Tandem. Menurutku yang mana belum merasakan demikian, tandem akan lebih sulit. Aku harus menyusui 2 anak sekaligus. Rasanya akan lebih sulit bagi Abang untuk tiba-tiba berbagi. Mungkin aku akan berhadapan dengan emosinya yang bisa jadi merasa bahwa telah direbut oleh adiknya.
Memudahkan dan mempersiapkan. Memasuki trimester 3 yang artinya ±3 bulan lagi menuju persalinan. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika menyapih di waktu yang sangat dekat dengan HPL. Oleh karenanya, aku hanya ingin mempersiapkan hal itu tanpa dadakan dan ternyata perjalananku Allah mudahkan. Aku sempat berpikir jika Abang masih sulit disapih, aku tidak akan memaksanya dan akan tetap melanjutkan menyusui. Ternyata berbanding terbalik dan proses menyapih tetap berlanjut.
Melanjutkan alasan ketiga dimana hari pertama sapih Abang sudah tidak lagi menunjuk untuk nen. Ia hanya menangis sewajarnya dalam artian sebentar. Melihat hal ini seolah Abang sendiri juga mau disapih maka aku juga mengikuti keinginannya.
Aku merasa bahwa beberapa bulan terakhir Abang menyusu untuk mencari kenyamanan. Bisa disebut Abang hanya ngempeng. Hal itu membuatku tidak nyaman karena ia tidak menyusu dengan seharusnya. Aku juga lebih merasa sedih jika menyusui sambil bermain HP.
Semua pertimbangan adalah pertimbangan yang ringan. Lalu temanku membalas yang seperti ini,
Ketika aku membaca kalimat termasuk perintah syari atau satu hal yang perintahnya seperti perintah sholat. Mak deg. Seketika aku berpikir dan merasa, "Aku berdosa dong." Lalu aku kembali mengingat perjuangan menyusui bahwa aku pernah di masa kesulitan, banyak mengeluh, bahkan sampai menangis karena menyusui yang tidak nyaman. Pelekatan dan posisi belum benar. Aku teringat bagaimana aku berusaha datang ke konselor laktasi untuk meminta bantuan. Aku juga teringat ASIku yang baru keluar di hari ketiga dan baru di hari itu anakku kususui. Aku teringat bahwa meski sakit aku sangat ingin menyusui anakku secara langsung dan bukan menggunakan dot. Sampai-sampai aku bertanya kepada suami, "Aku bukan ngga mau nyusui Abang kan, Yan?" Mulanya ia jawab bercanda yaitu iya tapi lalu ia menenangkan kalau aku tidak seperti itu. Kusampaikan semua yang kurasakan sejak awal menyusui Abang. Apakah aku berdosa?
Apa yang temanku sampaikan dan di hari itu aku teringat kembali perjuangan menyusui adalah saat menyapih ini hampir dikatakan berhasil. Pikiranku melayang lagi, "Udah berhenti masak kususui lagi toh selama ini Abang benar-benar tidak meminta, tidak menunjuk untuk menyusu."
Lalu kubaca kembali buku yang Prophetic Parenting bagian menyapih, kupahami pelan-pelan. Lalu kucari referensi lain sebagai ilmu meskipun aku telah menyapihnya. Dari sekian yang kutonton kusimpulkan bahwa selama ada musyawarah antara suami dan istri tentang menyapih diperbolehkan dan bahasan tentang jika terjadi perceraian adalah pembahasan yang berbeda. Tidak ada pula yang menyebutkan bahwa menyusui 2 tahun adalah sebuah kewajiban dan jika tidak dipenuhi akan dihukumi dosa. Sesuai dalam artian di Al Quran bahwa memang menyusui 2 tahun itu dianjurkan.
Pelan-pelan aku mulai tenang, semoga keputusanku tepat dan membawa kebaikan untuk semua. Aku tidak berdosa dan tidak perlu merasa bersalah. Aku telah melakukan yang bisa kulakukan dari perjuangan menyusui.
Lalu apakah kamu memiliki pengalaman menyapih sebelum 2 tahun? Bagaimana pendapatmu tentang hal itu? Kita saling sharing, yuk!










