Perjalanan Menyapih Farras
Bukan hal yang mudah rasanya 'menyapih' itu. Terlebih setelah mendengar banyak cerita dan pengalaman, Apakah Uma bisa, Nak?
Uma ingin menyapih Aa tidak dengan paksaan. Tidak membohongi, tidak membuat Aa sedih karena disapih. Banyak yang bertanya tentang hal ini.
Menyapih Aa, Uma mulai 2 bulan lebih ke belakang. Awalnya, Aa disapih siang saja (kurang lebih sebulan). Ketika waktu tidur siang, Uma ajak Aa bercerita dan bernyanyi. Lama kelamaan Aa mengantuk, dan tidur..
Apakah mulus?
Tentu tidak, ada waktu Aa menangis. Gapapa, Uma coba membiarkan Aa menangis dulu, lihat waktunya. Paling lama 15 menit. Tapi alhamdulillah Aa biasanya kurang dari itu sudah tenang.
Pesannya, jangan tinggalkan anak saat sedang menangis, biarkan anak lihat kalau ibunya ada disana. Menenangkan ia hingga emosinya mereda. Aa pun pernah lebih dari 15 menit, jadi Uma bantu tenangin dengan digendong. Alhamdulillah hanya sekali-dua kali saja.
Ketika menyapih siang, Uma sama sekali tidak membatasi Aa kalau mau mimi malam. Karena saat itu adalah waktu untuk sounding, bahwa Aa hanya boleh mimi malam saja, siang tidak. Dan jangan lupa juga untuk sounding penyapihan 2 tahun penuh. Kurang lebih seperti ini
"Aa mau mimi yaa? Bolehh, tapi siang besok tidak yaa, nak.."
"Aa, nanti november Aa sudah 2 tahun, Aa sudah besar, Aa perlu makan yang banyak untuk Aa tumbuh. Aa sudah tidak terpenuhi lagi kalau dari mimi. Jadi nanti 2 tahun, Aa tidak mimi lagi yaa"
Uma seperti itu ketika menyusui Aa malam. Dan alhamdulillah sejauh ini menyapih siang berhasil, sampai masuk ke kisaran oktober (sebulanan lebih menuju Aa 2 tahun).
Percaya atau tidak, menyapih siang membuat anak sedikitnya lupa dengan sendirinya. Meski kadangkali ia ingat, tak apa, Uma tetap berikan di waktu malam, karena memang masih haknya.
Kemudian, Uma mulai menjarak waktu mimi malam untuk Aa. Misal ketika mau tidur Aa diajak main, bercerita dan lagi-lagi bernyanyi. Ini cukup efektif, doa tidur disematkan sebelum bercerita.
Ngga harus setiap hari Aa tidak mimi malam. Cukup jarakkan saja, kalau anak mau, kasih.. Jika tidak, jangan ditawarkan. Sehingga anak bisa tidur tanpa mimi.
Mungkin dua mingguan kurang, Aa mimi ketika bangun malam saja.. Ngga begitu teratur, karena Uma liat kesiapan Aa.
Minggu berikutnya ketika Aa bangun malam, Uma kasih Aa air untuk minum, kadang Aa mau lalu tidur lagi. Tapi kadang Aa mau mimi, sesekali berikan, tak apa. Sesekali Uma gendong sampai Aa tidur lagi.
Dua mingguan ketika menjelang 2 tahun, Aa sakit, qadarullah demam, muntah hingga diare.. Momen ini yang ngebuat Uma jadi agak berat melanjutkan penyapihan malam. Karena sedih sekali melihat Aa lemas dan tidak mau makan.
Karena sapih siang sudah berhasil, Aa tetap disapih siang meski sakit. Tapi ketika malam uma jadi tidak membatasi lagi, karena keadaan Aa tidak memungkinkan.
PRnya selepas Aa membaik, Aa jadi mau mimi lagi. Padahal sebelumnya sudah lupa dan tidak minta mimi. Tak apa, anak sedang belajar, tetap sounding, gantikan dengan yang lain.
Kalau Uma, ketika penyapihan dan Aa agak lama nangisnya, kadang Aa dikasih uht yang plain ult*a atau diam*nd, tidak sering, hanya ketika keadaan tertentu saja. Kenapa tidak sufor? Karena memang Uma tidak meniatkan untuk menggantikan ASI, hanya selingan, sesekali.
Alhamdulillahnya sampai Aa 2 tahun penyapihan siang berhasil tanpa bolong. Sementara menyapihan malam berlanjut lagi selepas Aa sehat kembali. Aa lebih senang bermain sampai cape akhir2 ini. Jadi setelah cape, diusap2 ngga lama Aa tidur..
Sekitar 5 harian menuju Aa 2 tahun, Aa udah ngga minta mimi malam. Semisal bangunpun, sudah tidak mimi, usap2 Aa tidur lagi. Alhamdulillaah semua karena Allah izinkan, Allah mudahkan. Dan berkat bantuan dari suami juga semua bisa diusahakan. Barakallaah nak, In syaa Allah Aa lulus 2 tahun yaa.. Kita makan yang banyak, kita coba menu ini dan itu. Aa hebaatt, Uma bangga sekali sama Aa.
Itu sekilas perjalanan menyapih putra kami. Tak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Setiap anak punya cerita dan keunikan, sementara sang Ibulah yang lebih tahu bagaimana kesiapan anaknya. Betul bahwa sabar adalah kunci, doa, lalu ditambah dengan dukungan dan bantuan suami (atau orang terdekat) In syaa Allah lebih mudah prosesnya.
















